Menu

Mode Gelap
Prakiraan Cuaca Kepri Rabu, 22 Juli 2026: Hujan Ringan Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah, Masyarakat Diimbau Tetap Waspada Mahasiswa Pendidikan Bahasa Melayu FIB Unilak Ikuti Pelatihan Kompetensi Calon Guru di BGTK Riau Gas Metana: Pembelajaran Berharga dari Ledakan di Grand Polonia Medan Polsek Mandau Ungkap Kasus Penyalahgunaan Ekstasi, Dua Terduga Diamankan Dukung Program P4GN Persiapan Porprov Riau 2027, KONI dan Disporapar Meranti Mulai Matangkan Persiapan Polsek Bantan Siapkan Lahan Ketahanan Pangan, Gandeng Kelompok Tani Milenial Tanam Jagung Pipil

Ragam

Fakhri Semekot: Seniman Serba Bisa dari Kuantan Singingi

badge-check

Fakhri Semekot Perbesar

Fakhri Semekot

KITA mengenal grup komedi legendaris tanah air. Sebut saja Bagio CS, Srimulat, Kwartet Djaya, Warkop DKI, Bagito, Patrio, hingga Cagur. Grub ini sering mengisi acara komedi di televisi era tahun 1970-an hingga 1990 an.

Kemudian menyusul grup komedi alumni Audisi Pelawak TPI (API). Sebut saja SOS, Limau, Jurnal, Bajaj, Nyanyah, dan lainnya.

Di daerah, tepatnya di Riau ada Semekot singkatan dari “Semeter Kotor.” Grup komedi yang berdiri pada era 1980-an ini ikut mewarnai perjalanan komedian di Tanah Air.

Sebutan Semekot menggambarkan ejekan terhadap tinggi badan personilnya yang dianggap tidak sampai satu meter. Namun, ejekan justru dijadikan merek dagang yang sangat laku mengocok perut.

Kiprah Semekot yang tiada henti ikut mewarnai perjalanan kisah budaya Riau dari dulu hingga kini.

NAMANYA lebih dikenal sebagai Fakhri Semekot: seniman serba bisa: actor komedi, pemain film dan sinetron kelahiran Benai, Kuantan Singingi, Riau.

Di balik tubuh mininya, Fakhri menyimpan begitu banyak karya. Ia telah menghasilkan ratusan karya seni dan budaya yang dibuat di rentang dua pertiga umurnya.

Pada lomba lawak KNPI di Jakarta pada 1985, Semekot menjadi juara I kategori grup mengalahkan grup Bagito. Fakhri pun menjadi juara pertama di nomor perorangan lomba yang sama.

Bakat lawak Fakhri terasah berkat asuhan kakak kandungnya pelawak Yohazar. Pelawak ini dikenal dengan nama Otong Lenon.

Namun kehidupan Jakarta yang keras, tidak membuat Fakhri betah. Ia memilih pulang ke Riau. Di Pekanbaru, ia melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra Program Studi Sastra Indonesia Universitas Lancang Kuning (Unilak), Pekanbaru, Riau.

Namun dunia hiburan, terutama di televisi lokal tidak pernah ditinggalkannya. Di Unilak, Fakhri seangkatan dengan Sasmita, Suarman, Udin, Ujang Hariadi, Norma Dewi, Hartiyus, Rahmat, Sukasno, Zuraida, Norma Dewi, Nurlan Hutapea, Ruji Tampu Bolon, Herlina, dan lainnya.

Pernah suatu kali, Fakhri menangani lima program televisi sekaligus. Salah satu program terkenal adalah Komedi Ongol-ongol. Ia menjadi sutradara sekaligus pemain utama dalam program itu, yang akhirnya menghasilkan lebih dari 100 episode di Riau Televisi.

MESKIPUN berkecimpung di dunia komedi, Fakhri memiliki keprihatinan terhadap Randai Kuantan, yang berasal dari tanah kelahirannya Kuantan. Sejak pertengahan 1970-an, Randai Kuantan seakan mati suri. Randai Kuantan adalah seni tradisi teater rakyat yang digabung dengan unsur musik, tarian, dan nyanyian.

Seni itu awalnya berasal dari Randai Sumatra Barat, namun dimodifikasi sesuai budaya setempat. Perbedaan Randai Kuantan dengan Randai Sumatra Barat ada pada penggunaan unsur biola, gendang, peralatan lain, nyanyian, dan tarian

Nyanyian dan tarian dalam Randai Kuantan diselipkan sebagai jeda antar-babak teater rakyat. Pada saat jeda, pertunjukan tarian dapat diikuti oleh seluruh penonton. Bahkan dalam lakon teater, para penonton pun dapat berinteraksi, persis seperti lenong Betawi. Itulah salah satu keistimewaan Randai Kuantan.

