Chemical Enhanced Oil Recovery (Chemical EOR) merupakan teknologi peningkatan perolehan minyak tahap lanjut (tertiary recovery) yang dilakukan melalui injeksi bahan kimia ke dalam reservoir untuk meningkatkan efisiensi penyapuan dan pendesakan minyak. Menurut International Energy Agency (IEA), setelah proses primary dan secondary recovery umumnya hanya sekitar 30% minyak yang dapat diproduksikan sehingga diperlukan teknologi EOR untuk memproduksikan minyak sisa yang masih tertinggal di reservoir (IEA, 2018). Chemical EOR secara umum terdiri atas polymer flooding, surfactant flooding, dan alkali-surfactant-polymer (ASP) flooding. Polymer flooding dilakukan dengan meningkatkan viskositas air injeksi sehingga mobilitas air menjadi lebih baik dan mengurangi terjadinya fingering, sedangkan surfactant flooding bertujuan menurunkan interfacial tension (IFT) antara minyak dan air, serta ASP flooding mengkombinasikan alkali, surfaktan, dan polimer untuk memperoleh efek sinergis yang lebih tinggi. Dibandingkan thermal EOR maupun gas injection EOR, polymer flooding lebih banyak diterapkan pada lapangan minyak matang karena investasi fasilitas yang relatif lebih rendah, konsumsi energi yang lebih kecil, dan emisi karbon yang lebih rendah (IEA, 2018; Alvarado & Manrique, 2010). Salah satu kisah sukses terbesar berasal dari Lapangan Daqing, Tiongkok, yang berhasil memperoleh tambahan recovery factor sebesar 12–15% OOIP melalui polymer flooding dan hingga 18% OOIP melalui ASP flooding (Wang et al., 2018; Sheng et al., 2022). Sebaliknya, beberapa proyek polymer flooding di Amerika Utara dan Laut Utara mengalami kinerja yang kurang optimal akibat degradasi polimer pada temperatur tinggi, salinitas tinggi, adsorpsi berlebihan pada batuan reservoir, serta desain proyek yang tidak memperhitungkan heterogenitas reservoir secara memadai (Seright et al., SPE; Saleh et al., 2019).
Polimer yang digunakan dalam Chemical EOR secara umum terbagi menjadi synthetic polymer dan biopolymer. Jenis yang paling banyak digunakan secara komersial adalah Hydrolyzed Polyacrylamide (HPAM) karena memiliki kemampuan peningkatan viskositas yang tinggi dengan biaya yang relatif rendah. Namun, HPAM memiliki kelemahan berupa sensitivitas terhadap temperatur tinggi, salinitas tinggi, dan ion divalen seperti Ca²⁺ dan Mg²⁺ yang dapat menyebabkan penurunan viskositas larutan. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut dikembangkan berbagai jenis polimer baru seperti ATBS-polymer, associative polymer, thermo-viscosifying polymer, serta berbagai biopolimer seperti xanthan gum dan scleroglucan yang memiliki stabilitas lebih baik pada kondisi reservoir ekstrem (Saleh et al., 2019). Dalam beberapa tahun terakhir, konsep Green Polymer berkembang pesat melalui pemanfaatan material berbasis biomassa seperti selulosa, pati (starch), lignin, maupun polisakarida hasil fermentasi mikroba yang lebih ramah lingkungan dan memiliki jejak karbon lebih rendah dibandingkan polimer sintetis konvensional. Meskipun demikian, HPAM masih menjadi polimer yang paling banyak digunakan di dunia. Berdasarkan laporan pengembangan polymer flooding di Daqing Oilfield, teknologi ini mampu memberikan incremental oil recovery rata-rata sekitar 12% OOIP, sementara pada beberapa blok tertentu recovery factor total mencapai hampir 60% OOIP setelah implementasi polymer flooding skala penuh (Wang et al., 1995; Sheng et al., 2022). Keberhasilan tersebut menjadikan polymer flooding sebagai teknologi Chemical EOR yang paling matang dan paling luas diterapkan secara komersial di industri migas global.
