Oleh Robby Patria, dosen Sejarah di FKIP UMRAH dan Ketua Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS) Kepri.
Seperempat abad sebagai kota otonom, Tanjungpinang masih hidup dari kiriman. Sebuah catatan tentang ibu kota yang lebih pandai menerima daripada menghasilkan.
Di Pelantar 2, pagi datang dengan bau solar dan ikan. Pompong dari Penyengat merapat, membawa penumpang yang menyeberang hanya beberapa menit dari pulau tempat Raja Ali Haji, pada 1847, menulis Gurindam Dua Belas.
Pasal pertamanya dibuka dengan sebuah syarat yang terdengar seperti nasihat tapi sesungguhnya adalah teori pengetahuan.“Barang siapa mengenal diri, maka telah mengenal Tuhan yang bahri.”
Mengenal diri. Barangkali itulah yang paling sulit bagi sebuah kota.
Italo Calvino, dalam Kota-Kota yang Tak Terlihat, membuat Marco Polo bercerita kepada Kubilai Khan tentang kota-kota yang sebenarnya satu kota, dilihat dari keinginan dan ketakutan penghuninya.
Setiap kota, kata Calvino lewat Polo, menyimpan kota lain di bawahnya. Tanjungpinang pun begitu.
Di permukaan ada ibu kota provinsi, gedung-gedung di Dompak, upacara 17 Oktober 2026 yang menandai 25 tahun sejak kota ini berdiri sendiri. Di bawahnya ada kota yang lain kota yang denyutnya mengikuti tanggal gajian.
Seperempat abad lalu, otonomi dijanjikan sebagai jalan menuju kemandirian. Hari ini pertanyaannya tak lagi apakah Tanjungpinang tumbuh. Ia tumbuh. Suryatati menjadi walikota pertama.
Pertanyaannya tumbuh dari tenaganya sendiri, atau dari infus? Infus di dunia kesehatan untuk memberikan energi ke tubuh sebagai pengganti asupan makanan.
PAD yang menukik
Angka tak punya retorika, dan karena itu ia sering lebih jujur daripada pidato ulang tahun.
Pada APBD 2026, dana transfer pusat untuk Pemkot Tanjungpinang dianggarkan Rp554,59 miliar, hampir separuhnya Dana Alokasi Umum (Databoks).
Pendapatan asli daerah? Pada 2024 targetnya Rp133 miliar, dan menjelang tutup tahun baru terkumpul sekitar Rp90 miliar (DDTCNews). Kasarnya untuk setiap rupiah yang dipungut sendiri, empat rupiah datang dari Jakarta.
Bandingkan dengan Banjarbaru, yang baru empat tahun memikul gelar ibu kota Kalimantan Selatan, tapi sudah menargetkan PAD Rp418 miliar (Antara). Atau Batam, sekitar satu jam naik feri, yang pada 2025 mengumpulkan PAD Rp2,25 triliun, lebih besar daripada dana transfer yang diterimanya (Pemko Batam).
Perbandingan semacam ini memang tak sepenuhnya adil tahun anggarannya berbeda, ukuran kotanya berbeda. Tapi ia cukup untuk menunjukkan skala jarak.
Lalu ada tren yang lebih sunyi. Dokumen perencanaan jangka panjang kota ini sendiri mencatat pertumbuhan ekonomi melandai dari 7,78% pada 2013 ke 4,92% pada 2023 (KPU Tanjungpinang). Investasi Semester I 2026 mencapai Rp470,6 miliar, tapi modal asing hanya 2,79% di dalamnya (RRI). Dari bukit-bukit di pinggir kota, orang bisa membayangkan Singapura; modal Singapura tampaknya tak membayangkan Tanjungpinang.
Dan tahun ini, transfer pusat itu turun hampir 20%. Infus mulai dikecilkan. Tentu ada kabar yang patut disyukuri. Kemiskinan turun ke 5,96% pada 2025, terendah dalam dua dekade pencatatan (Databoks).
