“INDUK somang” adalah sebutan atau nama lain dari “toke gotah” atau pengusaha karet di Kuantan Singingi, Riau.
Di setiap kenegerian di Kuantan Singingi ada induak somang. Di Kenegerian Benai misalnya ada Nazaruddin, Sadurdin, dan Musa Kihi.
Musa Kihi lebih dikenal dengan sebutan “induak somang guliang.” Ada juga yang menyebut “induak somang duduak” atau “induak somang tiduar.”
Namun gelar “induak somang guliang” lebih familiar dibandingkan dua gelar lainnya itu.
“Kenapa Musa Kihi digelari induak somang guliang?”
Sejarahnya cukup panjang. Sebagai induak somang, Musa Kihi tidak seperti iduak somang lainnya yang secara fisik sehat. Disebabkan penyakit lumpuh yang dideritanya, dia hanya bisa melayani anak somang atau anak buahnya sembari guliang (berbaring).
Penyakit ini bermula ketika Musa Kihi kuliah di Yogyakarta. “Bapak waktu kuliah sakit. Abang Bapak Soam dan Umar menjemput ke Yogyakarta untuk berobat di kampung halaman. Alhamdulillah berkat ketelatenan dan ketekunan berobat ke dokter, Bapak bisa sembuh,” ujar anaknya Gumpita.
Sebagai induak somang, anak somang Musa Kihi tersebar di Kenegerian Benai, Siberakun, Simandolak, Kopah, dan Pangian. Dia menjual karet ke Telukkuantan (Kuantan Tengah) dan Baserah (Kuantan Hilir).
Induak somang karet yang terkenal waktu itu adalah Cikau dan Panjang Geleng di Telukkuantan. Sedang di Baserah (Kuantan Hilir) ada Cungang.
MUSA Kihi termasuk yang beruntung dibandingkan dengan teman seusianya. Dia bisa melanjutkan pendidikan Sekolah Rakyat (SR) di Benai. Lulus SR ia melanjutkan pendidikan ke Perguruan Thawalib Padang Panjang, Sumatra Barat.
Setamat dari Perguruan Thawalib, Musa Kihi melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Ilmu Publisistik, Yogyakarta.
Salah seorang yunior Musa Kihi semasa kuliah di Yogyakarta adalah Harmoko. Kelak Harmoko menjadi Mentri Penerangan RI pada era Orde Baru selama tiga periode berturut-turut (1983-1997) dan Ketua Umum DPP Golkar (1993-1998).
Sedangkan dari Benai sahabatnya adalah Samad Thaha dan Joma Atim. Kelak Samad Thaha kelahiran tahun 1926 jadi anggota DPR RI (1982-1987). Sedangkan Joma Antim menekuni dunia wiraswasta. Anak Joma Atim bernama Alfuadi pernah jadi anggota DPRD Indragiri Hulu periode (1997-2004).
MUSA KIHI pernah bertugas sebagai tentara pada zaman penjajahan dan pada awal kemerdekaan. Dia pernah bertugas di Pekanbaru dan Pasir Pengaraian (Rokan Hulu).
Sebagai tentara bersama teman seperjuangannya, Musa Kihi pernah berjalan kaki dari Benteng Tujuh Lapis di Pasir Pengaraian menuju Rengat (Indragiri).
Dalam perjalanan itu Musa Kihi dan kawan beristirahat di Pemandian Air Hangat di Desa Paboun (Kuantan Mudik) dan Tebarau Panjang (Toar).
Kemudian dalam perjalanan panjang menyisir sungai Kuantan dan hutan itu mereka beristirahat di Cerenti dan berakhir di Rengat.
“Di Teberau Panjang ada kawan seperjuangan Bapak. Namanya Ibnu Saud yang pernah jadi kapala desa tiga periode di Desa Teberau Panjang,” ujar anak bungsunya Irpan Maulana.
