Hasrul Sani Siregar, MA
Widyaiswara di BPSDM Provinsi Riau
Tulisan ini hadir dari perjalanan penulis ke hutan pinus yang menjadi lokasi syuting film Buya Hamka yaitu Hutan Pinus Taram yang terletak di kawasan wisata Kapala Banda Taram, Kabupaten Lima Puluh Kota (50 Kota), Sumatera Barat beberapa waktu yang lalu. Hutan pinus tersebut sering jiga disebut dengan Wakanda Park. Tentu perjalanan yang dilakukan untuk mengenang sosok ulama besar yang dimiliki Indonesia. Untuk mengenal sosok Buya Hamka secara utuh, tentu dengan mengenal tulisan-tulisan beliau. Buku tentu menjadi bacaan yang berisi segala ilmu yang ada di dalamnya. Buya Hamka telah menjadi symbol seorang ulama dan penulis yang telah meninggalkan beberapa ilmu dengan tradisi menulisnya.
Tradisi menulis yang kemudian menjadi buku sebenarnya telah lama di warisi oleh tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan, salah satunya adalah Buya Hamka. Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohamad Hatta, Tan Malaka dan dan banyak yang lainnuya seperti Natsir, Sutan Takdir Alisyahbana dan Amir Hamzah. Buya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), seorang tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia tersebut telah mewarisi tradisi dalam hal menulis sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia. Dan hasil karyanya dapat di baca hingga saat ini.
Kebiasaan menulis telah menjadi tradisi dalam perjuangan khususnya bagi perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia. Tokoh seperti Buya HAMKA yang dalam aktivitas kesehariannya selalu menulis, menulis dan menulis. Kualitas tulisan Buya HAMKA tidak diragukan lagi. Tokoh pejuang kemerdekaan dan penulis tersebut juga dikenal sebagai ulama besar dari Muhammadiyah. Buya HAMKA tidak saja dikenal sebagai tokoh politik, Ulama besar, Filsuf dan Sastrawan namun juga seorang penulis yang memiliki kualitas penulisannya yang cukup hebat. Kualitas kehebatan Buya HAMKA dalam hal tradisi menulis tersebut adalah lahirnya mahakarya yaitu Tafsir Al-Azhar. Beliau menyelesaikannya di penjara lebih kurang 2 tahun 4 bulan. Beberapa hasil karya beliau seperti tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Tasawuf Modern, Di bawah Lindungan Ka’bah, Merantau ke Deli, Pandangan Hidup Muslim dan beberapa karya beliau lainnya.
Dalam Film perjuangan Buya HAMKA yang sudah tayang di beberapa bioskop di Indonesia hingga juga di Malaysia dapat diamanati dan dipelajari bahwa tradisi menulis merupakan salah satu kekuatan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dalam perjuangan Buya HAMKA tersebut dapat diambil pelajaran bahwa tradisi menulis telah menjadi kekuatan oleh tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Banyak lagi tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia yang tradisi menulis menjadi kekuatannya seperti Tan Malaka.
Tradisi dan kebiasaan menulis merupakan suatu keniscayaan dalam hal peningkatan kompetensi dan dalam upaya membangun generasi yang cerdas akan ilmu pengetahuan. Di banyak negara, tradisi menulis telah menjadi terobosan di lembaga-lembaga yang berhubungan dengan peningkatan sumber daya manusia. Hasil penelitian yang telah dipublikasikan di jurnal dan majalah akan menjadi rujukan bagi pengambil kebijakan untuk di rumuskan dan seterusnya di aplikasikan. Penulis berkeyakinan, tradisi dalam hal menulis akan meningkatkan kemampuan berpikir kritis untuk berupaya memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada selama ini.
Ketersediaan insfrastruktur yang memadai menjadi hal yang penting dalam upaya meningkatkan tradisi menulis tersebut. Ketersediaan infrastruktur berupa internet dan perangkat yang mendukungnya seperti ruangan dan ketersediaan buku-buku merupakan faktor yang juga penting dalam upaya peningkatan tradisi menulis tersebut. Tingkat pembangunan suatu bangsa yang di dalamnya peningkatan pengetahunan literasinya sangat berkaitan pula dengan dukungan pemerintah dalam mengalokasikan anggaran untuk meningkatkan dorongan akan pengetahuan menulis tersebut. Oleh sebab itu, mulailah dengan tradisi menulis yang telah dilakukan oleh para tokoh perjuangan Indonesia, agar rentetan sejarah tidak akan hilang dan dilanjutkan dengan generasi selanjutnya. Catatan perjalanan ke hutan pinus, Sumatera Barat.












