Menu

Mode Gelap
Satresnarkoba Polres Bengkalis Amankan Dua Pelaku Penyalahgunaan Sabu di Bathin Solapan Jalan Bandes Duri Barat Jadi Lokasi Pengungkapan Sabu 10,70 Gram oleh Polres Bengkalis Satresnarkoba Polres Bengkalis Ringkus Dua Pelaku Narkotika di Jalan Jawa Gg Aneka dan Jalan Alhamrah Mandau Ruang Asa Project Bersama HIMA Fisioterapi Universitas Awal Bros Hadirkan Kepedulian untuk Lansia Lewat Program “Lansia Sehat” Global Sumud Flotilla for Gaza ‎Miliki Sekretariat Sendiri, KCMI Anambas Siap Perkuat Program Organisasi

Riau

Tangisan Bupati Siak: Air Mata Pemimpin untuk Keringanan Hukuman Rakyatnya

badge-check


					Seorang terdakwa menangis, terharu, atas keiklasan Bupati Afni yang berupaya membela mereka. Perbesar

Seorang terdakwa menangis, terharu, atas keiklasan Bupati Afni yang berupaya membela mereka.

RiauKepri.com, PEKANBARU- Ada tangis yang bukan karena kalah, tapi karena terlalu cinta. Di ruang sidang yang penuh ketegangan, hari itu, seorang perempuan berumur 40 tahun berhenti bicara. Bukan karena tak tahu harus berkata apa, tapi karena dadanya terlalu sesak, sebak menanggung duka. Itulah Dr. Afni Zulkifli, Bupati Siak, yang air matanya jatuh bukan untuk dirinya, tapi untuk dua belas rakyatnya, warga Desa Tumang yang kini duduk sebagai terdakwa di hadapan hukum.

Dalam persidangan konflik antara masyarakat Desa Tumang dengan perusahaan PT SSL, Kamis (16/10/2025), itu berubah menjadi lautan emosi yang nyilu ke hati. Bupati Afni, perempuan pertama yang memimpin Siak, semula bicara tegas, lantang, menyampaikan kesaksiannya. Namun tak lama, suaranya mulai berat, lalu bergetar, dan akhirnya pecah dalam tangis. Ia menghentikan kata-kata, menghela napas panjang, menyeka air mata yang tak kuasa dibendung.

Tangisnya bukan untuk panggung. Tangis itu datang dari hati seorang ibu yang tak sanggup melihat anak-anaknya dihukum karena mereka marah-marah karena merasa terpojok, marah karena merasa tak lagi punya ruang untuk mengadu. “Saya minta keringanan hukuman kepada masyarakat saya, Pak Hakim,” ucap Afni lirih, dengan suara tercekat.

Di bagian kanan Afni, terlihat dua belas pasang mata menunduk, mereka haru sekaligus bangga dengan pemimpinnya yang begitu iklas membela rakyatnya. Ruang sidang seketika hening dan diselimuti harapan para terdakwa, karena beberapa dari masih muda, dan beberapa orang lainnya punya anak-anak yang menunggu orangtuanya pulang.

Bupati Afni tak sekadar hadir sebagai pejabat, tapi sebagai saksi, sekaligus pelindung bagi mereka yang sudah terlanjur jatuh ke lubang konflik. “Ini salah kita semua. Mari kita bersama-sama membangun Siak yang bermarwah dan bermartabat,” katanya, menahan air mata. Ia tidak membenarkan kekerasan, tidak pula membela yang salah, tapi ia juga tidak menutup mata bahwa ada pemicu, ada luka yang dibiarkan menganga terlalu lama.

“Saya ingin jadi ibu yang baik, bagi rakyat dan juga perusahaan. Tapi jangan pula perusahaan jadi anak durhaka,” kata Afni. Kalimat yang menggetarkan ruang sidang, menyisakan sunyi yang menggantung lama. Ia menyesalkan sikap PT SSL yang disebutnya tidak pernah berkomunikasi baik, tidak pernah menghormati pemimpin daerah, hingga akhirnya memicu ledakan amuk rakyat.

“Saya mohon kepada Yang Mulia,” katanya lagi, “bukan untuk membenarkan anarkisme, tapi karena perusahaan juga tidak elok, dan tidak menghormati kami. Konflik ini punya pemicu yang nyata, dan karena itu rakyat kami jadi rentan salah jalan.”

Sementara itu, di sudut ruang sidang, seorang lelaki tua menggigit bibir, matanya basah. Dialah Minan, Penghulu Kampung Tumang, juga terdakwa yang tak kuasa menahan haru. “Terima kasih, Ibu Bupati, sudah datang bersaksi untuk kami,” katanya pelan, nyaris berbisik, namun cukup kuat untuk membuat sebagian yang hadir menunduk, menyeka mata.

Hari itu, di balik aturan hukum, ada kemanusiaan yang mengalir lewat air mata seorang bupati. Ia tak datang membawa kuasa, tapi membawa cinta dan ketulusan. Semoga, dari ruang sidang itulah, Siak belajar, bahwa keadilan tak hanya soal hukuman, tapi juga tentang keberanian seorang pemimpin menangis dan berdiri untuk rakyatnya. (RK1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ruang Asa Project Bersama HIMA Fisioterapi Universitas Awal Bros Hadirkan Kepedulian untuk Lansia Lewat Program “Lansia Sehat”

25 Mei 2026 - 08:10 WIB

Tim FIB UNILAK Laksanakan Pengabdian Masyarakat Usung Randai Kuantan Singingi di SMAN 10 Pekanbaru

24 Mei 2026 - 22:17 WIB

Kurban Masjid Ar-Rahim Gading Marpoyan Ditargetkan 16 Ekor Sapi

24 Mei 2026 - 20:43 WIB

Zikir Listrik

24 Mei 2026 - 07:32 WIB

Adat Merantau

23 Mei 2026 - 09:26 WIB

Trending di Minda