#kepedulian BRK Syariah membantu seorang ibu di Kepulauan Anambas menjaga mimpi anak-anaknya tetap hidup
RiauKepri.com, ANAMBAS – Langit Desa Mengkait masih gelap ketika Linda memulai langkah pertamanya. Jarum jam bahkan belum menunjukkan pukul empat pagi. Dalam sunyi yang hanya ditemani suara ombak, perempuan berusia 40 tahun itu mendorong gerobaknya menuju sebuah sumur yang menjadi sumber kehidupan warga desa.
Bagi masyarakat di banyak kota, air bersih mungkin hanya sejauh memutar keran. Namun di Desa Mengkait, Kabupaten Kepulauan Anambas, air harus dijemput dengan tenaga, lalu diantarkan satu per satu ke rumah-rumah penduduk.
Desa kecil di gugusan pulau terluar Indonesia itu hanya dapat dijangkau menggunakan speedboat setelah perjalanan dari ibu kota kecamatan. Laut bukan sekadar bentang alam, melainkan jalan utama yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai layanan. Di pulau itu belum tersedia kantor bank, rumah sakit, maupun pusat pelayanan publik selain kantor desa. Keterbatasan tersebut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang diterima masyarakat dengan keteguhan.
Di tengah kondisi itulah Linda menjalani dua pekerjaan sekaligus. Selain sebagai tenaga kebersihan desa, ia mengangkut air bersih untuk dua keluarga pelanggan tetap. Setiap hari sekitar sepuluh jeriken air dipindahkan dari sumur menuju rumah-rumah warga.
Pekerjaannya belum selesai di situ.
Ketika warga membeli bahan bakar di SPBU mini yang berada di dataran lebih tinggi, Linda kembali mendorong gerobaknya. Tidak semua orang memiliki sarana untuk membawa minyak hingga ke rumah. Di situlah tenaganya kembali dibutuhkan.
“Pekerjaan ini memang berat, tetapi selama badan masih kuat saya akan terus bekerja. Semua ini untuk anak-anak,” ujarnya sambil tersenyum.
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan alasan terbesar mengapa Linda tidak pernah menyerah.
Sebagai ibu yang membesarkan dua anak seorang diri, setiap rupiah yang diperolehnya memiliki tujuan yang jelas. Putri sulungnya baru duduk di kelas I SMP, sementara anak laki-lakinya masih mengenyam pendidikan dasar. Ia percaya pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah masa depan keluarganya.
“Saya ingin anak perempuan saya bisa kuliah. Mudah-mudahan nanti bisa menjadi putri daerah yang membangun Desa Mengkait,” katanya penuh harap.
Harapan tersebut semakin menemukan jalannya ketika pada Desember 2025 BRK Syariah melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) menyerahkan bantuan gerobak sorong kepada Linda.
Bantuan itu mungkin tampak sederhana.
Namun bagi Linda, gerobak bukan sekadar alat angkut.
Gerobak adalah tambahan tenaga.
Gerobak adalah tambahan kesempatan bekerja.
Gerobak adalah tambahan penghasilan.
Gerobak adalah cara agar mimpi kedua anaknya tetap berjalan.
Gerobak lamanya telah rapuh dimakan usia. Dengan bantuan CSR BRK Syariah, kini ia memiliki dua gerobak yang dapat digunakan secara bergantian untuk mengangkut air bersih maupun bahan bakar.
Waktu kerja menjadi lebih efisien, kapasitas pelayanan meningkat, dan penghasilannya pun lebih terjaga.
“Bantuan ini sangat berarti bagi saya. Gerobak lama sudah mulai rusak. Sekarang pekerjaan mengangkut air dan minyak lebih mudah. Penghasilan yang saya dapat saya gunakan untuk biaya sekolah anak-anak,” tuturnya.
Namun perubahan terbesar ternyata bukan hanya pada alat kerjanya. Perubahan itu hadir dalam cara Linda memandang masa depan.
Di pulau yang belum memiliki kantor bank, Linda kini menjadi nasabah BRK Syariah. Penghasilannya tidak lagi seluruhnya disimpan di rumah. Sebagian ia sisihkan untuk ditabung sebagai persiapan pendidikan anak-anaknya.
“Di sini tidak ada bank, tidak ada rumah sakit, dan tidak ada kantor pelayanan selain kantor desa. Kami senang BRK Syariah bisa sampai ke sini. Sekarang kami punya tempat menyimpan uang dengan aman. Saya menabung supaya nanti anak-anak bisa terus sekolah,” ungkapnya.
Kisah Linda menjadi potret bahwa inklusi keuangan tidak hanya berbicara mengenai hadirnya layanan perbankan, tetapi juga tentang membangun rasa percaya diri masyarakat untuk merencanakan masa depan.
Di banyak tempat, CSR sering dipahami sebagai penyerahan bantuan sesaat. Namun pendekatan yang dijalankan BRK Syariah menunjukkan makna yang lebih luas. Program ini dirancang agar bantuan menjadi modal produktif yang mampu meningkatkan kapasitas ekonomi penerima manfaat. Ketika alat kerja bertambah, produktivitas meningkat. Ketika penghasilan bertambah, kesempatan anak memperoleh pendidikan yang lebih baik ikut terbuka. Dampaknya tidak berhenti pada satu orang, melainkan mengalir kepada keluarga dan komunitas di sekitarnya.
Semangat inilah yang menjadi bagian dari komitmen BRK Syariah sebagai bank pembangunan daerah berbasis syariah. Melalui berbagai program tanggung jawab sosial dan pemberdayaan masyarakat, BRK Syariah berupaya memastikan kehadirannya dapat dirasakan hingga wilayah kepulauan dan daerah terluar, tempat akses terhadap layanan ekonomi dan keuangan masih menghadapi berbagai tantangan.
Karena bagi BRK Syariah, keberhasilan sebuah program CSR tidak diukur dari berapa banyak bantuan yang disalurkan, melainkan dari berapa banyak kehidupan yang berubah setelah bantuan itu diterima.
Di Desa Mengkait, perubahan itu mungkin berwujud sebuah gerobak.
Namun setiap dini hari, ketika Linda kembali mendorongnya menuju sumur, yang sebenarnya sedang ia bawa bukan hanya air untuk warga. Ia sedang mengantarkan harapan.
Harapan bahwa dua anaknya akan memperoleh pendidikan yang lebih tinggi.
Harapan bahwa keterbatasan geografis tidak akan membatasi cita-cita.
Dan harapan bahwa di ujung negeri, selalu ada kepedulian yang memilih untuk hadir, berjalan bersama masyarakat, setapak demi setapak. (*)








