Menu

Mode Gelap
Prakiraan Cuaca Kepri Kamis, 11 Juni 2026: Tanjungpinang dan Batam Berpotensi Hujan Ringan, Wilayah Kepulauan Dominan Cerah Berawan LAMR: Jangan Diamkan Pelanggaran HAM Kepada Masyarakat Adat Bhabinkamtibmas Desa Bantar Panen Cabai Rawit Dukung Ketahanan Pangan Bina Desa Mahasiswa PBM FIB Unilak Dalami Adat Pernikahan Mempura Siak LAMR Sambut Kehadiran BPK Riau, Perkuat Pelestarian Adat dan Budaya Melayu DPRD Batam Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025, Pemko Pertahankan WTP ke-14

Minda

Mengenang Hamsirman “Bujang Lapuak” dari Kuantan Singingi

badge-check


					Mengenang  Hamsirman “Bujang Lapuak” dari Kuantan Singingi Perbesar

“KAMI mencintaimu…
Kami merindukanmu…
Kami berharap kau ada di sini bersama kami…
Lubang dalam hidup kita sekarang tidak akan pernah bisa diisi…
Semangatmu akan hidup selamanya di hati kami…
Kita akan bertemu suatu hari lagi,”

KATA-kata bijak itu terucap dari lidah Upik Rozita mengenang Hamsirman. Bagi Upik sapaan akrab “Cik Gu” SMP Satu Atap Desa Pulau Kopung Sentajo ini, Hamsirman bukan hanya sekedar abang kandung tapi juga teman, tempat curhat sekaligus panutan dan orang yang berjasa dalam hidupnya.

“Abang yang selalu ada ketika kami membutuhkan. Abang yang selalu berbuat ketika kami masih berpikir. Abang yang mampu mencarikan solusi ketika kami punya masalah. Itulah abang Hamsirman,” kenang Upik.

“Lalu siapa Hamsirman?”

Masyarakat di Kuantan Singingi lebih mengenal namanya “Apuak” ketimbang nama aslinya Hamsirman. “Kalau orang tanya Apuak sudah pasri Hamsirman. Dan jika tanya Hamsiman belum tentu Apuak,” ujar Upik.

Dan kata Upik, nama Apuak itu punya sejarah tersendiri. “Menurut cerita ibu, sewaktu kecil abang sering sakit-sakitan. Ibu lalu merubah nama dan memanggil abang itu Apuak. “Ce lapuak nyawo ang ma, nak. Bujang lapuaklah namo ang kini lai,” ujar ibu melihat kondisi abang yang sakit-sakitan ketika itu.

Seiring perjalanan waktu nama Apuak lebih dikenal orang ketimbang nama aslinya Hamsirman. Si Bujang Lapuak yang semasa kecil sakit-sakitan ternyata tumbuh menjadi anak yang ceria, aktif, dan membanggakan bagi keluarga.
====
HAMSIRMAN lahir di Desa Koto Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya pada 21 Desember 1967. Dia terlahir sebagai anak ke enam dari delapan bersaudara dari pasangan Mohd. Syafe’i dan Rosnah. Saudaranya yang lain adalah Syabaruddin, Apriadi, Khairanis, Indra Jaya, Rostian, Upik Rozita, dan Nurita.

Mohd. Syafe’i asal Pulau Kopung Sentajo adalah orang pertama dari Kenegerian Sentajo yang jadi polisi. Jabatan dan pangkat cukup tinggi. Pensiun dari Polres Indragiri Hulu 24 Juni 1975 dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu). Sedangkan Rosnah adalah ibu rumah tangga biasa yang berjualan kue untuk menambah penghasilan suaminya.

Hamsirman menamatkan SD 1 Kampung Baru Sentajo tahun 1981, SMP 1 Sentajo (1984), dan SMA Benai (1987). Lalu melanjutkan pendidikan di Universitas Riau (Unri), Pekanbaru. Dia memilih Jurusan/Prodi: Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial/ Pogram Studi Pendidikan Sejarah. Dia mahasiswa berprestasi dan penerima beasiswa Tunjangan Ikatan Dinas (TID) dari Unri.

