RiauKepri.com, PEKANBARU- Syahdan, sudah lebih dari dua dekade jerebu, kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) menjadi bagian dari hidup masyarakat Provinsi Riau. Ia bukan permainan lukah: datang tak diundang, balik tak diantar. Dia datang mengetuk pintu, ditandai dengan musim kemarau, menjadi tamu tahunan yang menghantui rakyat di tanah Melayu, Lancang Kuning. Lalu siapa “keledai” sehingga masalah ini tak kunjung selesai?
Kini, di tahun 2025, Karhutla menyala lagi. Sabtu, 19 Juli 2025, Riau mencatatkan 259 titik panas, tertinggi di Pulau Sumatera. Rokan Hulu jadi penyumbang terbanyak dengan 107 titik, disusul Rokan Hilir dengan 95 titik. Hotspot juga tersebar di Siak, Dumai, Kampar, Pelalawan, Bengkalis, hingga Indragiri Hulu. Dari pantauan satelit, Sumatera secara keseluruhan mencatat 694 titik panas dan Riau kembali jadi sorotan.
Di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), api melalap kawasan perbukitan di Kelurahan Rokan. Medannya ekstrem, tak ada sumber air, dan asap tebal menghalangi pandangan. Petugas hanya bisa pasrah menunggu bantuan helikopter water bombing, karena pemadaman darat terlalu berisiko, bisa celaka.
Sementara itu, di Rokan Hilir (Rohil), 77 titik Karhutla terpantau di atas lahan gambut kering yang mudah terbakar. Wakil Bupati Rohil, Jhoni Charles, turun langsung bersama Kapolres dan Dandim memadamkan api dengan pompa air seadanya. Api cepat menyebar, dibantu angin kencang dan kemarau panjang. Lagi-lagi, upaya dari darat terkendala jarak sumber air yang jauh dan asap pekat yang menyelimuti.
Bukan Masalah Baru
Karhutla dan kabut asap bukan hal baru di Riau. Sejak 1997, masyarakat sudah akrab dengan jerebu. Tahun-tahun terparah terjadi pada 2014 dan 2015, ketika kabut asap ditetapkan sebagai bencana nasional. Hanya pada beberapa tahun seperti 2007, 2008, 2016, 2017, dan 2018, langit Riau sempat benar-benar terlihat biru.
Ironisnya, masa pandemi Covid-19 dari 2020 hingga 2023 justru memberi jeda. Fokus pemerintah terhadap kesehatan publik membuat aktivitas pembukaan lahan menurun. Langit Riau kembali biru, dan udara pun terasa segar meski kemarau datang.
Namun kini, tahun 2025, kabut asap datang lagi. Seiring gencarnya penertiban lahan di kawasan konservasi oleh Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH), titik-titik api bermunculan. Lahan dirambah, kayu dibersihkan, dan hutan dibakar. Cara lama, dengan motif baru.
Jalan Pintas Bencana
Praktik membuka lahan dengan membakar bukan rahasia umum lagi di Riau. Murah, cepat, dan efisien, itulah alasan utama para pelaku. Padahal, yang murah untuk satu pihak, mahal untuk seluruh rakyat. Kabut asap merusak kesehatan, ekonomi, pendidikan, hingga hubungan diplomatik dengan negara tetangga.
Hari ini, Takkan Karhutla Hilang di Riau, agaknya slogan paling tepat yang
bukan sekadar sindiran. Ia sudah menjelma jadi kenyataan pahit. Riau masih berjuang, tapi nyala api seakan lebih cepat dari upaya pemadaman. Selama pembakaran lahan masih dianggap solusi praktis, selama pengawasan hanya reaktif saat asap datang, maka tak ada yang menjamin jerebu tak datang lagi tahun depan. Apalagi penegakan hukum pada kasus ini seperti tangkap satu tumbuh seribu.
Harapan yang Tersisa
Langit Riau mungkin cerah berawan hari ini, seperti prakiraan BMKG. Tapi itu hanya langit yang terlihat. Di baliknya, masih ada asap yang menyelinap pelan, masih ada titik api yang menyala dalam senyap di kedalaman tanah gambut.
Rakyat Riau hanya bisa menunggu ending cerita ini, apakah tahun depan mereka masih akan berkata hal yang sama?
“Takkan Karhutla Hilang di Riau.” (RK1)