Seabad lalu Max Weber, dalam esainya tentang kota, membedakan kota konsumen dari kota produsen. Kota pertama hidup dari rente, gaji pejabat, dan belanja istana.
Kota yang kedua dari bengkel, pasar, dan barang yang dijual keluar tembok. Weber tidak sedang mengejek. Ia hanya mencatat bahwa kota pertama makmur selama sumber uangnya mengalir, dan rapuh ketika aliran itu berhenti.
Tanjungpinang hari ini adalah kota konsumen dalam pengertian Weber yang hampir murni. Ekonominya berputar di sekitar belanja aparatur provinsi dan kota.
Jane Jacobs, yang menulis Cities and the Wealth of Nations dari jalanan Greenwich Village dan bukan dari menara akademi, punya nama untuk penyakit ini kota yang tak pernah belajar mengganti impornya dengan produksi sendiri. Kota seperti itu, kata Jacobs, boleh ramai tapi tidak berkembang. Uang singgah, lalu pergi.
Pergi ke mana? Sebagian besar ke pemasok di luar pulau. Maka tak heran inflasi tahunan Tanjungpinang pada Juni 2026 mencapai 4,95%, tertinggi di Kepulauan Riau (RRI).
Wakil Walikota Raja Ariza info yang berkembang nantinya sebagai calon walikota di periode mendatang mengakui kota ini perlu berhenti menjadi daerah konsumen semata. Harus menjadi kota produsen. Tapi bagaimana caranya?
Nah ini dia pekerjaan rumah yang besar untuk siapa pun ke depan nak jadi walikota. Asal jangan cuma pandai membuat visi dan misi tapi tak tak cara melaksanakannya.
Lalu ada bayang-bayang. Paul Krugman, yang mendapat Nobel karena menjelaskan mengapa industri bergerombol, memberi kita kosakata untuk Batam sebagai aglomerasi.
Kota yang sudah ramai menarik keramaian berikutnya, dan kota kecil di dekatnya justru kehilangan peluang. Para ekonom menyebutnya agglomeration shadow.
Tanjungpinang berdiri tepat di bawah bayangan itu. Selisih upah minimum keduanya pada 2026 lebih dari Rp1,4 juta per bulan (Dealls). Anak-anak muda terdidik membaca angka itu lebih cepat daripada birokrat membaca rencana strategis.
Edward Glaeser pernah menulis bahwa kota menang karena manusianya kota yang tak memberi pekerjaan bergaji layak hanya menjadi sekolah gratis bagi kota lain.
Yang membuat penyakit ini awet adalah sesuatu yang oleh ekonom fiskal disebut flypaper effect. Wallace Oates dan para penerusnya menemukan bahwa dana transfer menempel di tempat ia jatuh, membesarkan belanja pemerintah lebih daripada yang akan terjadi bila uang itu datang dari pajak warga sendiri.
Ketika empat perlima pendapatan datang dari pusat, keterampilan politik yang paling berharga bukanlah membesarkan ekonomi lokal, melainkan melobi Jakarta.
Ibnu Khaldun, tokoh besar Islam sudah melihat pola yang mirip pada dinasti-dinasti yakni kenyamanan kota yang lahir dari upeti perlahan melunakkan daya juang yang dulu melahirkannya. Sama juga di Kerajaan Majapahit dulu. Pemerintahan hidup dari upeti rakyat atas dagang, pertanian dan lain lain.
Mungkin kota ini terlalu lama berteduh. Dan siapa pun yang pernah berkebun tahu tanaman yang terlalu lama di bawah pohon rimbun tumbuh tinggi mencari cahaya, tapi batangnya kurus. Makanya pohon tinggi itu wajib ditebang supaya tamanan di bawahnya bisa berkembang.
