RiauKepri.com, PEKANBARU– Tiga novel karya penulis asal Pahang, Malaysia dibedah dalam kegiatan “Bedah Buku Sastra Pahang dalam Perspektif Sastra Melayu Riau: Dialog Budaya Lintas Negara” yang digelar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Lancang Kuning (Unilak), Kamis (4/6/2026).
Tiga novel yang dibahas yakni Ibuku Srikandi dan Suria di Tanjung Penaga karya Prof. Emeritus Dato’ Dr. Hj. Mohd. Mansor bin Abdullah serta Taqdir karya Tn. Hj. Abd. Rahman bin Hj. Yusof.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Perpustakaan Unilak itu menghadirkan tiga kritikus sastra asal Riau, yakni Prof. Dr. Junaidi, S.S., M.Hum., Ph.D, H.M. Husnu Abadi, S.H., M.Hum., Ph.D, dan Dr. Bambang Karyawan, M.Pd.
Dekan FIB Unilak, Dr. Mohd. Fauzi, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mempererat kerja sama antarnegara sekaligus memperkuat sinergi akademik melalui kajian sastra Melayu.
Menurutnya, karya sastra dari Malaysia dan Riau memiliki kedekatan nilai karena berasal dari akar budaya Melayu yang sama.
“Melalui bedah novel ini, nilai-nilai filosofis dan makna yang terkandung dalam karya sastra dapat digali dan dibagikan kepada mahasiswa. Meski berasal dari negeri jiran, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya memiliki kesamaan secara universal sebagai bagian dari rumpun Melayu,” ujarnya.
Salah seorang pembedah buku, Prof. Dr. Junaidi, menilai karya sastra Malaysia dan Indonesia, khususnya di wilayah Riau, memiliki banyak nilai luhur yang dapat dijadikan bahan refleksi bersama.
Dalam pemaparannya terhadap novel Ibuku Srikandi, ia mengangkat tema “Konstruksi Kepemimpinan Perempuan Melayu dalam Novel Ibuku Srikandi”.
Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Melayu, Sastra Indonesia, Sastra Inggris, dan Ilmu Perpustakaan. Hadir pula sejumlah seniman dan budayawan Riau, perwakilan Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, Balai Pelestarian Kebudayaan, Balai Bahasa Provinsi Riau, Forum Lingkar Pena, serta kepala sekolah SMA di Pekanbaru.
Usai sesi bedah buku dan diskusi, kegiatan ditutup dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Unilak dan rombongan Pahang yang tergabung dalam Dewan Persuratan Melayu Pahang (DPMP).
Presiden DPMP, Prof. Emeritus Dato’ Dr. Hj. Mohd. Mansor bin Abdullah, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan bedah buku tersebut.
Menurutnya, kegiatan itu menjadi bentuk penghargaan terhadap karya-karya penulis Pahang sekaligus bukti komitmen Unilak dalam memajukan kebudayaan Melayu.
Ia juga mengaku terkesan dengan nama Universitas Lancang Kuning yang diambil dari simbol kemaritiman Melayu.
“Kegiatan hari ini membuktikan komitmen Universitas Lancang Kuning terhadap kebudayaan Melayu secara global. Saya mengucapkan terima kasih atas penghargaan yang diberikan kepada para penulis Pahang,” ujarnya. (RK17)







