TAK semua veteran yang ikut berdarah-darah dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI bernasib beruntung di hari tuanya. Terkadang disebabkan administrasi yang kurang lengkap saat screening (penyaringan) ada di antara mereka yang tidak dapat tunjangan pensiunan.
Ada juga yang diputuskan di tengah jalan karena saat di-screening ulang data mereka tidak lengkap. Kemudian ada juga yang malas mengurus karena tidak ada uang dan repot mengurus keluarga. Menyedihkan memang tapi itulah realitasnya betapa susahnya mendapatkan sebuah pengakuan di negara tercinta ini.
Yoenoes Ramli (baca Yunus Ramli) – seorang pejuang kemerdekaan dari Desa Tebing Tinggi Simandolak, Kecamatan Benai, Kuantan Singingi, Riau salah satu contohnya. Ketika Pemerintah mengeluarkan surat edaran agar pejuang kemerdekaan mengurus administari untuk pembayaran tunjangan di Kodim 0302/ Indragiri Hulu, Yunus memilih tidak ikut mengurus.
Alasannya sederhana seperti yang disampaikan anaknya Besmawati adalah, “Bapak pernah berkata tidak punya dana untuk pergi mengurusnya ke Rengat. Anak banyak, makanya Bapak tidak mendapatkan uang pensiun seperti kawan-kawan yang mengurus. Alhamdulillah kami semua anak Bapak sukses semua.”
Perjuangan bagi Yunus adalah soal keikhlasan. “Melihat kalian (anak-anak) bisa sekolah dan menikmati hidup adalah hal yang tidak ternilai bagi Bapak dan pejuang yang dulu ikut merebut dan mempertahankan kemerdekaan.” tambah Ibet panggilan akrab guru SMP Negeri 85 Batam, Kepulauan Riau mengingat kembali pesan orang tuanya.
Gajah Putih
YUNUS Ramli lahir di Kenegerian Simandolak tepatnya di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Benai pada 1919. Dia terlahir sebagai anak pertama dari dua bersaudara pasangan Ramli dan Ondek Lamit. Saudara kandungnya adalah Sariah. Kedua orang tuanya berasal dari Desa Pulau Lancang Simandolak yang diakhir hidupnya menetap di Desa Tebing Tinggi.
Yunus Ramli masuk militer pada 1936 tahun saat usianya baru 17 tahun. Diusia yang relatif muda tersebut dia sudah terlibat dalam berbagai medan pertempuran di Kuantan Singingi. Baik itu perang saat melawan pendudukan Jepang, perang melawan penjajah Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia pasca kemerdekaan maupun perang melawan tentara Pusat.
Namanya sebagai pejuang tertera di monumen Pejuang Gajah Putih Simandolak pada urutan ke 25. Monumen ini didirikan untuk memperingati perjuangan melawan Belanda tahun 1949 di Simandolak dan sekitarnya.
Monumen bersejarah itu terletak di Jalan Sudirman tepatnya di simpang tiga Lapau Gading, Desa Tebing Tinggi. Ada 25 nama pejuang yang tertulis di monumen itu. Yakni Zainoeddin, Djafar Tioes, Abd. Hasim, Abd. Syarif, Abu Bakar, Siamad, Roham, Hadris, Abd. Malik, Djalaloedin, Soelaiman, Zainoedin, Alinoesa, Abd. Madjid, M. Lasim, Abdoelah Sarif, Demar Maan, Aline, Moesa Saidimalin, Soemin, Moesa, Atit, H. Saliah, M. Soedin, Yoenoes Ramli (baca Yunus Ramli.
Biasanya setiap bulan Agustus pemuda Desa Tebing Tinggi bergotongroyong membersihkan dan mempercantik tugu tersebut. Ini adalah bentuk penghargaan atas jasa pahlawan yang telah berjuang dalam merebut dan mempertahan kemerdekaan bangsa Indonesia sekaligus bentuk tanggungjawab dan kepedulian terhadap sejarah bangsa.
Ikut PRRI
Tahun 1958 Yunus Ramli ikut bergabung dengan Pemerintah Revolusional Republik Indonesia yang disingkat PRRI yang dibentuk pada tahun 1958. Gerakan oposisi diprakarsai tokoh-tokoh daerah Sumatera yang mendapat dukungan luas sampai ke Kuantan Singingi.
Bersama kawan-kawannya Yunus Ramli berjuang melakukan perlawanan kepada Pemerintah Pusat di Sincalang atau Sialang, Gunung Kasiangan di Sibarakun, Lokuak Jalo – Kukok (Benai), Lokuak Pawuah (Simandolak).