Indonesia memiliki peluang yang sangat besar dalam pengembangan Polymer Enhanced Oil Recovery (Polymer EOR) karena sebagian besar lapangan minyak nasional telah memasuki fase mature dengan tingkat water cut yang tinggi dan recovery factor yang masih dapat ditingkatkan. Berdasarkan berbagai kajian SKK Migas, Kementerian ESDM, Institute for Oil and Gas Studies (LEMIGAS), serta publikasi Society of Petroleum Engineers (SPE), terdapat lebih dari 100 lapangan minyak di Indonesia yang secara teknis berpotensi untuk penerapan Chemical EOR, khususnya polymer flooding (SKK Migas, 2023; ESDM, 2022). Di Sumatera, lapangan-lapangan potensial meliputi Minas, Duri, Bekasap, Bangko, Petani, Zamrud, Pematang, Kulin, Rangau, dan lapangan-lapangan lain di Wilayah Kerja Rokan, yang memiliki karakteristik reservoir sandstone, permeabilitas tinggi, serta sejarah waterflooding yang panjang (Pertamina Hulu Rokan, 2023; Setyawan et al., 2009). Di wilayah Jawa, lapangan Tanjung, Jatibarang, Kawengan, Sukowati, Poleng, dan beberapa lapangan mature di Cepu serta Pertamina EP Regional Jawa dinilai memiliki potensi karena masih menyimpan minyak sisa yang signifikan setelah secondary recovery (LEMIGAS, 2021). Di Kalimantan, lapangan Tanjung, Sanga-Sanga, Attaka, Bekapai, Handil, Badak, Samboja, Bunyu, Tarakan, dan sejumlah lapangan tua di Cekungan Kutai dan Tarakan berpotensi untuk implementasi polymer flooding mengingat tingginya water cut dan infrastruktur produksi yang masih tersedia (SKK Migas Annual Report, 2023). Sementara itu di wilayah Papua, lapangan-lapangan seperti Klamono, Salawati, Walio, Kasim, dan beberapa lapangan tua di Cekungan Salawati menjadi kandidat yang menarik karena masih memiliki cadangan minyak tersisa yang cukup besar dan telah mengalami penurunan produksi secara alami selama beberapa dekade (Pertamina EP Papua, 2022).
Pengalaman Indonesia yang paling maju hingga saat ini adalah proyek Surfactant-Polymer (SP) Flooding Minas Field yang dikembangkan oleh Chevron Pacific Indonesia dan dilanjutkan pengkajiannya oleh Pertamina Hulu Rokan. Menurut publikasi Indonesian Petroleum Association (IPA), pengujian laboratorium dan simulasi reservoir menunjukkan bahwa SP flooding pada batuan reservoir Minas mampu memobilisasi hingga sekitar 98% residual oil setelah waterflooding sehingga berpotensi meningkatkan recovery factor secara signifikan (Setyawan et al., IPA Proceedings, 2009). Selain Minas, studi pilot Chemical EOR juga telah dilakukan pada beberapa lapangan di Rokan, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Jawa Timur dengan hasil yang menunjukkan adanya peningkatan sweep efficiency dan penurunan mobility ratio yang signifikan (SPE 169103; SKK Migas EOR Roadmap, 2023). Namun demikian, implementasi komersial skala penuh masih menghadapi berbagai tantangan seperti tingginya biaya impor bahan kimia, kebutuhan fasilitas pencampuran dan injeksi khusus, keterbatasan pasokan polimer dalam negeri, ketidakpastian harga minyak, serta kompleksitas karakteristik reservoir Indonesia yang sangat beragam. Oleh karena itu, keberhasilan Polymer EOR di Indonesia memerlukan pendekatan berbasis reservoir-specific screening, pilot test yang memadai, serta dukungan regulasi dan insentif investasi yang kuat. Dengan target produksi nasional mencapai 1 juta BOPD, SKK Migas menempatkan EOR sebagai salah satu pilar utama peningkatan produksi minyak nasional dalam jangka panjang (SKK Migas Long Term Production Roadmap, 2023; ESDM, 2024).
Keberhasilan implementasi Green Polymer EOR di Indonesia memerlukan kolaborasi erat antara perguruan tinggi, industri, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat lokal. Perguruan tinggi dapat berperan sebagai pusat inovasi dalam pengembangan polimer berbasis biomassa Indonesia seperti selulosa dari limbah pertanian, lignin dari industri pulp dan kertas, maupun turunan minyak sawit yang berpotensi menjadi bahan baku green polymer nasional. Penyedia chemical dan perusahaan migas perlu mempercepat hilirisasi hasil riset tersebut melalui pengembangan fasilitas produksi dalam negeri sehingga ketergantungan terhadap impor bahan kimia EOR dapat dikurangi. Pemerintah melalui Kementerian ESDM dan SKK Migas dapat memberikan insentif fiskal, skema cost recovery yang lebih menarik, serta dukungan pilot project untuk mempercepat adopsi teknologi Chemical EOR. Selain meningkatkan produksi minyak nasional, pengembangan Green Polymer EOR juga berpotensi menciptakan rantai nilai industri baru di daerah penghasil migas, membuka lapangan kerja bagi tenaga kerja lokal, meningkatkan kompetensi SDM daerah melalui program pelatihan dan sertifikasi, serta meningkatkan pendapatan negara dan daerah dari sektor migas. Sejalan dengan tren global menuju operasi migas rendah karbon, Green Polymer EOR dapat menjadi solusi yang tidak hanya meningkatkan recovery factor lapangan minyak Indonesia tetapi juga mendukung pembangunan industri nasional yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing tinggi. (IEA, 2018; SKK Migas EOR Roadmap; SPE EOR Technical Papers).
Penulis
Prof. Dr. Eng. Ir. Muslim
Guru Besar Prodi Teknik Perminyakan
Fakultas Teknik – Universitas Islam Riau
Ketua Pusat Studi Peningkatan, Pengembangan, Produksi Minyak, Gas Bumi dan Lingkungan (PSP3MBL)







