Menu

Mode Gelap
Komitmen Tanpa Kompromi: Polres Bengkalis Gencarkan Perang Narkoba, Desa Jangkang Jadi Pelopor Kampung Bersih dari Narkoba Bupati Siak Buka Pelatihan Guru RA, Tekankan Pendidikan Berbasis Cinta Oknum Guru Honorer di Meranti Ditangkap Empat Pelaku Pemuja Narkotika Dibekuk di Rupat, Polisi Amankan Sabu 1,13 Gram Haru dan Penuh Makna, BRK Syariah Lepas 12 Pegawai Menuju Tanah Suci Bathin Solapan Diguncang! Pengedar Sabu 8,40 Gram Diringkus Polres Bengkalis

Minda

Mewarisi Kartini: Jalan Perempuan Muslim dari Kegelapan ke Terang

badge-check


					Mewarisi Kartini: Jalan Perempuan Muslim dari Kegelapan ke Terang Perbesar

Oleh: Andryan Rahmana Riswandi

SETIAP peringatan Hari Kartini, kita mengenang sosok perempuan hebat yang tidak hanya menjadi simbol emansipasi, tetapi juga pelopor kesadaran akan pentingnya pendidikan dan kebebasan berpikir bagi perempuan. Kartini tidak memberontak dengan senjata, tetapi dengan pena dan gagasan. Ia membuka jalan dari kegelapan menuju terang, dari ketertinggalan menuju kemajuan. Dalam konteks ini, ungkapan legendarisnya “Habis gelap, terbitlah terang” bukan sekadar kalimat puitis, melainkan gambaran nyata dari perjuangannya.

Menariknya, semangat yang dibawa Kartini memiliki keselarasan mendalam dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 257, Allah SWT berfirman:
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya…”

Ayat ini menegaskan bahwa keimanan membawa manusia keluar dari berbagai bentuk kegelapan: kebodohan, ketidakadilan, penindasan, dan kejumudan. Cahaya yang dimaksud bukan sekadar terang secara fisik, melainkan juga cahaya ilmu, keadilan, dan kesadaran spiritual. Inilah yang diperjuangkan Kartini mengangkat derajat perempuan melalui pendidikan agar mereka mampu berpikir, memilih, dan berperan aktif dalam kehidupan.

Kartini bukanlah sosok yang menentang nilai agama. Justru, dalam banyak suratnya, ia mengungkapkan ketertarikan mendalam terhadap Islam, bahkan sempat menyampaikan keinginan untuk bisa membaca Al-Qur’an dengan pemahaman yang lebih baik. Ia melihat bahwa Islam sejatinya menjunjung tinggi perempuan, sebagaimana tergambar dalam banyak ayat Al-Qur’an dan keteladanan Nabi Muhammad SAW.

Perjuangan Kartini hendaknya kita lanjutkan bukan sekadar sebagai simbol seremoni tahunan, melainkan sebagai inspirasi nyata untuk membangun masyarakat yang berkeadaban, inklusif, dan tercerahkan. Terutama bagi generasi muda Muslimah, nilai-nilai yang diwariskan Kartini dan petunjuk ilahi dari Al-Qur’an seharusnya menjadi bahan bakar untuk terus bergerak, belajar, dan memberi manfaat bagi sesama.

Saatnya kita pahami bahwa cahaya dalam ayat “minadzulumati ilan-nur” bukan hanya milik masa lalu. Ia adalah panggilan zaman, untuk setiap jiwa yang ingin bangkit dari gelapnya ketertinggalan menuju terang peradaban.

Tentang Penulis:
Andryan Rahmana Riswandi adalah seorang anak muda dari Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, pemerhati isu sosial keislaman, dan aktif dalam kegiatan sosial keislaman dan literasi. Ia percaya bahwa Islam dan pendidikan adalah dua kunci utama dalam membangun peradaban yang berkeadilan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dekarbonisasi Industri Migas: Strategi Transisi Menuju Net Zero Emission 2050

15 April 2026 - 08:15 WIB

Terkilan

12 April 2026 - 08:17 WIB

Penyair dan Makna Puisi di Tengah Zaman Visual

12 April 2026 - 00:13 WIB

Sultan Asam Urat

11 April 2026 - 07:53 WIB

Pemanfaatan Energi Surya dalam Industri Migas: Strategi Dekarbonisasi Berbasis Teknologi dan Implementasi Global

7 April 2026 - 07:42 WIB

Trending di Minda