Menu

Mode Gelap
Satresnarkoba Polres Bengkalis Amankan Dua Pelaku Penyalahgunaan Sabu di Bathin Solapan Jalan Bandes Duri Barat Jadi Lokasi Pengungkapan Sabu 10,70 Gram oleh Polres Bengkalis Satresnarkoba Polres Bengkalis Ringkus Dua Pelaku Narkotika di Jalan Jawa Gg Aneka dan Jalan Alhamrah Mandau Ruang Asa Project Bersama HIMA Fisioterapi Universitas Awal Bros Hadirkan Kepedulian untuk Lansia Lewat Program “Lansia Sehat” Global Sumud Flotilla for Gaza ‎Miliki Sekretariat Sendiri, KCMI Anambas Siap Perkuat Program Organisasi

Riau

Sultan Asam Urat

badge-check


					Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

WAK, zaman kenen memang banyak perkara yang buat dahi berkerut, tapi ada juga yang bikin perut sakit menahan ketawa sambil mengilai. Salah satunya soal munculnya “Sultan Siak ke-13” yang lebih dulu terkenal bukan karena daulatnya, tapi karena tempat penabalannya di rumah makan.

Padahal kita semua tahu, ketika Sultan Syarif Kasim II menyatakan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka tamatlah sudah sistem pemerintahan Kesultanan Siak Sri Indrapura sebagai sebuah kekuasaan. Yang tinggal hanyalah sejarah, adat, dan garis keturunan.

Artinya jelas, Wak. Tidak ada lagi Sultan ke-13 dalam konteks berdaulat. Lagi pula kawan kita orang Cino cakap, angka 13 ini angka sial. Adoi, celaka 12 jadinya.

Kalau ada yang mengaku-ngaku Sultan ke-13, itu bukan melanjutkan sejarah tapi itu membuat cerita baru yang kadang lebih mirip film Nujum Pak Belalang daripada hikayat.

Lucunya Wak, penabalan yang katanya sakral itu justru berlangsung di rumah makan. Entah siapa pula yang jadi “datuk dadakan” mungkin sambil pesan gulai dan teh tarik. Kalau begitu, jangan heran kalau daulatnya pun ikut-ikutan, datang dan pergi seperti uap nasi panas.

Dalam adat Melayu Kerajaan Siak, penabalan sultan bukan perkara main-main. Ada Datuk Empat Suku yakni, Tanah Datar, Limapuluh, Pesisir, dan Kampar, yang punya hak dan kewenangan. Mereka ini ibarat tiang seri adat, bukan sekadar pelengkap acara. Dan penabalan itu dilakukan di istana, bukan di meja makan sambil menunggu sambal belacan Bandul siap digiling.

Istana itu lambang marwah, bukan sekadar tempat duduk empuk ber-AC. Maka ketika ada “Sultan” lahir dari rumah makan, pantaslah orang kampung berbisik, “Ini sultan berdaulat pada lauk-pauk saja. Daulatnya mungkin kuat pada gulai lemak, tapi goyah pada sejarah.”

Lebih lucu lagi, Wak, muncul istilah baru di kedai kopi: “Sultan asam urat.” Bukan karena gelarnya tinggi, tapi karena berdiri lama saja sudah mengeluh. Daulat belum sempat ditegakkan, lutut letoi, mengigil minta duluan duduk.

Kalau ditanya wilayah kekuasaannya, jawabnya masih kabur. Kalau ditanya rakyatnya, mungkin yang sedang makan di situ saja yang dihitung. Selesai makan, habislah pula “rakyatnya.”

Padahal yang benar-benar punya garis keturunan justru banyak yang diam. Mereka tahu diri, tahu adat, dan tahu sejarah. Mereka tidak perlu mengaku, karena marwah itu dijaga, bukan dipamerkan.

Adat Melayu mengajarkan, tinggi bukan pada gelar, tapi pada tahu diri. Kalau sekadar pakai mahkota tapi tak paham makna, itu sama saja seperti pakai songkok terbelokung, nampak tapi tak patut.

Jangan sampai pula nanti, karena terlalu asik bermain peran, yang bersangkutan lupa bahwa kerajaan itu sudah lama menjadi bagian dari republik. Jangan pula bila ditegur, malah tersinggung, mengensing, dan mengelak.

Menenguk kelaku raja asam urat ini, Wak, lebih baik kita tertawa saja daripada marah. Sebab, kadang yang terlalu serius justru jadi bahan gurauan orang kampung. Tapi dalam tawa itu, ada pesan, jangan mainkan adat hanya untuk kepentingan diri. Sebab adat itu pusaka, bukan properti sandiwara.

Kalau betol hendak dihormati, hormatilah dulu sejarahnya. Kalau ingin diakui, pahamilah dulu batasnya.

Singkat cerita, biarlah “Sultan asam urat” itu jadi cerita di warung kopi saja. Jangan sampai anak cucu kita nanti bingung membedakan mana sejarah, mana senda gurau. Dan jangan kita kecilkan diri dengan sandiwara yang jadi bahan ketawa daripada jadi kebanggaan. Sebab, dalam adat yang paling tinggi bukanlah gelar tapi tahu diri. Suai…!?

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ruang Asa Project Bersama HIMA Fisioterapi Universitas Awal Bros Hadirkan Kepedulian untuk Lansia Lewat Program “Lansia Sehat”

25 Mei 2026 - 08:10 WIB

Global Sumud Flotilla for Gaza

25 Mei 2026 - 08:06 WIB

Tim FIB UNILAK Laksanakan Pengabdian Masyarakat Usung Randai Kuantan Singingi di SMAN 10 Pekanbaru

24 Mei 2026 - 22:17 WIB

Kurban Masjid Ar-Rahim Gading Marpoyan Ditargetkan 16 Ekor Sapi

24 Mei 2026 - 20:43 WIB

Zikir Listrik

24 Mei 2026 - 07:32 WIB

Trending di Minda