ASAL tahu saje, Wak. Adat dan budaya itu bukan barang yang turun dari langit, bukan pulak benda yang beku, kaku, lalu tak boleh disentuh oleh perubahan zaman. Adat itu tumbuh dari kehidupan manusia, berakar pada alam, berbuah dari pengalaman, lalu diwariskan turun-temurun melalui tunjuk ajar orang tua-tua yang disebut budaya.
Yang mesti dijaga bukan semata-mata bentuk dan rupanya, tetapi nilai yang terkandung di dalamnya. Sebab, adat boleh berkembang, budaya boleh menyesuaikan diri, tetapi tunjuk ajar yang menjadi tiang seri kehidupan jangan sampai hilang. Al-Quran tetap menjadi pedoman yang tak berubah. Adat pula berfungsi sebagai suluh dalam kehidupan bermasyarakat, selagi tidak bertentangan dengan syarak.
Orang Melayu sejak dahulu tahu betol perkara ini, Wak. Alam terkembang dijadikan guru. Dari laut, orang belajar tentang pasang dan surut. Dari sungai, orang belajar tentang arus dan muara. Dari pohon, orang belajar tentang akar yang menghunjam dan pucuk yang menjulang. Begitulah adat dan budaya, ada akarnya, ada batangnya, ada pula pucuk yang terus tumbuh mengikut musim.
Maka, janganlah pulak kita terlalu sibuk menjaga kulit sampai terlupa isinya. Jangan pula kita begitu takut melihat perubahan, sampai budaya sendiri kita kurung dalam sangkar. Padahal, adat yang hidup ialah adat yang diamalkan, budaya yang lestari ialah budaya yang diwariskan, bukan sekadar disimpan dalam peti pusaka atau dipamerkan ketika ada upacara.
Sebab itulah, Wak, awak merasa bangga melihat Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, M.Si., mengenakan busana yang terinspirasi daripada pakaian Permaisuri Sultan Siak, Tengku Agung Sultanah Latifah, ketika apel puncak peringatan Hari Jadi ke-27 Kabupaten Siak. Kemudian, di gedung dewan, beliau tampil dengan Baju Kurung Laboh, pakaian tradisional Melayu yang sarat dengan nilai kesantunan, kesederhanaan dan kehormatan, yang kini diusulkan Provinsi Riau sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Bagi awak, itu bukan semata-mata soal baju. Bukan pula sekadar hendak bergaya di hadapan khalayak. Ada pesan yang lebih besar di sebalik sehelai kain dan sepasang busana, bahwa kebesaran Siak bukan hanya tersimpan pada bangunan istana, kisah sultan dan peninggalan sejarah, tetapi juga pada adat dan budaya yang masih dapat dikenakan, diperkenalkan dan diwariskan kepada anak cucu.
Namun, kenapa pulak ada yang bising? Ada yang merasa tak patut seorang Afni mengenakan busana yang terinspirasi daripada pakaian permaisuri. Alasannya, itu pakaian kebesaran, pakaian yang kononnya hanya layak dipakai oleh keluarga dan kaum kerabat tertentu. Seolah-olah, begitu pakaian itu pernah melekat pada tubuh seorang permaisuri, maka tertutuplah sudah pintu bagi orang lain untuk mengenal dan mengangkatnya kembali.
Kalau begitu cara kita berpikir, awak nak bertanya, Wak, siapa lagi yang boleh memperkenalkan warisan itu kepada generasi muda? Siapa yang hendak menghidupkan kembali busana lama agar tak sekadar menjadi gambar dalam buku sejarah? Siapa pula yang hendak memberitahu anak-anak kita bahwa di tanah Siak pernah tumbuh peradaban Melayu yang tinggi, yang meninggalkan jejak pada bahasa, pakaian, kesantunan, seni dan tata kehidupan?
Apakah kita hendak menunggu sampai anak cucu hanya mengenal Tengku Agung Sultanah Latifah melalui nama jalan dan catatan sejarah? Apakah kita hendak membiarkan busana Melayu hanya tersimpan di lemari, lalu berbangga ketika orang luar datang mengagumi, tetapi kita sendiri takut memakainya?
Jangan sampai kita begitu sibuk mempertahankan adat, tetapi lupa menghidupkannya. Jangan sampai kita terlalu bangga menyebut nama sultan dan permaisuri, tetapi tidak berbuat apa-apa untuk memperkenalkan peninggalan mereka kepada generasi penerus.
Ingatlah, Wak, adat bukan sekadar untuk dikenang, budaya bukan sekadar untuk dipertontonkan. Keduanya amanah yang mesti diteruskan. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Kalau bukan sekarang kita memperkenalkan, bila lagi?
Biar zaman berubah, biar dunia melangkah jauh, tetapi akar Melayu jangan sampai tercabut dan bingkas dari bumi. Sebab, pohon yang kehilangan akar, walau setinggi mana menjulang, akhirnya rebah jua.
Apa tanda orang berbudaya, tahu lah dia budi bahasa, ke laut mengarak gelombang, ke darat pokok tak ditebang.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.












