Menu

Mode Gelap
TJA Minta Maxim Stop Rekrutmen Driver Baru, Tunduk Terhadap Pergub Tarif Atas Bawah MTI Kepri: DPRD dan Dishub Sebaiknya Beri Pemahaman, Bukan Harapan Palsu kepada Driver Online Prakiraan Cuaca Kepri Rabu, 11 Februari 2026: Hujan Ringan Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah Telan Anggaran Rp233,48 Juta, DPRD Meranti Tinjau Pembangunan Duiker Simpang Puskemas Zona Integritas Diresmikan, Imigrasi Selatpanjang Bidik WBK dan WBBM Kades Batu Berapit Apresiasi Wartawan Anambas, Berkah Terima Bantuan Sembako HPN 2026

Kuansing

Herman Taylor Penjahit Senior di Kuantan Singingi

badge-check


					Herman Taylor. F: Dok Perbesar

Herman Taylor. F: Dok

50 tahun sudah dia menggeluti profesi sebagai tukang jahit. Begitu tunak dia menggeluti profesinya itu.

Wajar jika orang dan langganan setianya menyebutnya penjahit paling senior di Kecamatan Sentajo Raya. Bahkan mungkin di Kuantan Singingi, Riau.

Sebutan itu tidaklah berlebihan. Dia menggeluti profesinya itu sejak usia 20 tahun hingga kini 60 tahun.

Itulah Herman alias Eman. orang memanggilnya Eman Jaik atau Herman Taylor. Dia adalah penjahit humoris paling senior dari Sentajo Raya, Kuantan Singingi, Riau.

Di kedainya yang sederhana di deretan Kedai Jauh Desa Koto Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi, Eman masih setia menggoyang mesin jahit tuanya yang sudah dimodifikasi.

Jangan ditanya kepadanya berapa kodi kain yang sudah dihabiskannya. Eman tentu tak bisa lagi menghitungnya – saking banyaknya pakaian yang sudah dijahitnya.

Dan pelangganan setianya sejak tahun 1970-an hingga sekarang kebanyakan tidak pernah lari dari dirinya. Sebab, jahitannya sangat rapi. Dia betul-betul menjaga kualitas jahitannya.

Di usianya yang makin menua apakah Eman merasakan ada perubahan pada dirinya?

“Lutut saya sudah mulai gatur. Mata mulai kabur. Kaki tidak lagi lentur. Ini namanya faktor U alias Umur,” ujar penjahit senior yang sudah berusia 60 tahun tersenyum.

Kendati demikian Eman tidak tahu kapan akan berhenti jadi tukang jahit. “Menjahit ini adalah tapak lapan saya. Di sinilah saya membesarkan lima orang anak bersama istri tercinta: Aryanti hingga dewasa dan mandiri.

Eman menyebut lima anaknya: Dedi, Agus, Yesi, Nando, dan Rina kini sudah mandiri. “Sekarang di rumah kami tinggal berdua. Dunia ini serasa milik kami berdua. Yang lain itu hanya numpang,” ujar Eman yang kini tinggal di Desa Kampung Baru Sentajo.

Dan jejaknya sebagai penjahit diikuti dua anaknya. Agus di Pangian dan Rina di Muaro Sentajo.

Lalu apa pesannya kepada generasi muda? “Apapun jenis pekerjaannya asalkan itu halal dan dikerjakan dengan hati yang ikhlas pasti berkah.”

Pesan lainnya, “Lelah boleh, menyerah jangan. Hidup itu harus diperjuangkan, kawan!” ujarnya mengakhiri.

Bravo Bang Eman!

 

Sahabat jang itam

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Improved Oil Recovery (IOR): Peluang Nyata bagi BUMD Riau di Tengah Menurunnya Produksi Minyak

9 Februari 2026 - 20:05 WIB

Kenduri Wartawan

8 Februari 2026 - 11:13 WIB

Gading

7 Februari 2026 - 06:20 WIB

Pers Card Number One: Jalan Panjang Kesetiaan Cak Iban

5 Februari 2026 - 09:24 WIB

Pendulang Tradisional Terjaring, Polisi Bongkar Dapur Emas Ilegal di Kuansing

3 Februari 2026 - 11:19 WIB

Trending di Kuansing