Menu

Mode Gelap
Telan Anggaran Rp233,48 Juta, DPRD Meranti Tinjau Pembangunan Duiker Simpang Puskemas Zona Integritas Diresmikan, Imigrasi Selatpanjang Bidik WBK dan WBBM Kades Batu Berapit Apresiasi Wartawan Anambas, Berkah Terima Bantuan Sembako HPN 2026 Bupati Siak Afni: PT. BSP di Ambang Kebangkitan HPN 2026 di Jemaja Berlangsung Meriah, Bupati Aneng Apresiasi Peran Strategis Insan Pers Ribuan Warga Pulau Jemaja Padati Lapangan Bola Kelurahan Letung, Meriahkan Jalan Santai HPN 2026, Sepeda Listrik Jadi Hadiah Utama

Ragam

Drs. Rustam S Abrus (1937-2005): Dari Guru Jadi Wakil Gubernur Riau

badge-check


					Drs. Rustam S Abrus Perbesar

Drs. Rustam S Abrus

RUSTAM S. ABRUS lahir di Baserah, Kecamatan Kuantan Hilir, 19 Oktober 1937. Perjalanan hidup sang birokrat andal ini sangat panjang. Penuh lika liku. Salah seorang adik kandung Rustam S. Abrus bernama Rusman S. Abrus menulis: ABRUS SEBUAH TELAAH SEDERHANA” diblognya: https://abrus.wordpress. com /2008/10/22/bang-soetom alias-rustam-s-abrus.

Kami muat utuh agar tidak salah fokus.

MEMBACA buku Rus Abrus (kumpulan karya sastra & karya Rustam S. Abrus) tela’ah sang editor Mosthamir Thalib Dkk. Terbitan Yayasan Sagang Pekanbaru, Riau.

Saya terpaku, kenangan melayang, menerawang ke masa silam kehidupan keluarga kami sekitar tahun 1956-1967 di Baserah – Kuantan Singingi (Riau). Sebuah nostalgia seorang adik kandung yang terlibat langsung di dalam perjalanan hidup almarhum periode itu.

Apa yang diulas Mosthamir Thalib pada halaman belakang buku Rus Abrus ada yang tercecer, …“Selesai SMA Rus Abrus meneruskan pendidikan ke IKIP Malang (Jawa Timur). Seterusnya di Lembaga Administrasi Negara – Jurusan Administrasi Negara di Jakarta.

Mustamir Thalib menulis catatan yang tercecer dari seorang Rustam S. Abrus sampai sekolah di Malang. Menjadi guru di Jambi. Sekolah lagi di Jakarta sambil jadi guru dan wartawan surat kabar. Kemudian pulang ke Pekanbaru menjadi pegawai Pemda Riau.

Bang Soetam demikian adik-adiknya memanggil Rustam S. Abrus, setamat SMA Muhammadiyah di Padang (Sumatra Barat) awalnya meneruskan pendidikan ke Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) di Batusangkar masih di Sumatra Barat.

Masih jelas dalam ingatan, Bang Soetom sebagai mahasiswa bangga dengan jaket dan kopiah almamaternya PTPG. Kopiah itu sering dipakai waktu salat di rumah atau di mesjid. Dari foto album yang pernah saya lihat, di antaranya ada foto Rus Abrus dengan seragam mahasiswa PTPG menjalani perpeloncoan sedang mendaki tanah pegunungan di kawasan Bukittinggi.

Belum setahun menghuni almamater tersebut, di Sumatera Tengah pecah pemberontakkan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Pemberontakkan ini terjadi setelah Belanda mengakui kedaulatan NKRI pada tahun 1957. Perang saudara ini mengakibatkan Bang Soetom memilih pulang kampung tidak gabung bersama tentara pelajar PRRI.

Keputusan ini diambil karena kondisi beda dengan ayah kami (Engku Mudo Sarmin Abrus). Ayah sebagai orang Masyumi harus ikut PRRI. Sedangkan Bang Soetom sebagai mahasiswa tidak harus. Analisa beliau berdua “Si ayah keluar ikut PRRI dan Bang Soetom tetap di dalam dan berusaha jadi orang agar kelak mampu membela adik-adiknya.”

Waktu itu usia saya sudah enam tahun (dua tahun di TK) dan suka nguping menyimak bualan orang tua. Seperti bualan Bang Soetom dengan mondek (ibu kami). Bang Soetom menceritakan rapat kilat dua beranak sebelum pisah dengan ayah di Lubuk Jambi, sebelum meneruskan ikut mengungsi masuk hutan ke daerah Sijunjung.