Daron Acemoglu dan James Robinson, peraih Nobel 2024, akan menambahkan satu lapis lagi bangsa dan kota gagal bukan karena geografi atau budaya, melainkan karena institusi yang menentukan siapa boleh mendapat peluang.
Di kota yang ekonominya bertumpu pada anggaran, peluang cenderung mengalir ke mereka yang dekat dengan anggaran. Itu bukan selalu korupsi. Kadang ia hanya kebiasaan.
Dan akhirnya ada kendala yang paling telanjang, yang oleh Ricardo Hausmann disebut binding constraint yaitu satu simpul yang, selama tak dilepas, membuat semua obat lain sia-sia.
Bagi Tanjungpinang simpul itu bernama air. Kota ini menggantungkan diri pada waduk tadah hujan, dan sebuah studi memperkirakan kebutuhan airnya belum terpenuhi semua warga kota. Jika sudah kemarau, maka warganya sibuk mencari air.
Teori sering terdengar jauh, tapi akibatnya selalu dekat. Ia terasa di dapur.
Ia terasa pada jeriken yang dijajarkan di depan rumah setiap kemarau, dan pada air tangki yang dibeli per ton di pinggiran kota.
Ia terasa pada harga cabai dan beras yang memikul ongkos kapal inflasi kelompok makanan di kota ini menembus 7,29% secara tahunan pada Juni 2026 (Databoks). Lalu upah minimum Rp3,88 juta yang sekadar mengikuti angka provinsi, sementara harga di pasar tidak mengikuti siapa-siapa.
Lalu ada kota tua yang perlahan kehilangan denyut. Jalan Merdeka dan kawasan pelantar pernah menjadi jantung perdagangan; kini, sejak pusat pemerintahan bergeser ke Senggarang dan Dompak, ruko-ruko tua lebih sering menjadi latar foto ketimbang tempat transaksi.
“Di tempat kami jam 8.30 malam udah sepi. Makanya mau beli rumah di Batu 9 ini ramai,” kata kawan yang tinggal di dekat Jl Yusuf Kahar. Saya hanya jawab,” Kota Tua itu tinggal generasi tua. Tentu kalau malam malas keluar untuk ngopi.”
Warisan Melayu dirayakan dalam festival, tapi belum menjadi industri. Dan setiap usaha yang ingin melayani pasar lebih besar harus membayar pajak tak resmi bernama tiket feri.
Warga sendiri punya ungkapan yang lebih ringkas dari semua teori ini: kota ini ramai saat gajian, sepi saat tanggal tua. Kalau Max Weber hidup dia akan mengangguk. Tanda setuju.
Lalu apa? Tanjungpinang tidak perlu menjadi Batam kedua. Kota ini akan kalah dalam lomba itu. Ia perlu menjadi sesuatu yang tak bisa ditiru Batam.
Mulailah dari simpul Hausmann yakni air. Tanpa kepastian air, semua rencana lain adalah puisi. Kota ini perlu peta jalan sepuluh tahun yang tidak berganti setiap pergantian wali kota menekan kebocoran jaringan, melindungi hutan tangkapan Sei Pulai dari perambahan, dan membangun desalinasi skala menengah lewat kerja sama dengan badan usaha.
Elinor Ostrom, perempuan pertama peraih Nobel Ekonomi, menunjukkan bahwa sumber daya bersama paling awet bila komunitasnya ikut menjaga. Hutan di hulu waduk bukan urusan dinas semata; ia urusan kampung di sekitarnya.
Kemudian, kembali ke Jacobs: ganti impor. Setiap kilo cabai, ikan, dan sayur yang dihasilkan di Senggarang, Dompak, atau perairan sekitarnya adalah ongkos kapal yang tak perlu dibayar warga, dan uang yang tak perlu pergi.
Hortikultura lahan sempit, budi daya laut, pusat distribusi pangan kota ini bukan proyek romantis, melainkan kebijakan antiinflasi yang paling berkelanjutan.
