RiauKepri.com, SIAK– Kepergian H. Arwin AS ternyata tak hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan orang-orang terdekat. Sosok yang pernah memimpin Kabupaten Siak selama dua periode itu juga meninggalkan jejak pengabdian yang masih dikenang oleh jajaran pemerintahan hingga hari ini.
Senin (2/11/2026), suasana Kantor Bupati Siak di Kompleks Perkantoran Tanjung Agung, Mempura, terasa berbeda. Tak ada agenda seremonial pembangunan ataupun rapat pemerintahan. Sejumlah pejabat dan aparatur sipil negara (ASN) berkumpul untuk satu tujuan: mengirimkan doa bagi almarhum.
Di lantai II Kantor Bupati Siak, Surah Yasin dilantunkan. Bacaan tahlil dan doa mengalir, dipimpin Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Siak, Novendri. Kepala OPD, ASN hingga tenaga non-ASN mengikuti rangkaian kegiatan dengan khusyuk.
Di antara mereka hadir Wakil Bupati Siak Syamsurizal. Ia mengajak seluruh peserta menjadikan bacaan Yasin dan tahlil sebagai sedekah pahala untuk almarhum.
“Bersama-sama kita doakan ayahanda kita. Baca Yasin, tahlil bersama. Mudah-mudahan apa yang kita bacakan ini kita sedekahkan kepada ayahanda kita,” ujar Syamsurizal.
Panggilan “ayahanda” yang disampaikan Syamsurizal seolah menggambarkan bagaimana almarhum tidak sekadar dipandang sebagai mantan kepala daerah. Ada penghormatan terhadap sosok yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang Kabupaten Siak.
Syamsurizal juga mengajak seluruh peserta memohon ampunan Allah SWT atas segala kekhilafan almarhum semasa hidup, sekaligus berharap seluruh amal ibadahnya diterima.
“Kalau ada kesalahan beliau, mudah-mudahan diampunkan Allah SWT. Kita doakan semoga beliau mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah SWT,” katanya.
Bagi Syamsurizal, nama Arwin AS tak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya Kabupaten Siak. Almarhum merupakan bupati pertama yang terpilih secara demokratis dan memimpin daerah berjuluk Negeri Istana itu selama dua periode, 2001–2006 dan 2006–2011.
“Sejak Kabupaten Siak berdiri, beliau sudah memberikan pengabdian untuk daerah ini. Siak ini punya kita bersama, bukan orang lain. Mari kita bersama-sama membangun Siak ke depannya,” tuturnya.
Doa bersama itu kemudian ditutup dengan tangan-tangan yang menengadah. Di tengah kesibukan menjalankan roda pemerintahan, para aparatur sejenak berhenti untuk mengenang seseorang yang pernah mengabdikan hidupnya bagi daerah tersebut.
Sebab, jabatan dan masa kepemimpinan pada akhirnya akan berlalu. Namun, bagi sebuah daerah, jejak pengabdian seseorang akan tetap menjadi bagian dari perjalanan sejarahnya.
Hari itu, Pemkab Siak tidak sekadar mengenang seorang mantan bupati. Mereka mengirimkan doa untuk sosok yang turut meletakkan fondasi perjalanan Negeri Istana. Al-Fatihah. (RK1)











