DALAM adat Melayu, kalau ada anak kampung hendak merantau, biasanya bukan kompang yang berbunyi dulu, melainkan suara emak yang tersekat di kerongkong dan air mata yang jatuh ke lantai rumah. Kepergian seorang perantau bukan perkara kecil. Ia berangkat membawa harapan, membawa nama keluarga, membawa marwah kampung, bahkan kadang-kadang membawa utang warung yang belum sempat dibayar. Alamak!
Orang tua Melayu sejak dahulu selalu berpesan, “Pandai-pandailah membawa diri di negeri orang. Carilah kasih sayang manusia, jangan cari pasal. Hormati orang tua, sayangi yang muda, dan jangan lupa asal-usul.”
Pesan itu bukan sekadar petuah untuk didengar sambil lalu. Orang Melayu percaya, jika seseorang pandai menjaga budi pekerti, maka rezekinya akan dibukakan Allah melalui tangan manusia. Bila orang sudah kasih kepada kita, jangankan membantu pekerjaan atau memberi tempat berteduh, kadang-kadang anak gadisnya pun rela dipinang. Bukan karena harta, tetapi karena tahu perangai dan budinya baik.
Sebab itulah, apabila seorang perantau pulang dengan membawa keberhasilan, masyarakat kampung kami, Wak, menyambutnya dengan sukacita. Ada yang menabur beras kunyit, ada yang mengalunkan selawat, ada pula yang mengompang dengan penuh kebanggaan. Kompang itu bukan bunyi kulit kambing semata, tetapi bunyi penghormatan kepada anak kampung yang berhasil menjaga nama baik tanah kelahirannya.
Namun dalam budaya Melayu, kompang juga boleh menjadi bahasa sindiran, Wak.
Jangan sampai seorang perantau diantar pergi dengan kompang yang terlalu meriah. Orang kampung pun mulai bertanya-tanya: “Ini diantar merantau atau diarak karena sudah lama membuat pening kepala satu kampung?”
Kalau beras kunyit ditabur berlebihan, jangan-jangan itu bukan doa keberangkatan, melainkan tanda syukur masyarakat kerana akhirnya ada juga hari tanpa mendengar keluh-kesah akibat ulahnya. Orangtua tidak lagi dipanggil ke rumah tetangga untuk meminta maaf. Ketua RT tidak lagi menjadi juru damai setiap minggu. Dan warung kopi pun mendadak sepi dari laporan degilnya budak tu.
Begitulah halusnya orang Melayu menyampaikan sindiran. Tidak menjerit, tidak memaki, tetapi cukup dengan simbol dan isyarat. Sebab dalam adat Melayu, yang tajam bukan kerisnya, melainkan makna di balik perlakuannya.
Maka wahai anak-anak perantau, kalau suatu hari kalian diantar dengan doa dan tangisan, bersyukurlah. Itu tanda kalian dicintai. Tetapi kalau satu kampung mengompang dengan wajah terlalu gembira sampai ada yang menambah rebana dan marwas, eloklah bermuhasabah dahulu. Barangkali masyarakat bukan sedih melepas kepergianmu, melainkan sedang merayakan ketenangan yang akan mereka nikmati setelah engkau berangkat.
Itulah Melayu. Menegur tidak melukai, menyindir tidak mempermalukan, tetapi pesannya sampai terus ke dalam hati.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.







