RiauKepri.com, SIAK– Upaya Bupati Siak Dr. Afni Zulkifli, M.Si., memperjuangkan pelestarian warisan sejarah Kesultanan Siak ke pemerintah pusat membuahkan hasil. Setelah menemui langsung Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan mengusulkan revitalisasi sejumlah bangunan bersejarah, kini pengerjaan revitalisasi Istana Asserayah Hasyimiyah dan Balairung Sri akhirnya mulai dilaksanakan.
Revitalisasi dua bangunan bersejarah tersebut didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dengan demikian, pekerjaan pelestarian warisan budaya Kesultanan Siak itu tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Siak yang saat ini menghadapi keterbatasan ruang fiskal.
“Alhamdulillah, di tengah kondisi sempitnya ruang fiskal, rezeki Siak dilapangkan Allah SWT. Akhirnya dimulai pelaksanaan revitalisasi Istana Asserayah Hasyimiyah yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional, dan Balairung Sri,” kata Afni saat doa bersama DPRD Riau, Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Siak, tokoh agama, tokoh masyarakat dan Forkopimda, Kamis (5/11/2026).
Perjuangan mendapatkan dukungan pemerintah pusat tersebut sebelumnya dilakukan Afni dengan menemui langsung Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Dalam pertemuan itu, Afni menyampaikan usulan revitalisasi Istana Siak dan Balai Kerapatan Tinggi Siak, sekaligus mengundang Menteri Kebudayaan menghadiri kegiatan Julang Budaya Siak.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Siak membuka dukungan pemerintah pusat untuk menyelamatkan dan merawat peninggalan sejarah Melayu yang memiliki nilai penting bagi kebudayaan nasional.
Saat itu, Fadli Zon menyatakan komitmen pemerintah pusat untuk mendukung pelestarian warisan budaya Melayu di Siak. Menurut dia, kebudayaan Melayu merupakan bagian penting dari akar kebudayaan Indonesia.
“Kebudayaan Melayu adalah bagian penting dari akar kebudayaan Indonesia. Siak memiliki warisan luar biasa, dari istana, manuskrip, hingga tradisi yang masih hidup. Pemerintah akan terus mendukung upaya pelestarian dan revitalisasi agar warisan ini tidak hilang dimakan waktu,” ujar Fadli Zon ketika menerima Afni.
Kini, dukungan tersebut mulai terlihat melalui pelaksanaan revitalisasi Istana Asserayah Hasyimiyah dan Balairung Sri. Kedua bangunan yang selama ini menjadi tujuan wisata sejarah itu akan ditutup sementara selama 60 hari kerja untuk mendukung kelancaran proses pengerjaan.
Meski demikian, wisatawan yang berkunjung ke kawasan Istana Siak masih dapat mengabadikan dokumentasi dari luar bangunan.
Afni berharap seluruh tahapan revitalisasi berjalan lancar sehingga kedua bangunan bersejarah tersebut dapat kembali dikunjungi masyarakat dan wisatawan dengan kondisi yang lebih baik.
Menurut Afni, revitalisasi bukan sekadar mempercantik bangunan atau meningkatkan kenyamanan pengunjung.
Lebih dari itu, pekerjaan tersebut merupakan tanggung jawab bersama dalam menjaga peninggalan sejarah Kesultanan Siak agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Terlebih, Istana Asserayah Hasyimiyah dan Balairung Sri menyimpan jejak panjang perjalanan Kesultanan Siak, termasuk sejarah perjuangan Sultan Syarif Kasim II yang memberikan sumbangsih besar bagi kemerdekaan Indonesia.
Bupati perempuan pertama di Siak itu pun menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Kebudayaan atas dukungan anggaran revitalisasi tersebut.
Mantan wartawan itu berharap perhatian pemerintah pusat terhadap pelestarian warisan budaya Siak tidak berhenti pada dua bangunan itu, tetapi terus berlanjut terhadap situs-situs bersejarah lainnya yang menjadi bagian dari kekayaan budaya bangsa. (RK1)