Sebagai bentuk pengabdiannya selama bertugas di dunia militer, pada 1981 Musa Kihi mendapat Gelar Kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan RI Golongan B. Piagam itu langsung dari Menteri Pertahanan Keamanan/ Panglima Angkatan Bersenjata RI.
Namun Musa Kihi memilih mundur dari dinas militernya. Ia lebih memilih jadi orang sipil dan memilih kampung halamannya (Benai) sebagai tempat pengabdiannya sebagai abdi negara.
SEBELUM menjadi Lurah di Pasar Benai, Musa Kihi pernah menjadi kepala kampung yang yang selanjutnya menjadi kepala Kenegerian Benai.
Ketika Kenegerian Benai dimekarkan jadi empat desa tahun 1976 yakni Benai Kecil, Koto Benai, Talontam Benai, dan Banjar Benai.
Ketika Pasar Benai jadi kelurahan, Musa Kihi diangkat jadi Lurah (1981-1991). Setelah pensiun, ia menjalani aktivitasnya sebagai induak somang.
Dan, jiwa kepemimpinan dan entrepreneurship (wiraswasta) Musa Kihi menurun kepada anak-anaknya. Bak kata pepatah, “Buah jatuh tak akan jauh dari batangnya”. Begitu perumpamaan yang tepat mengambarkan kehidupan anak-anak Musa Kihi kini.
Anak ketiga Musa Kihi, Gumpita selain menekuni dunia swasta juga terjun di politik. Gumpita pernah menjadi anggota DPRD Riau (2009-2014) dari Partai Golkar.
Sedangkan anak keempatnya Irpan Maulana kini selain menekuni dunia usaha sejak 2018 s.d 2024 menjadi Kepala Desa Benai Kecil, Kecamatan Benai, Kuantan Singingi, Riau.
MUSA Kihi dilahirkan di Benai pada 1923. Namun dalam catatan Disdukcapil Kuantan Singingi tertulis lahir pada 1926. Ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara pasangan Kihi dan Kasu. Saudara-saudara yang lain adalah Yahalimu, Soam, Umar, Saleha, dan Hartati.
Musa Kihi meninggal di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru pada 2019. Sementara istinya Habibah meninggal 2013. Keduanya dimakamkan di Benai. Pasangan penuh cinta ini punya empat orang anak yakni Ermiwati, Firman Edi, Gumpita, dan Irpan Maulana.
Di mata menantunya Marwan Yohanis, mertuanya (Musa Kihi) adalalah sosok mertua orang tua yang jadi teladan bagi keluarga, tokoh panutan dimasyarakat, pekerja keras, disiplin, dan berintegritas.
“Beliau pandai memanfaatkan dan mengisi waktu dengan kegiatan positif dan produktif,” ujar suami dari Ermiwati – anak pertama pasangan Musa Kihi dan Habibah.
Sedangkan di mata anak bungsunya, Bapaknya (Musa Kihi) adalah orang yang rajin beribadah, disiplin, mengormati kelebihan dan menghargai kelemahan orang lain. “Bagi kami anak-anaknya Bapak merupakan kawan bercerita dan bermain,” kenang Irpan.
Salah satu cerita bapaknya yang mengena di hatinya ujar Irpan adalah cerita tentang Tiga Bunga Setangkai. Sentajo sebagai batangnya, sementara Benai dan Kopah sebagai dahannya.
“Bapak juga bercerita tentang Sutan Benai baju berantai,” ujar Irpan.
Dalam cerita berkembang Sutan Benai adalah orang bagak yang disegani oleh Penjajah Belanda. Dan, Sutan Benai bertugas mengawal dan mengamankan Kenegerian Benai dari serangan dan ancaman dari luar.
“Cerita tentang Sutan Benai dan Bungo Setangkai itu kini tinggal kenangan,” ujar Irpan mengakhiri
Penulis Naskah: Sahabat Jamg Itam







