ALLAH tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak mau merubah nasibnya sendiri”. (Surat Ar Ra’d ayat 11).
Ayat ini adalah pengingat yang penting dalam Islam. Ayat Ini berarti bahwa nasib seseorang atau suatu kaum tidak sepenuhnya ditentukan oleh takdir. Tetapi juga dipengaruhi oleh tindakan dan usaha mereka sendiri.
Hal ini bisa mengambarkan perjalanan hidup Abbas Chewang untuk merubah nasibnya sendiri sekaligus untuk mengangkat derajat keluarga dan kampung halamannya Sentajo.
Abbas memilih “Kota Pelajar” Yogyakara sebagai tempat untuk merubah nasibnya melalui pendidikan. Setelah gagal lulus di Universitas Gadjah Mada, dia memilih perguruan tinggi yang dikelola Persyarikatan Muhammadiyah sebagai tempatnya merendah masa depan. Ia kuliah akhir 1950-an hingga awal 1960-an.
Perjalanan
ABBAS lahir di Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi, Riau pada 1939. Dia merupakan anak kedua dari enam bersaudara pasangan Chewang dan Samsama. Saudara yang lain Mariana lahir 1936, Suraida (1943), Yulianis (1948), Sudirman (1951) dan Jufriadis (1955).
Di tengah keluarga Abbas lebih akrab disapa Abad atau Abad Chewang. Nama Chewang di belakang namanya merujuk kepada nama bapaknya (Chewang). Semasa hidup Chewang bekerja sebagai petani penyadap karet. Chewang juga dikenal sebagai orang cerdik dalam suku Melayu dan guru silat di Laman Pandekar Bertuah Sentajo.
Pendidikan dasar dilalui Abbas di SR Sentajo pada akhir tahun 1940-an. Kemudian pendidikan menengah PGA Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik. Setelah lulus PGA pertengahan tahun 1950-an, Abbas mengambil upah setrika baju untuk modal berangkat ke Yogyakarta.
Setelah dapat duit dirasa cukup Abbas berangkat ke kota Gudeg julukan lain Yogyakarta. Dan, selama kuliah dia mendapatkan kiriman dari ayahnya Chewang dan Mahmud gelar Pak Itam. Mahmud yang juga Ongku di Kenegerian Sentajo merupakan seorang guru yang juga suami dari Mani Kolang yang tinggal di Kampung Baru Sentajo.
Abbas juga bekerja sebagai kuli dan jual beli sepeda bekas di padar Yogyakarta. Hal itu dilakukannya karena uang kiriman dari kampung dirasa tidak mencukupi. Bersama teman seangkatan dan sekampungnya Muhammad di Yunus Hamzah yang kuliah di Pendidikan Hukum Islam Negeri (PHIN), Abbas juga aktif sebagai pengurus Pemuda Muhammadiyah.
Abbas juga aktifis Mesjid Syuhada, Yogyakarta. Kalau Abbas pulang kampung libur sekolah dia selalu bawa Kalender Mesjid Syuhada dan di bagikan di kampung. “Di rumah godang kami (Melayu) dulu banyak foto-foto Mesjid Syuhada Yogyakarta,” ujar Taswin Yac’ub yang juga ponakan Abbas.
Tamat kuliah dengan menyandang gelar Bachelor of Art (BA), Abbas merantau ke Jakarta. Di ibu kota negara itu, ia bekerja nyambi jadi guru mengaji. Sembari mengajar di sekolah, Abbas memanfaatkan waktu luangnya mengajar mengaji. Muridnya kebanyakan orang kaya dan anak pejabat tinggi negara.
Murid yang ikut mengaji bersama Abbas di antaranya adalah anak Mayor Jenderal TNI (Purn) Darmawel Ahmad, S.H. Terakhir sang jendral itu tinggal di Jalan Atletik No.8 RT.04/RW.02, Tanah Sareal, Kec. Tanah Sereal, Kota Bogor, Jawa Barat 16.
Darmawel Ahmad adalah tokoh militer. Ia pernah bertugas pada awal kemerdekaan di Kompi II pada Batalyon I di Indragiri di Rengat (1947-1949). Setelah pensiun dia dikaryakan jadi pejabat penting di Bank Indonesia.
Abbas juga mengajar mengaji anak Menteri Pertanian Kabinet Kerja Presiden Soekarno, Sadjarwo Djarwonagoro. Dia juga mengajar mengaji anak-anak pejabat tinggi lainnya di era terakhir kepimimpinan Presiden Soekano.
Sebagai guru Abbas terakhir mengajar di SMA Sumbangsih yang beralamat di Jalan Ampera Raya No. 3-4, Kota Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta sampai tahun 1996.
Nikahi Anak Murid
ABBAS menikah dengan anak gadis juragan Bemo bernama Aida. Konon kabarnya sang istri adalah murid mengajinya yang jatuh cinta kepada guru mengajinya. Inilah namanya cinta dari jantung turun ke hati.
Istrinya (Aida) asli orang Koto Rajo Baserah, Kuantan Hilir Seberang kelahiran Jakarta. Saat ini anaknya Muhammad Fadil tinggal di Koto Rajo Baserah. Dari pernikahan itu Abbas punya tiga anak yakni Muhammad Fais, Muhammad Noval, dan Muhammad Fadil.
Sementara dua adik Abbas yang menetap dengannya di Jakarta Sudirman dan Jufriadis dapat jodoh orang Betawi. Sudirman menikah dengan Atik sedangkan Jufriadis menikah dengan Yeyen yang juga adik kandung Atik.
Pada 1996 Abbas meninggal akibat jatuh saat hendak ke sekolah. Nasib tak dapat diraih, untung tak dapat ditolak. Ketika dilarikan ke rumah sakit nyawanya tidak tertolong. Dia meninggal dan di kebumikan di TPU Karet Tengsin, Jakarta.
Kepergian Abbas menimbulkan kenangan bagi keluarganya. Adik kandungnya Yulianis menyebut Abbas sosok abang yang baik, alim, memegang teguh agama, dan penyayang.
Sedangkan bagi ponakannya Yenni Satriani, pamannya (Abbas) adalah sosok yang murah senyum, dermawan, dan penyayang. “Mak Abad juga selalu memberi nasehat tentang pentingnya sekolah dan salat,” ujar Yenni.
Yenni yang akrab disapa “Ibu Sakai” ini adalah anak dari Yulianis adik Abbas yang menikah dengan Firdaus Oesman asal Koto Sentajo. Kini alumnus D-3 PMPKn Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh dan S-1 PMPKn Universitas Riama, Medan berkerja sebagai Cik Gu.
Yenni yang juga alumnus PPS Universitas Riau, Pekanbaru ini bertugas sebagai Kepala Sekolah SMP Negeri 8 Bathin Solapan, Jalan Simpang Puncak Km. 3 Desa Boncah Mahang Kecamatan Bathin Solapan, Bengkalis, Riau.
Dari Abbas kita belajar jika ingin merubah nasib berusahalah. Kejar ilmu setinggi langit.
Penulis: Sahabat Jang Itam







