RiauKepri.com, SIAK- Simposium Siak sebagai Pusat Kebudayaan Melayu hari Selasa (10/2), masih terfokus pada keadaan Siak Sri Inderapura masa klasik. Berbagai informasi, bahkan yang dasar sekalipun, tidak dikemukakan sehingga peradaban yang dibangun Siak tidak dapat diresapi secara utuh.
Demikian budayawan penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia serta Penghargaan 40 Tahun Berkarya Sastra dari Kementerian Pendidikan (2021 – 2024) Drs H. Taufik Ikram Jamil, M. I. Kom, ketika dimintai tanggapannya terhadap simposium tersebut.
“Ini tanggapan pribadi saya sebagai anak dari peradaban Siak, khususnya dari Provinsi Merbau dalam Kerajaan Siak Sri Inderapura,” kata lelaki yang biasa disapa TIJ itu.
Menurut TIJ, kajian kebudayaan Melayu, senantiasa mengacu pada tiga masa yakni kuno, klasik, dan modern. Perbedaan kuno dengan klasik, paling mendasar adalah kuatnya pengaruh Islam, mulai terasa pada abad ke-14 dan mengalami puncak pada abad ke-19. Setelah masa itu, sampai sekarang disebut masa modern.
Menurut Taufik, dalam simposium itu juga masih membicarakan Siak saat Raja Kecik bertapak di Buantan setelah perseteruan dengan iparnya di Bintan pada awal abad ke-18. Tapi Raja Kecik tidak datang di wilayah yang kosong. Ia berkolaborasi dengan kekuatan kedaulatan sebelumnya dalam bentuk kebatinan dan kedatuan seperti Sakai, Akit, dan Gasib.
Taufik mengingatkan, meski sudah amat melemah, Gasib pernah menjadi kekuatan besar di Nusantara. Ini diakui berbagai kalangan termasuk budayawan Betawi almarhum Ridwan Saidi. “Posisinya strategis, sehingga Melaka perlu mendudukinya pada abad ke-15, ratusan tahun sebelum Raja Kecik naik takhta,” kata Taufik yang juga Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian Lembaga Adat Melayu Riau (Ketum DPH LAMR) Provinsi Riau.
Sementara di sisi lain, sumber-sunbet sejarah menyebutkan Gasib merupakan sisa pengaruh Sriwijaya yang salah satu pusatnya berada di Muara Takus, Kampar. Belum lagi menelisik batin-batin di serata Kerajaan Siak, menganut sistem kekerabatan materilineal untuk melengkapi sistem patrilinel yang dibawa Raja Kecik. Ia memiliki hubungan biologis dengan raja-raja lain di Riau ini yang sekarang bersatu dalam dimensi sejarah sehingga tidak boleh dipisahkan.
Mengenai istilah pusat kebudayaan, Taufik menggariskan bahwa secara emperis kebudayaan, tidak mungkin ada pusat. Kalaupun ada pusat, ia berlaku di suatu tempat. Kebiasaan Sakai, tidak bisa dijadikan kebiasaan di Merbau atau Bunga Raya, begitu juga sebaliknya.
Kesan lain, tambah Taufik, simposium tersebut nyaris terjebak pada posisi Siak sebagai kabupaten, malah kecamatan. “Jadi, penting dikembalikan bagaimana orang Rohil, Meranti, Bengkalis, Dumai, bahkan Pelalawan sampai Tamiang Aceh dan Sambas Kalbar, merasa memiliki Siak,” pungkasnya. (RK3)