Meredupnya Randai Kuantan adalah akibat kalah bersaing dengan fenomena organ tunggal. Lagi pula waktu itu banyak orang tua melarang anaknya bermain randai. Seni panggung itu dianggap kampungan karena banyak dimainkan kalangan bawah atau orang tidak berpendidikan.

Pertunjukan randai juga memakan waktu, biasanya berlangsung dari malam sampai pagi. Sehingga dianggap lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.

Pada tahun 1987, saat mahasiswa Fakhri, berniat menghidupkan kembali Randai Kuantan. Ia pulang ke kampung mendatangi para seniman lokal.

Fakhri mendengar berbagai keluhan. Ternyata banyak seniman tidak memiliki alat musik terutama biola. Waktu itu randai yang aktif hanya Alibaba dari Kopah, Kecamatan Kuantan Tengah.

Sekembalinya ke Pekanbaru, Fakhri mendatangi tokoh Kuantan, Drs. Rustam S Abrus, Drs. Samad Thaha, Drs. Intan Djuddin, Prof
Dr. Mukhtar Lutfi, M.A, Kol. (Purn) Abbas Jamil, Prof. Drs. Suwardi MS, dan tokoh lainnya untuk meminta bantuan.

Fakhri berhasil mengumpulkan 22 unit biola yang kemudian diserahkannya kepada seniman di kampung-kampung randai mulai hidup.

Tidak sampai di situ, Fakhri mendatangi Bupati Indragiri Hulu meminta bantuan dana melaksanakan Festival Randai di Talukkuantan.

Untuk mengirit biaya, ia menggandeng Polsek Kuantan sebagai panitia. Acara festival dilangsungkan di halaman Mapolsek di Telukkuantan.

“Waktu itu cuma ada empat grup yang mendaftar. Namun satu grup mundur di hari terakhir, karena kampungnya kebanjiran. Saya jemput mereka pakai truk. Sehingga empat grup bermain di festival itu,” kata rekan Fakhri, Abrar Nyanyah yang kala itu ikut mendata randai Kuantan yang masih aktif.

Setahun kemudian, Fakhri kembali mengadakan festival Randai di Telukkuantan. Pesertanya menjadi 14 grup. Setelah dua tahun, grup yang berpartisipasi menjadi 30 grup.

Di Pekanbaru, Fakhri membentuk grup Randai Kuantan beranggotakan mahasiswa asal Kuantan. Pada acara ulang tahun Ikatan Keluarga Benai, Fakhri menayangkan perdana kerja timnya. Ternyata sambutannya luar biasa

MULAI saat itu, Fakhri semakin banyak berkecimpung dalam Randai Kuantan. Ia membawa tim yang berasal dari kampung-kampung ke Padang Panjang, Sumatra Barat pada 1997.

Pada 2006, ia membawa timnya ke Taman Ismail Marzuki (TIM) dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta tahun 2007. Tahun 2010 di Bali dan tahun 2012, di Kuala Lumpur, Malaysia.

“Biasanya kami diundang panitia tanpa biaya akomodasi. Sehingga saya pontang panting mencari dana. Untungnya selalu saja ada tokoh atau pejabat yang membantu,” kata Fakhri pensiunan PNS di Dinas Kebudayaan Riau

Nama Fakhri begitu melekat dengan Randai Kuantan. Penggemarnya sangat banyak. Seniman lokal kerap mengumumkan rencana kedatangan Fakhri di kampung. Biasanya, orang-orang akan berdatangan dari berbagai pelosok, hanya untuk menyaksikan latihan randai Kuantan

“Kalau saya datang, biasanya ramai pedagang berjualan di lokasi latihan. Pernah kami membuat acara dengan panggung 12 x 12 meter dan penonton sangat banyak acaranya sukses. Bahkan ada orang yang menonton pertunjukan selama dua hari berturut,” kata Fakhri.

Fakhri masih turun ke kampung halamannya untuk melihat atau memberi nasihat teknis kepada para seniman di daerah. Ia sudah dianggap sebagai Pembina Randai Kuantan. Ia selalu memakai dana pribadi.

Fakhri masih menyimpan satu impian. “Saya belum mendapat kesempatan menampilkan Randai Kuantan di festival folklor International di Eropa. Saya berharap ada yang melanjutkannya.”

Berkat Fakhri, Randai Kuantan bersemi kembali setelah mengalami era mati suri. Seniman pemerhati budaya ini, juga aktif mengembangkan tradisi Randai Kuantan. Ia kemudian dinobatkan sebagai Maestro Randai.