Zaman sebelum otonomi daerah diberlakukan, beasiswa yang paling diburu mahasiwa calon guru adalah Beasiswa TID. Dengan beasiswa itu terbuka lebar pintu menuju CPNS Guru yang diangkat langsung oleh pemerintah Pusat. Namun, tidak mudah mendapatkan Beasiswa TID.

Mengapa?

Sebab tidak setiap tahun dianggarkan dan diadakan untuk seluruh perguruan tinggi. Saingannya juga banyak yang berasal dari mahasiswa aktivis kampus. Namun Hamsirman berhasil mendapatkan “beasiswa” yang menjadi rebutan itu.

Selama menempuh pendidikan di Unri, Hamsirman nyambi kerja jadi kernet bus kampus milik Abdullah Tassin asal Sentajo yang bekerja di Dinas Kehutanan Riau. Di rumah Abdullah Tassin Jl. Nangka Nomor 122 Pekanbaru ia tinggal sembari mengajar mengaji anak H. Abdullah Tasin dan Jusniwar.

Sebagai mahasiswa Hansirman juga aktif dalam pelbagai aktivtas dan kegiatan kampus. Pernah menjadi asisten dosen dari Prof. Suwardi MS dan bergabung dengan organiasi sosial Ikatan Keluarga Sentajo (IKS) Pekanbaru yang dipimpin oleh Syahril Hamid.

Hamsirman betul-betul sudah mandiri selama menjalani pendidikan di Unri. Dia menjalani dan memahami betul arti pantun:
Berakit-rakit ke hulu.
Berenang-renang ke tepian.
Bersakit-sakit dahulu.
Bersenang-senang kemudian.

Setamat kuliah tahun 1992, Hamsirman sempat menjadi guru honorer di MTs Nurul Islam Sentajo kini MTs 2 Kuantan Singingi, MAN Telukkuantan, dan SMU Muhammadiyah Telukkuantan. Kemudian di angkat jadi PNS di SMUN 450 – tahun 1994. Selama mengajar itu dia aktif sebagai Pembina OSIS dan Sanggar Kreatif Kemuning di sekolah yang kini berganti nama menjadi SMA 1 Telukkuantan ini.

Awal tahun 2000-an Bupati Kuantan Singingi Sukarmis kala itu mengajak Hamsirman pindah ke Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi. Di sini dia pernah menduduki jabatan eselon III di Dinas Kebudayaan Pariwisata, Diskominfo, dan Kesbangpol Kuantan Singingi.

Di luar aktifitasnya sebagai abdi negara, Hamsirman aktif mengisi acara kesenian di Kuantan Singingi. Jadi MC, penata musik, tari, dan lainnya. Dia juga sering diminta mengisi acara dan menjadi pembawa acara di Radio Pemerintah Daerah milik Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi. Terkadang diajak menjadi pembawa acara bersama penyiar RRI di Pekanbaru.

Totalitasnya di dunia seni pada 2012 Hamsirman mendirikan sanggar tari, musik, dan teater dengan nama Sanggar Batobo. Sanggar yang beralamat di Kampung Baru Sentajo ini pernah mengikuti kegiatan pergelaran seni di Taman Budaya Riau tahun 2012, seni tradisi di Dewan Kesenian Riau (DKR) tahun 2014 dan pergelaran randai Kuantan di Taman Budaya Pekanbaru 2016.

Hamsirman juga menghasilkan album musik dengan lagu daerah Kuantan Singingi bergenre dangdut. Album pertamanya bersama Team Kreatif Sanggar Kemuning Senja SMUN Telukkuantan keluar tahun 1999.

Di album perdananya itu Hamsirman duet dengan Ika Ningsih. Tak hanya menyanyi, tapi dia juga ikut menciptakan lagu bersama seniman Kuantan Singingi lainnya: Akmal, Roeslan, Yus Maumin, dan Iskandar.

Pada album pertama side A album perdanya terdapat lima judul lagu: Takuluak Barembai , Makan Gaji, Manganyam, Kuantan Singingi dan Kuantan Segalo Jadi. Sedangkan pada side B juga terdapat lima lagu: Musim Pacu Jaluar ciptaan Yus Maumin, Sarak Tunangan, Nasib Tukang Canang, Bajudi, dan Batobo.

