RiauKepri.com, PEKANBARU- Asap pekat menggantung rendah di langit Desa Damai, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau, Rabu (11/2/2026). Di balik jerebu itu, petugas terlihat menyusuri semak belukar, memikul selang air, dan menantang panas bara yang menyala di kedalaman gambut.
Sudah enam hari lamanya mereka berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang pertama kali terdeteksi pada Kamis (5/2/2026) pagi. Titik api berada di lahan masyarakat, namun cepat menjalar karena kondisi gambut yang kering kerontang.
Sejak pagi hingga sore, para petugas nyaris tanpa jeda. Mereka harus membelah rimbunnya semak, melangkah hati-hati di atas tanah gambut yang rapuh, sembari memastikan api tak merambat lebih jauh.
Panas berdekang dari bara di bawah permukaan kerap mengejutkan, membuat langkah harus semakin waspada.
“Setelah mendapat laporan, anggota Polsek Bengkalis langsung bergerak ke lokasi memadamkan api,” ujar Kapolres Bengkalis, AKBP Fahrian Saleh Siregar.
Menurut Fahrian, pemadaman melibatkan 69 personel gabungan dari Polri, TNI, Damkar, BPBD Bengkalis, Dinas Perhubungan, serta masyarakat setempat. Memasuki hari keenam, luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 15 hektar.
Dari total tersebut, sekitar 7 hektar telah berhasil dipadamkan, sementara 8 hektar lainnya masih dalam proses pendinginan. Asap tipis masih terlihat mengepul di sejumlah titik, tanda bara di dalam gambut belum sepenuhnya jinak.
“Kondisi lahan yang terbakar didominasi hutan dan semak belukar, dengan vegetasi tanaman paku dan pepohonan mahang. Ada juga lahan olahan milik masyarakat yang ditanami karet dan kelapa sawit,” ungkap Fahrian.
Minimnya sumber air menjadi tantangan utama dan persoalan klasik Karhutla. Petugas harus memaksimalkan air yang tersisa untuk membuat sekat bakar, agar api tidak meluas mendekati permukiman warga. Di beberapa titik, mereka bergantian memompa dan menyemprotkan air, memastikan setiap percikan bara benar-benar padam.
“Sumber air minim menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman. Setelah lokasi diguyur hujan, sebagian besar api di permukaan lahan padam. Namun masih terdapat sisa asap di beberapa bagian,” ujar Fahrian.
Di sela tugas berat itu, warga sekitar turut membantu, mulai dari menunjukkan akses jalan setapak hingga menyuplai kebutuhan logistik sederhana. Kekhawatiran akan dampak asap terhadap kesehatan anak-anak dan lansia menjadi dorongan kuat bagi semua pihak untuk menuntaskan pemadaman.
Sementara itu, Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Putri Santy S, mencatat total 390 titik panas (hotspot) terdeteksi di Pulau Sumatera pada Kamis (12/2/2026). Provinsi Riau menjadi penyumbang terbanyak dengan 275 titik panas. Rinciannya, Kabupaten Bengkalis tercatat paling tinggi dengan 155 titik panas, disusul Pelalawan 60 titik, Indragiri Hilir 34 titik, Rokan Hilir 11 titik, Kota Dumai 6 titik, Siak 4 titik, Kampar 2 titik, Kuantan Singingi 2 titik, dan Rokan Hulu 1 titik.
Polisi saat ini masih menyelidiki penyebab kebakaran dengan mengumpulkan bukti dan meminta keterangan saksi serta pemilik lahan. “Untuk penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan,” ucap Fahrian. (RK1/*)