Waktu aktif sebagai abdi negara, Fakhri juga sempat menerbitkan buku Buku: Kayat Rantau Kuantan, Syair Ikan Terubuk, Kerajaan Indragiri, Permainan Rakyat Kuantan Singingi, Penelitian Katalog Naskah Melayu, Cerita Rakyat Indragiri Hulu

TEMAN Fakhri seangkatan waktu kuliah di Unilak Pekanbaru maupun ketika kerja di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT) Tanjungpinang, Drs. Zuarman menilai Fakhri sejatinya pecinta dan peduli seni budaya daerah asal Kuantan Singingi. Salah seni budaya daerah ini beliau perjuangkan merevitalisasinya adalah randai.

Fakhri adalah anak negeri yang berjasa melestarikan seni budaya tersebut. Atas perjuangan tersebut suatu kepatutan beliau dianugerahi sebagai Maestro pelestari Randai Kuantan.

“Sesungguhnya Fakhri bekerja nyata dan penuh pengorbanan memasyarakatkan dan melestarikan Randai Kuantan sebagai bahagian kekayaan budaya Melayu Riau,” ujar putra Kampar – Riau ini seraya mengatakan mereka kerja di BKSNT Tanjungpinang mulai tahun 1991. Beberapa tahun, kemudian Fakhri pindah ke Pekabaru.

Zuarman mengatakan ketika Nusirwan dan berikutnya Pak Sindu Galba. Waktu itu pegawai BKSNT Tanjungpinang: Suarman, Sasmita, Nuraini, Gatot Winoto, Yuswadinata, Nurhamidah, Edi, Novendra, Zakbah, Yusmalina, Malik, Imran Nuh, Syarifah Zainab, Khamisah, Yuanita, Juramadi Esram, Johan, Riwayat, Suhasono, Nismawati Tarigan, Dewi, Dwi Subowati, Selamat, Syahrial, Novenra.

Sementara Abral alias Pak Cil Nyanyah mengatakan Fakhri punya kelebihan dalam setiap penampilan. Ia mampu membaca sikon atau audince untuk bahan-bahan di panggung terkadang latihan di hotel. Sebelum tampil tiba-tiba materi berubah.

“Di panggung saya yang fomula saat itu jadi bingung tapi siasat kita harus ikut alur nya. Itulah kelebihan senior untuk menuju sukses di panggung,” ujar Runner Up Akademi Pelawak TPI 2005 itu.

Abrar ingat ketika pertama gabung dengan Fakhri, dirinya sudah dandan lucu tapi tak dipanggil-panggil. Waktu habis Fahkri dan Udin geeer sehingga dengan pertimbangan yang matang saya tak dipanggil.

“Walaupun tak tampil honor tetap jalan. Hahahaha,” ujar Abral tersenyum sembari mengatakan Fakhri dan Otong yang berjuang membesarkan Nyanyah. Otong ngurus Nyanyah di Jakarts. Fakhri di Riau.

FAKHRI lahir di Benai, Kuantan Singingi, 29 Maret 1961. Pendidikan Dasar dilaluinya di kampung halamannya: SD Benai Lulus 1972, SMP Benai 1979, – SMPP (Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan) 49 Pekanbaru, 1982, dan Fakultas Sastra Unilak, Pekanbaru, 1988.

Kini Fakhri menjalani hari-harinya bersama istri: Saripah dan anak tercintanya: Tia Suci Permata sari, Rabiul Misqa Hagi, dam Tigo Imnuari Rhamadan.

Menurut keterangan adiknya Marwan Yohanis, belakangan abangnya mengalami penyakit komplikasi: sakit asam urat dan gula.

“Bang Fakhri sering keluar masuk rumah sakit. Mohon doa untuk kesembuhan Bang Fakhri,” harap anggota DPRD Riau dari Partai Gerindra ini.

“Bang Fakhri, doa kami menyertaimu. Semoga segera diangkat segala penyakitnya”.

Aamiin.

Penulis Naskah: Sahabat Jang Itam

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Sulap Limbah Kelapa Jadi Nilai Ekonomis, SDN 002 Seri Kuala Lobam Lahirkan Inovasi BRIKOLA

12 Juli 2026 - 11:10 WIB

Siak Naik Peringkat di MTQ Riau, Bupati Afni Siapkan Pembinaan Berkelanjutan

4 Juli 2026 - 08:54 WIB

Perah! Duit Petani pun Diembat Bupati Suhardiman, KPK: SHU KUD Dipotong Setengahnya

2 Juli 2026 - 10:34 WIB

Berapa Harga Jabatannya, Pak? Suhardiman Langsung Terdiam

1 Juli 2026 - 16:39 WIB

Sempat Diultimatum KPK, Bupati dan Sekda Kuansing Akhirnya Menyerahkan Diri

1 Juli 2026 - 05:58 WIB

Trending di Kuansing