Album yang diterbitkan Pipin Record dan Produksi Sari Pesona Record. Sedangkan penata musik/Arrangernya Boy Mahmud meledak di pasaran.

Kemudian pada tahun 2002, Hamsirman kembali meluncurkan album kedua. Lalu pada tahun 2005 kembali meluncurkan album ketiga lagu daerah bergenre dangdut.

Ada delapan judul lagu dalam album ketiganya ini. Tiga lagu, musiknya di arranger oleh Wandri Skill yakni Manakiak, Cinto Barorai Jo Rate Limau, dan Tagerai Obuak Nan Panjang. Sedangkan lima lagu musiknya di arranger oleh Djejeb SUM yakni Cinto Larangan, Ratok Padi Ampo, Takijau Dek Nan kayo, Topuak Ambai-ambai, dan Kamari Bedo.
=======
HAMSIRMAN menikah dengan Hefi Yanis anak dari M. Yunus dan Junismah. Dia menikah dengan anak pamannya M. Yunus. Di Sentajo pernikahan seperti ini lazim disebut “pulang ka bako.”

Dari pernikahan itu pasangan ini punya empat anak yakni Yakni Nur Octaviony, Nadya Leoni Agustin, Tri Anugrah Ramadhan, dan Riska Happya Hamsir.

Kemudian pada 29 Agustus 2021 Hamsirman meninggal dunia di RSUD Telukkuantan. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan seniman Kuantan Singingi.

“Hamsirman meninggal dunia ketika dunia kesenian di Kuantan Singingi masih membutuhkan uluran tangan dan tunjuk ajarnya. Sungguh, Kuantan Singingi kehilangan salah seorang seniman terbaiknya,” ujar Komedian Nasional peraih juara 2 pada ajang Akademi Pelawak Indonesia di Televisi Pendidikan Indonesia, Abral Nyanyah.

Sementara itu seniman Kuantan Singingi lainnya Suparmi mengatakan lagu-lagu Hamsirman dari tiga albumnya masih sering dinyanyikan dan sering muncul di media sosial seperti: tik tok, instagram, youtube, facebook, dan lainnya.

Artinya kata Parmi yang dijuluki seniman serba bisa asal Kopah, Kecamatan Kuantan Tengah ini karya Hamsirman tidak pernah matinya – kendati sang pencipta dan penyanyi sudah meninggal untuk selama-lamanya.

Istilahnya kata Suparmi karya Hamsirman tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas. Ini realitasnya.

Dalam pandangan adiknya Upik Rozita, sosok Hamsirman adalah abang yang tidak pernah menyerah dengan keadaan. Sosok panutan yang peduli dengan adik-adiknya.

“Abang memperhatikan tumbuh kembang kami adik-adiknya, termasuk ponakannya. Pokoknya abang itu ist the bestlah,” kata alumnus FKIP Unri ini.

Upik mengakui sangat merindukanmu sosok abangnya itu. Upik bahkan tidak percaya jika abangnya itu benar-benar pergi. Seperti mimpi abang masih ada di samping kami. Bersenda gurau dan berkabar adalah kebiasaan abang jika bertemu. Senyuman manis di balik kumis tipisnya itu sangat mengoda dan terasa meruntuhkan dunia.

Aha…..

“Sangat sulit tanpamu, tapi Upik tahu abang berada di tempat yang lebih baik daripada dunia yang kejam ini. Upik yakin abang menjaga kami. Abang akan selamanya dirindukan dan tidak pernah dilupakan.”
====
Penulis Naskah: Sahabat Jang Itam

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dikeluarkannya Singapura dari Malaysia

8 Juni 2026 - 14:17 WIB

Minyak Serpih (Shale Oil)

8 Juni 2026 - 07:26 WIB

Tulang Politik

7 Juni 2026 - 09:32 WIB

Tinggal Senging

6 Juni 2026 - 08:01 WIB

Blok Kekuatan Baru

4 Juni 2026 - 13:05 WIB

Trending di Minda