Setahun setelah mengabdi sebagai guru SMA- ikatan dinas di Telukkuantan, Bang Soetom minta izin kepada mondek, tino (nenek) dan janten (kakek) untuk meneruskan sekolahnya ke tanah Jawa.

Jalan ini ditempuh, khawatir kalau tetap di Kuantan Singingi akan diambil tentara Pusat (waktu itu Yon Diponegoro TNI AD sudah masuk di Padang). Dengan harap-harap cemas, Bang Soetom dilepas juga dengan dibekali sebuah paoen (leontin emas berpeniti milik tino).

Sekitar tahun 1957 Bang Soetom berangkat ke Jakarta. Merasa tidak aman kemudian memilih terus ke Malang dan diterima kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga filial Malang (cikal bakal Universitas Brawijaya).

Kota Malang dipilih dengan pertimbangan suasana lebih sejuk. Biaya hidup juga murah. Hal ini diungkapkan Bang Soetom dalam suratnya dan kami tentu hanya bisa mengamini saja.

Selama hidup di Malang, Bang Soetom tidak mendapat kiriman uang bulanan dari kampung. Mondek hanya seorang petani yang harus menghidupi enam orang (adik-adiknya yang masih kecil-kecil). Janten sudah tua tadinya memang punya usaha bangsal gotah (agen karet).

Dari bantuan dana ikatan dinas itulah biaya hidup dan sekolah didapatnya. Walapun mungkin tidaklah cukup. Bang Soetom rutin tiap bulan mengirimkan telegram, memberi khabar perihal dirinya.

Pernah sekali Bang Soetom minta dikirimkan kain panjang batik. Walaupun permintaan itu penuh tanda tanya namun tetap dipenuhi mondek dan dikirimkan dua helai. Kemudian kami dapat cerita dari orang kampung yang pulang dari tanah Jawa, ternyata kain batik itu dijadikan Bang Soetom celana panjang.

Mendengar itu mondek mengeluh kepada tino ketika bercerita makan sirih (cerita-cerita) “bansek ang yo nak!” (menderita kamu ya nak). Mondek terenyuh mendengar derita anak sulungnya. Biasanya mondek hanya diam termangu. Memang sifat mondek pendiam.

Di Malang inilah Bang Soetom punya teman sesama mahasiswa perantauan. Di antaranya adalah Saadillah Mursjid (asal Kalimantan Selatan). Kelak Saadillah Mursjid menjadi Menteri Muda/Sekretaris Kabinet Indonesia pada Kabinet Pembangunan V, Menteri Sekretaris Kabinet pada Kabinet Pembangunan VI, dan Menteri Sekretaris Negara pada Kabinet Pembangunan VII saat Pemerintahan Presiden Suharto.

Tentang sahabatnya Saadillah Mursjid ini, Bang Soetom pernah cerita, mereka bertemu di Jakarta diakhir masa Orde Lama. Yakni sewaktu sama-sama melamar pekerjaan di BAPPENAS Jakarta. Namun Bang Soetom mundur, memilih pulang ke Riau.

Tahun 1960 Bang Soetom pulang dari Malang setelah meraih ijazah sarjana muda ilmu ekonomi dan langsung ke Jambi menjadi guru SMA Negeri.

Dari telegram yang kami terima Bang Soetom mengabarkan harus segera ke Jambi menyelesaikan ikatan dinas guru yang belum dibayar sejak tempo hari di Telukkuantan. Itulah alasannya. Namun hati kecil orang tua bertanya: “Apa iya tak punya ongkos untuk sampai ke Baserah?”

Di kota Jambi selain jadi guru, Bang Soetom aktif dalam seni sastra, teater, dan membuka kursus Bond A&B. Salah satu muridnya adalah Marzuki Usman. Kelak sang murid menjadi orang penting.

Di masa Pemerintahan Presiden BJ. Habibie, Marzuki Usman menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya (1998-1999). Kemudian pada tahun 1999 diangkat sebagai Mentri Negara Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal.

Dan di masa Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Marzuki Usman menggantikan Nurmahmudi Ismail sebagai Mentri Kehutanan. Tahun 1962, Bang Soetom pulang dari Jambi. Pada ayah diutarakan rencana ke Jakarta untuk meneruskan sekolah yang belum selesai. (Waktu itu ayah sudah di kampung, PRRI sudah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi).