Gerakan ini dipicu oleh ketidakpuasan terhadap pembangunan yang tidak merata, distribusi kekuasaan yang tidak adil, serta ketimpangan ekonomi antara Jawa dan daerah luar Jawa. PRRI menuntut perubahan sistem pemerintahan, otonomi daerah yang lebih besar dan pembangunan yang adil.
Namun akhirnya pelawanan Yunus dan PRRI berhasil ditumpas oleh Pemerintah Pusat melalui operasi 17 Agustus yang dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani. Bersama pasukan PRRI dia ikut menyerahkan diri kembali kepangkuan NKRI pada Oktober 1961.
Penyerahan itu tentara PRRI yang selama ini bergeliya di hutan-hutan disejalankan dengan pemberian amnesti dan abolisi kepada para pemimpin dan pengikutnya melalui Keputusan Presiden RI Nomor 322 Tahun 1961.
Canciluak
YUNUS Ramli di kampuang halamannya (Simadolak) dikenal dengan sapaan “Unut Cincaluak.” Nama itu diberikan karena dia pandai memasak dan senang sekali menyantap kuliner tradisional asal Kuantan Singingi yang lazim disebut “pakasam”.
Kuliner yang terbuat dari udang yang dicampur nasi lalu direndam sampai masam. Rasanya Mak Nyuusssssssssssss. Apalagi kalau dicampur sambal lada dan terasi. Sekali coba anda akan ketagian. Tak percaya please …
“Canciluak” kini mulai ditinggalkan generasi zaman old. Namun bagi anak-anak Yunus Ramli “canciluak” buatan tidak akan pernah dilupan. Kami rindu cinciluak masakan Bapak,” ujar Ibet.
Anak Berhasil
YUNUS Ramli menikah dengan seorang guru mengaji bernama Aminah dari Tebing Tinggi. Aminah pernah sekolah di Diniah Putri Padang Panjang, Sumatera Barat. Dari pernikahan itu dia punya sembilan anak yang berhasil berkat didikannya yang keras.
Anak pertamanya Ahmad Jufri kelahiran 1955 terakhir pensiunan sebagai Pengawas Dinas Pendidikan di Kota Dumai. Kemudian Misnawati lahir 1957 pernah Guru MTS Babusalam Tebingtinggi, Armain lahir 1959 pernah jadi guru SD Pelanduk dan Selensen Kabupaten, Indragiri Hilir. Lalu Karneti lahir 1961 terakhir guru SMP Negeri 1 Taluk Kuantan, Elmiartati lahir 1963 terakhir Guru SD Selensen, Indragiri Hilir.
Dua anaknya Junaida kelahiran 1966 dan Lismawati kelahiran 1967 merupakan PT Siak Raya Timber. Dua anaknya berkerja di Batam, Kepulauan Riau yakni Masdianto kelahiran 1968 di Dinas Kesehatan dan Besmiwati kelahiran 1970 guru SMP Negeri 58.
Sampai akhir hayat Yunus Ramli ditakuti dan disegani oleh masyaralat Kenegerian Simandolak dan 4 Koto Benai. Dia meninggal dunia diusia 85 tahun pada 9 Mei 1999. Di kebumikan di Desa Tebing Tinggi Simandolak.
Di mata anaknya Besmiwati, bapaknya (Yunus Ramli) adalah sosok yang tegas dan keras. “Berkat didikan seperti itu kami bisa menjadi orang yang berguna bagi bangsa ini. Kalau kami tak sekolah atau main-main dalam belajar kami langsung dihukum oleh Bapak,” kenang Ibet.
Menurut Ibet dalam pergaulan Bapaknya berpesan “Jangan menggangu orang lain kalau kamu tidak mau diganggu. Kalau kamu dipukul orang satu kali diam saja. Dua kali diam saja. Ketiga kalinya langsung kamu hajar.”
Waktu sekolah dulu Bapak selalu pesan. “Kamu jangan mengenal laki-laki dulu sebelum kamu sukses. Kalau kamu bodoh kamu akan dijajah seperti jaman penjajahan dulu. Jangan pernah lengah. Gunakan waktumu sebaik mungkin”.
Itulah Yunus Ramli – seorang pejuang kemerdekaan yang tak pernah menuntut pensiunan yang menjadi haknya. Segala sesuatu itu memang butuh uang. Tapi uang bukanlah segala-galanya untuk sesuatu. Apalagi dalam sebuah perjuangan, keberhasilan itu nilainya lebih tinggi dari uang.
Selamat jalan Pahlawanku.
Sehabat Jang Itam: 15-09-2025







