DI kampung kami, wak, orang lebih merasa tak sedap hati kalau dipanggil biawak ketimbang disebut buaya. Sebab, kalau buaya, paling-paling yang dimakannya induk ayam atau bapak ayam. Tapi kalau biawak, jangan ditanya! Telur ayam, anak ayam, induk ayam, bapak ayam, sampai ayam yang belum sempat berkokok pun diradaknya. Tak ada yang bersisa. Memang tak tahu adat binatang yang satu ini!
Lebih hebat lagi, biawak bukan memilih makanan. Yang segar dilahap, telor tembelang pun disikatnya. Bagi biawak, soal halal atau tidak, segar atau busuk, itu urusan belakang. Asal bisa ditelan, masuk perut. Kalau sudah begitu, ayam sekandang pun tak lagi merasa aman. Belum sempat beranak-pinak, sudah lebih dahulu masuk ke perut si biawak.
Sementara buaya, lain pula perangainya. Kalau sudah berat di darat, barulah disebut buaya darat. Itupun biasanya sibuk mengganggu perempuan. Kalau biawak, jangan harap! Di air, di darat, di lumpur, di semak, perangainya tetap sama. Tak pandang tempat, tak pandang keadaan. Apa saja yang melintas di depan mata, kalau bisa dimakan, dilahapnya. Memang biawak dikau ni!
Makanya, di negeri kita ini, keturunan biawak barangkali sudah semakin langka. Bukan karena tak ada, tetapi karena tak ada yang sudi mengaku. Kalau disebut biawak, melenting. Kalau dipanggil buaya, tersenyum pula. Padahal, kalau diperhatikan tabiatnya, kadang-kadang lebih rakus daripada biawak, lebih licin daripada belut, dan lebih pandai bersembunyi daripada musang.
Dalam khazanah sindiran binatang, kita pun teringat tausiah Ustaz Das’ad Latif yang pernah menyentil soal bajing dan bajingan. Katanya, bajing itu hanya makan kacang-kacangan. Tetapi bajingan, jangankan kacang, paku, besi, semen, bahkan apa saja yang bukan haknya pun sanggup ditelan. Kalau sudah begitu, bukan lagi soal lapar, tetapi soal perangai yang tak tahu batas.
Nah, dalam persilatan dunia perbinatangan ini, antara biawak dan bajingan rupanya jarang berpisah. Keduanya macam isi dengan kuku, bagai aur dengan tebing, selalu berdekatan dan saling melengkapi. Kalau yang satu mencari mangsa, yang satu lagi membuka jalan. Kalau yang satu menghabiskan isi kandang, yang satu lagi sibuk meyakinkan tuan kandang bahwa ayamnya masih lengkap.
Hebatnya, mereka pandai pula bersilat lidah. Kalau tertangkap basah, bukan mengaku salah, malah sibuk mencari alasan. Kalau ditanya ke mana ayam sekandang, jawabnya ayam sedang merantau. Kalau ditanya ke mana telur, katanya sedang dalam proses penetasan. Kalau ditanya ke mana kandang, dijawab pula kandang sedang direvitalisasi. Alamak, pandai sungguh mengarang cerita!
Padahal, dalam adat Melayu, ada tunjuk ajarnya: yang benar tetap benar, yang salah jangan dibenarkan. Marwah itu bukan sekadar elok disebut di balai adat, bukan pula sekadar indah dibaca dalam pidato. Marwah itu terlihat pada perangai, amanah, dan cara seseorang menjaga hak orang lain.
Orang tua-tua dahulu berpesan, kalau memelihara ayam, jagalah kandangnya. Kalau memegang amanah, jagalah haknya. Jangan sampai diberi kepercayaan menjaga reban, tetapi malah sibuk menghitung berapa banyak telur yang bisa dibawa pulang.
Sebab, biawak tetaplah biawak, bajingan tetaplah bajingan. Tak akan berubah perangai hanya karena memakai baju bagus, bersampin, berkeris, atau pandai berpantun di atas pentas. Dalam adat Melayu, elok rupa bukan ukuran, tinggi pangkat bukan jaminan. Yang menjadi ukuran ialah budi, amanah, dan malu.
Kalau sudah tak punya malu, apa lagi yang hendak dijaga? Kandang sudah kosong, ayam sudah habis, telur pun tinggal kulit. Yang tersisa cuma suara kokok dari kejauhan, sementara si biawak masih sibuk mengaku sebagai penjaga reban.
Memang biawak dikau ni!
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.












