RiauKepri.com, SIAK– Langit Dusun Mungkal masih diliputi kabut pagi ketika azan berkumandang dari Masjid Sabilul Hidayah, yang berdiri kokoh di tengah rimbun pepohonan bakau dan aliran sungai yang tenang. Di masjid yang baru diresmikan itu, Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, berdiri bersama warga, menyaksikan bukti nyata solidaritas masyarakat.
Masjid itu tak dibangun oleh kontraktor besar, melainkan hasil infaq dan sedekah jamaah Jumat dari seluruh penjuru Kabupaten Siak. Dari tangan rakyat, untuk rakyat. “Alhamdulillah, ini berkah dari kebersamaan,” ujar Afni.
Masjid ini menjadi simbol, bahwa pembangunan tidak harus selalu dimulai dari pusat kekuasaan, tapi bisa tumbuh dari akar rumput yang paling dalam.
Peresmian masjid di pedalaman Sungai Apit itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-26 Kabupaten Siak. Bukan seremoni mewah di gedung megah, melainkan perayaan sederhana dan menyentuh. Santunan untuk masyarakat, khitan massal dari Baznas, dan perjalanan panjang menyusuri kampung-kampung dengan kapal, adalah cara pemerintah daerah ini merayakan bertambahnya sekebat usia yang baru.
Menempuh Lima Jam dengan Kapal
Setelah meninggalkan Mungkal, rombongan Bupati melanjutkan perjalanan ke Teluk Lanus. Waktu tempuhnya tak main-main, lebih dari lima jam menggunakan kapal, menembus sungai, rawa, dan hutan. Bupati dan rombongan tidak datang untuk seremoni formal, tetapi untuk bermalam dan menyatu bersama warga.
Di Teluk Lanus, acara akan berlanjut dengan Jumat Bersedekah. Sedangkan di Kota Siak, seluruh pejabat Siak, diserukan Bupati Afni, untuk turun langsung mengetuk pintu rumah-rumah rakyat, menyerahkan sembako yang dikumpulkan dari sedekah kolektif ASN.
“Kami tidak ingin sekadar hadir. Kami ingin menyapa, mendengar, dan menyentuh langsung kehidupan rakyat,” ujar Afni.
Bersama Baznas, Bupati Afni juga membagikan foto-foto Sultan Siak dan Permaisuri kepada warga. Tak sedikit dari mereka yang mengaku baru pertama kali melihat wajah sang tokoh yang menjadi kebanggaan negeri ini.
“Ini bagian dari edukasi sejarah, bahwa identitas budaya harus ditanam sejak rumah, sekolah, dan tempat umum,” ungkap Afni.
Mengejar yang Tak Bisa Datang
Perayaan ulang tahun kali ini bukan tentang panggung, spanduk, atau pesta rakyat yang riuh. Di Teluk Lanus, Bupati Afni menyatu dengan rakyatnya dalam permainan tradisi, ketawa bersama anak-anak, dan berinteraksi langsung antara pemerintah dan masyarakat.
Setelah itu, Bupati Afni dan rombongan naik sepeda motor trail, menyusuri jalan tanah dan gambut tanpa lampu penerangan, mendatangi rumah-rumah warga yang sudah sepuh dan tak mampu berjalan jauh ke lokasi acara. Di sana, bantuan diberikan langsung dari tangan bupati ke tangan rakyat.
“Banyak dari mereka tak menyangka rumahnya akan didatangi. Ada yang menangis, ada yang hanya diam dan menggenggam tangan saya kuat-kuat,” ujar Afni.
Di tengah gelapnya malam dan sulitnya akses jalan, satu pesan yang ingin disampaikan Bupati Afni, pemerintah hadir, bukan hanya di pusat kota, tapi hingga ke sudut-sudut kampung yang jauh dari sorotan.
Malam itu, Teluk Lanus tak diselimuti sunyi, ada rasa hangat dari pemimpin yang datang bukan untuk berbicara di podium, melainkan untuk duduk di teras rumah rakyat dan mendengarkan.
Pembangunan dari Pinggir
Ulang tahun ke-26 Siak menjadi momentum refleksi. Bukan hanya soal usia, tapi soal arah pembangunan. Dari Mungkal hingga Teluk Lanus, dari suara azan hingga suara motor trail yang memecah malam, perayaan itu menjadi simbol pergeseran bahwa pembangunan sejati tak hanya dimulai dari pusat, tapi juga dari pinggiran.
Dari pinggiran inilah, Kabupaten Siak menunjukkan bahwa makna pelayanan publik bisa dimulai dengan satu langkah sederhana, mengetuk pintu rumah rakyat. (RK1)










