Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Minda

Bahasa Melayu di Rantau Nusantara

badge-check

Bahasa Melayu di Rantau Nusantara Perbesar

Oleh

Hasrul Sani Siregar, MA

Alumni Hubungan Antarabangsa, IKMAS, UKM Bangi, Selangor Malaysia/Widyaiswara di BPSDM Provinsi Riau

 

Bahasa Melayu merupakan bahasa ketujuh terbesar di dunia. Bahasa Melayu (Indonesia dan Malaysia) digunakan di Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand selatan, Filipina selatan dan sebagian dari Kamboja (Cambodia, Melayu-Champa), Vietnam, sebagian kecil di Laos serta Myanmar. Beberapa negara tersebut menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar dalam perbincangan sehari hari (Rantau Nusantara). Lebih kurang 300 juta masyarakat di rantau nusantara (ASEAN)  menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa sehari hari. Penutur bahasa Melayu di Rantau Nusantara terus meningkat. Dalam beberapa tahun yang akan datang penggunaan bahasa melayu terus akan berkembang khususnya oleh dua negara yaitu Indonesia dan Malaysia.

Oleh sebab itu, identitas Melayu akan tetap kekal dengan selalu menggunakan bahasa Melayu dalam percakapan baik resmi maupun tidak resmi. “Takkan hilang Melayu ditelan zaman”. Seperti ungkapan Tun Dr. Mahathir Mohamad yang mengatakan bahwa “tak ada gunung yang tinggi tak dapat didaki” “tak ada lurah yang dalam yang tak dapat dituruni”, menggambarkan, tekat orang Melayu khususnya di Semenanjung Malaysia untuk dapat berkembang dan maju sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Sejarah mencatat kegemilangan bangsa Melayu dengan penggunaan bahasa Melayu yang telah bertapak di rantau nusantara, telah menjadikan kekuatan dalam persaingan dengan bangsa-bangsa lainnya. Dalam buku Tuhfat Al Nafis Sejarah Melayu-Islam karangan Virginia Matheson Hooker secara jelas menjelasakan sejarah kejayaan dan kecemerlangan Melayu di masanya dan itu mestinya tidak hilang ditelan arus globalisasi kebudayaan dan bahasa.

Dalam buku lainnya, “tak melayu hilang di dunia”, mencatat bahwa perjalanan sejarah Tamadun Melayu di awal kegemilangannya hingga Melayu bertapak saat ini. Buku karangan Ismail Noor dan Muhammad Azahan tersebut yang secara lengkap memaparkan bagaimana orang melayu, khususnya di Malaysia selama ini diperkatakan sebagai orang yang hanya bisa jalan di tempat, tanpa ingin meraih kemajuan dan kejayaan. Orang melayu sering diperkatakan sebagai orang yang “malas”, seperti juga yang pernah dikatakan oleh Mantan Perdana Menteri Malaysia dalam bukunya “Malays Dilemma”, tidak suka berusaha, kurang pandai dan sebagainya seperti yang diperkatakan oleh penulis barat bernama R.O. Winstedt. Orang melayu dilabelkan sedemikian rupa agar label tersebut melekat pada diri orang melayu, namun tidaklah benar pendapat yang demikian.

Apa yang disebutkan oleh R.O. Winstedt tersebut, diulas secara lengkap oleh ke-2 penulis yaitu Ismail Noor dan Muhammad Azahan dalam buku tersebut. Buku “Takkan Melayu Hilang di Dunia”, memberikan pemahaman, bahwa orang melayu dapat berprestasi secara gemilang dan sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Orang melayu selalunya hanya “terpesona” dengan masa lalunya hingga ia melupakan masa kini yang penuh cabaran (tantangan) yang berat. Pandangan bahwa “melayu malas” telah dijadikan alat oleh penjajah Inggris untuk menundukkan oarng melayu untuk mencapai kemajuan. Hal tersebut  dijelaskan secara lengkap dalam buku tersebut.

Buku tersebut secara panjang lebar pula memaparkan kegigihan dan keuletan orang-orang Melayu khususnya Melayu yang ada di Semenanjung Malaysia. Keuletan dan ketekunan orang melayu telah memberikan penghormatan terhadap budaya melayu itu sendiri, agar budaya melayu tak hilang di dunia. Apa yang hendak dimaksud oleh kedua pengarang tersebut?. Nilai-nilai murni dari budaya melayu itu sendiri seperti kepercayaan kepada tuhan (Allah SWT), keikhlasan, amanah, keyakinan pada diri sendiri, kejujuran dan tanggung-jawab merupakan hal yang patut dijaga agar nilai-nilai murni tersebut akan membentuk dan membawa masyarakat melayu kearah kecermelangan dan kejayaan dalam menghadapi era globalisasi dan liberalisasi di masa depan.

Oleh sebab itu, “Takkan Malayu Hilang di Dunia”, merupakan refleksi atas kesadaran orang-orang melayu untuk dapat maju dan berkembang sejajar dengan budaya lainnya di dunia. Seperti ungkapan Dr. Mahathir Mohamad pula yang mengatakan bahwa “tak ada gunung yang tinggi tak dapat didaki, tak ada lurah yang dalam yang tak dapat dituruni”, menggambarkan, tekat orang melayu khususnya di Semenanjung Malaysia untuk dapat berkembang dan maju sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Tulisan ini sebagai kontribusi dalam Simposium Antarabangsa Penggunaan dan Kelangsungan Bahasa Melayu Nusantara, dengan Tema Bahasa Melayu Wahana Peradaban dan Kesantunan, Kota Bharu, Kelantan 23-25 Oktober 2026.

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Rumahitam, Puisi, dan Jiwa Kota: Merawat Rindu di Tengah Riuhnya Menara Industri

11 Okt 2026 - 13:39 WIB

Rumahitam, Puisi, dan Jiwa Kota: Merawat Rindu di Tengah Riuhnya Menara Industri

Terkesop

10 Okt 2026 - 08:57 WIB

Terkesop

Dari Nongsa, Bintang Sutarman dan Asep Safrudin Melesat ke ‘Langit Polri’

10 Okt 2026 - 08:09 WIB

Dari Nongsa, Bintang Sutarman dan Asep Safrudin Melesat ke ‘Langit Polri’

POLESAN GETAH IBU  

10 Okt 2026 - 07:49 WIB

POLESAN GETAH IBU   

Belajar dari Teori Kutukan Sumber Daya Alam untuk Masa Depan Riau dan Indonesia

9 Okt 2026 - 16:08 WIB

Belajar dari Teori Kutukan Sumber Daya Alam untuk Masa Depan Riau dan Indonesia
Trending di Minda