Menu

Otomatis
Breaking News

Minda

Awas Penyangak!

badge-check

Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

DALAM alam Melayu, Wak, perampok biasanya mudah dikenali. Mukanya tegang, geraknya mencurigakan, datang membawa ancaman dan pulang membawa harta. Tetapi ada satu jenis yang lebih canggih yakni, penyangak. Ia tidak perlu memakai topeng, sebab wajahnya boleh sangat ramah. Tidak perlu membawa parang, sebab senjatanya adalah kata-kata.

Penyangak pandai membaca keadaan, Wak. Sebelum meminta, ia memuji dahulu. “Tuan memang hebat.” “Tuan paling memahami.” “Kalau bukan tuan, siapa lagi?” Dipuji begitu rupa, yang dipuji pun tersenyum sampai lupa menghitung berapa kali telurnya sudah diangkat.

Di situlah bedanya penyangak dengan perampok. Perampok merampas dengan kekerasan, sedangkan penyangak kadang merampas dengan kenyamanan. Ia membuat orang merasa dihormati, padahal sedang didekati untuk kepentingan pribadi. Datang membawa senyum, pulang membawa kesempatan.

Dalam bahasa Melayu, Wak, penyangak berarti pencuri, penjahat atau orang yang suka melakukan perbuatan melanggar hukum. Namun dalam kehidupan, perangai penyangak boleh muncul dalam banyak rupa. Ada yang menyangak harta, ada yang menyangak kesempatan, bahkan ada yang menyangak jabatan.

Yang terakhir ini agak menarik. Dia tidak meminta uang. Tidak membawa karung. Tidak pula mengintai rumah orang. Kerjanya cukup rajin hadir, rajin memuji, rajin mengangguk dan rajin berkata, “Betul tuan, saya setuju.” Kalau perlu, telur pun diangkat tinggi-tinggi, takut pecah sebelum sampai ke meja.

Maka lahirlah satu ilmu yang tidak tercatat di universitas mana pun, ilmu angkat telor. Ilmu ini tidak membutuhkan ijazah. Syaratnya cuma satu: pandai membuat orang lain merasa dirinya paling hebat. Semakin tinggi pujian, semakin dekat pula tangga menuju kepentingan.

Ada pula cabang ilmunya bernama pelambuk, Wak. Kalau angkat telor membuat orang merasa hebat, pelambuk membuat orang merasa semua keputusan yang dibuatnya selalu benar. Salah pun dibenarkan. Keliru pun dipuji. Bahkan kalau hujan turun ketika matahari sedang terik, mungkin pelambuk akan berkata, “Hebat tuan, sampai langit pun ikut kebijakan tuan.”

Padahal adat Melayu mengajarkan tahu malu, tahu batas dan tahu tempat. Memuji orang karena kebaikannya adalah budi. Tetapi memuji karena hendak memperoleh sesuatu, itu sudah masuk wilayah yang perlu dipasang tanda: awas, ada kepentingan.

Tunjuk Ajar Melayu yang diwariskan para budayawan, termasuk almarhum Tenas Effendy, banyak mengingatkan manusia agar menjauhi sifat buruk: tamak, khianat, menipu dan mengambil hak orang lain. Sebab dalam pandangan Melayu, manusia bukan hanya dinilai dari apa yang dimilikinya, tetapi dari bagaimana ia menjaga marwah.

Jabatan pun begitu, Wak. Kalau diperoleh karena kemampuan, itu amanah. Kalau diperoleh karena pengabdian, itu penghormatan. Tetapi kalau pintunya dibuka karena pandai mengangkat telor dan melambuk, maka yang perlu ditanya bukan lagi “siapa orangnya?”, tetapi “berapa banyak telur yang sudah diangkatnya?”

Untung bagi korban penyangak, biasanya penyangak mempunyai satu kelemahan: perangainya berulang. Sekali dua mungkin orang tertipu. Tiga kali mulai curiga. Keempat kali, dari jauh saja sudah nampak jalannya, lalu korban memilih menyeberang sebelum berpapasan.

Beginilah cara Melayu menjaga diri tanpa harus membuat gaduh. Kalau sudah tahu seseorang penyangak, tidak perlu dimaki. Berjumpa, beri salam. Ditanya, jawab baik-baik. Diajak duduk, bilang ada urusan. Sebab memelihara silaturahmi itu adat, tetapi menjaga diri daripada diperalat juga bukan pantang.

Sebab penyangak yang paling berbahaya bukan yang mengambil uang dari saku, melainkan yang membuat kita menyerahkan sesuatu dengan sukarela. Ia tidak mencuri kepercayaan; ia menggunakan kepercayaan itu sebagai kunci untuk membuka pintu kepentingan.

Hari ini ia berkata, “Tuan adalah orang paling tepat.” Besok ia berkata, “Tuan saja yang bisa membantu.” Lusa mungkin sudah ada permintaan. Kalau diberi, pujian berlanjut. Kalau tidak diberi, tiba-tiba orang yang kemarin paling hebat berubah menjadi orang yang tidak lagi dihormati. Rupanya pujian itu memang ada harganya.

Pesan Tenas Effendy patut direnungkan: “Kalau hidup suka menyangak, harta haram ditumpuk banyak, di dunia hidup terhina dan tersepak, di akhirat diazab di dalam kerak.” Syair itu bukan sekadar susunan kata berima, tetapi teguran agar manusia jangan menjadikan ketamakan sebagai jalan hidup.

Maka marwah Melayu jangan diukur dari tingginya tanjak, panjangnya gelar atau empuknya kursi. Marwah terletak pada amanah. Orang boleh miskin harta tetapi kaya marwah. Sebaliknya, boleh kaya jabatan tetapi miskin harga diri kalau hidupnya bergantung pada menjilat dan menyangak.

Karena itu, kalau suatu hari seorang penyangak datang dengan senyum lebar dan pujian setinggi pucuk kelapa, jangan lekas besar hati. Dengarkan saja sambil tersenyum. Setelah itu periksa kantong, periksa jabatan, periksa amanah dan yang paling penting, periksa telur, jangan-jangan sudah ada yang mengangkatnya diam-diam. Sebab perampok mengambil ketika kita lengah, sedangkan penyangak mengambil ketika kita percaya.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Polda Riau Gelar Program JALUR di Rumbai, Salurkan Sembako dan Buka Klinik Terapung Gratis

11 Sep 2026 - 17:34 WIB

Polda Riau Gelar Program JALUR di Rumbai, Salurkan Sembako dan Buka Klinik Terapung Gratis

Dari Pesan WhatsApp, Terbongkar Dugaan Pencabulan Santri di Siak

11 Sep 2026 - 15:05 WIB

Dari Pesan WhatsApp, Terbongkar Dugaan Pencabulan Santri di Siak

Ibu-Ibu Lanud Menyusuri Jejak Melayu di Sentra Ekraf LAM Riau

11 Sep 2026 - 10:19 WIB

Ibu-Ibu Lanud Menyusuri Jejak Melayu di Sentra Ekraf LAM Riau

Purbaya Tawarkan SMI, Bupati Siak: Kita Mau Bayar Utang, Malah Disuruh Berutang

9 Sep 2026 - 14:21 WIB

Purbaya Tawarkan SMI, Bupati Siak: Kita Mau Bayar Utang, Malah Disuruh Berutang

Bupati Siak Aktif Mengawal Karhutla Meski Sedang Pendidikan KPPD Lemhannas

9 Sep 2026 - 10:49 WIB

Bupati Siak Aktif Mengawal Karhutla Meski Sedang Pendidikan KPPD Lemhannas
Trending di Pekanbaru