Dan sambungkan yang terputus. Albert Hirschman mengajarkan bahwa investasi besar baru berarti bila ia menarik pemasok dan pembeli di sekitarnya.
Lagoi mendatangkan wisatawan asing ke Pulau Bintan; Dompak menyerap belanja pemerintah provinsi. Keduanya mestinya bermuara ke pasar, dapur, dan pengrajin kota.
Paket feri Singapura–Tanjungpinang–Lagoi dalam satu tiket, dan pengadaan pemprov yang mengutamakan usaha lokal, bisa mengubah aliran uang yang kini hanya melintas.
Selanjutnya jual apa yang tak dimiliki tetangga. Michael Porter menyebutnya keunggulan kompetitif; orang Melayu cukup menyebutnya marwah.
Penyengat, Gurindam, Kota Rebah, kuliner Melayu-Tionghoa: semua itu adalah klaster yang menunggu dikelola, bukan sekadar dipamerkan setahun sekali.
Richard Florida akan menambahkan bahwa pekerja kreatif dan pekerja jarak jauh memilih kota yang punya identitas dan biaya hidup wajar. Tanjungpinang, dengan kampus UMRAH, bisa menjadi tempat tinggal bagi mereka yang melayani klien di Singapura dan Batam.
Dan ini yang paling tidak populer: pajak. Bukan menaikkan tarif, melainkan menutup kebocoran.
Digitalisasi pajak restoran, hotel, dan parkir; pemutakhiran nilai objek pajak secara bertahap; dan pemanfaatan aset daerah yang tidur.
Menggandakan PAD dalam lima tahun bukan mimpi; banyak kota sedang lainnya telah melakukannya.
Mariana Mazzucato mengingatkan bahwa negara yang baik bukan sekadar pembayar gaji, melainkan investor yang berani. Untuk itu, BUMD harus dikelola profesional dan anggaran kota harus bisa dibaca warga dengan sekali klik.
Fernand Braudel, sejarawan yang menulis tentang Laut Tengah, mengajak kita membaca sejarah dalam longue durée, waktu yang panjang, di mana pelabuhan naik dan surut mengikuti arus yang lebih besar dari usia satu pemerintahan.
Dalam waktu yang panjang itu, Tanjungpinang bukan kota kecil. Pada abad ke-18, Riau di bawah para Yang Dipertuan Muda menjadi bandar dagang yang ramai di Selat Malaka, tempat kapal Bugis, Tionghoa, Arab, dan Eropa bertemu, dengan kebun gambir dan lada sebagai mesinnya.
Raja Haji Fisabilillah gugur pada 1784 melawan Belanda bukan untuk mempertahankan kota pegawai, melainkan untuk mempertahankan kota produsen.
Artinya, kemandirian bukan barang asing bagi tanah ini. Ia hanya terlupa.
Dua puluh lima tahun otonomi adalah waktu yang pendek dalam hitungan Braudel, tapi cukup panjang untuk membentuk kebiasaan. Dan kebiasaan, lebih dari kemiskinan, adalah lawan yang paling liat.
Raja Ali Haji menulis bahwa mengenal diri adalah awal mengenal yang lebih besar. Barangkali itulah hadiah ulang tahun yang paling berguna bagi Tanjungpinang: bukan tugu baru, bukan pesta kembang api, melainkan pengakuan yang jujur tentang siapa ia hari ini.
Sebuah kota yang lebih pandai menerima daripada menghasilkan, yang tumbuh di bawah teduhan, dan yang kini, ketika teduhan itu mulai menipis, terpaksa menghadapi matahari.
Pinang yang ditanam seperempat abad lalu sudah tinggi. Pertanyaannya, pada ulang tahun ke-50 nanti, apakah ia akhirnya berbuah, atau tetap menunggu disiram dari seberang laut. Patut kita renungkan bukan?.