Bang Soetom banyak membawa oleh-oleh. Yang menyolok buku-buku dan baju baru. Baju itu sebagian dibagikan. Sisa katanya sebagai persediaan selama sekolah di Jakarta. Sebelum berangkat ke Jakarta, saya diajarkan cara menyusun buku dan majalah dalam almari. Berdirilah Perpustakaan Abrus Library.

Sepeninggalnya perpustakaan itu saya urus. Ketika itulah saya mulai mengenal buku-buku Pujangga Baru. Mulai dari Sutan Takdir Alijahbana, Abdul Muis, HAMKA, Dkk (buku Layar Terkembang, Salah Asuhan, Tenggelamnya Kapal Vander Wick, dan sebagainya), sampai angkatan sesudahnya: Pramudya Ananta Toer, Ayib Rosidi, NH Dhini, Motinggo Boesye, dan lain-lain.

Aneka majalah di antaranya majalah sastra Kisah (sejak itu saya tau siapa itu HB Jasin, Paus Sastra Indonesia) dan naskah-naskah ketikan cerpen karangan Bang Soetom sendiri.

Kalau tidak salah cerpen Keremunting ditulis sewaktu di Padang (Sumatra Barat), Sehelai Tikar Sembahyang di Malang (Jawa Timur). Sedangkan drama Islamnya Umar bin Khatab (dari catatan yang ada) ditulis Bang Soetom sendiri dan sudah dipentaskan sewaktu di Jambi.

Agaknya Islamnya Umar bin Khatab versi Baserah “daur ulang” bersama mamak Bustamam Halimy. Itu bentuk perwujudan rendah hati kepada Bustamam Halimy (waktu itu sudah jago teater di kampung).

Selain naskah-naskah yang dibahas Mosthamir Thalib dkk. itu, ada dua buah cerpen yang menarik yaitu Terhempas dan Ali Atom. Cerpen Terhempas berkisah tentang cinta back street yakni percintaan yang dilakukan secara rahasia dengan berbagai alasan dua anak manusia.

Di akhir cerita sang arjunanya betul-betul terhempas ditendang oleh ayah sang gadis sewaktu tertangkap basah.

Sedangkan cerpen yang lain berjudul Ali Atom berkisah, tentang anak muda yang kocak, cerdas dan santun ala Melayu (kocaknya mirip tokoh cerita bergambar Ali Oncom harian Pos Kota, Jakarta). Sayang perpustakaan Abrus Library ikut punah sewaktu rumah kami di Baserah terbakar.

Di Jakarta, Bang Soetom tinggal di daerah Salembah Tengah. Bekerja menjadi guru SMA Nasional di daerah Senen. Menjadi wartawan Harian Duta Masyarakat dan kuliah di Lembaga Administrasi Negara – Jurusan Administrasi Negara tidak jauh dari Istana Merdeka.

Pemimpin Redaksi koran tempatnya bekerja adalah Mahbub Djunaidi (tokoh NU) dan salah seorang temannya sama-sama wartawan adalah Harmoko (belakang jadi Ketua Umum Golkar dan Mentri Penerangan RI).

Mengenai sahabatnya Harmoko, Bang Soetom cerita agak geli. Setelah lama pisah mereka bertemu di Pekanbaru. Harmoko berkunjung ke Riau sebagai Ketua Persatuan Wartawan (PWI) Pusat disambut oleh Bang Soetom sebagai Ketua PWI Riau namun memakai kostum seragam pegawai Pemda.

Sahabatnya itu tertegun, “Jadi kamu ini pegawai negeri ya, Rus?“

Asal usul menjadi Pegawai Negeri juga di luar dugaan dan agak unik. Tatkalah Gubernur Riau, Arifin Achmad tahun 1967 baru selesai dilantik di Istana Merdeka, Jakarta.

Di sela wawancara dengan wartawan Gubernur Riau ke-3 itu berkata: “Kalau di antara kalian ada yang berasal dari Riau, pulanglah! Kita bangun daerah.”

Bak gayung bersambut, teman-teman wartawan mendaulat Arifin Achmad agar Bang Soetom diterima menjadi staf beliau di kantor Gubernur dan terjadilah negosiasi yang menjanjikan.

Peristiwa ini diceritakan Bang Soetom kepada ayah di Baserah sepulang dari Jakarta mau pamitan ke Pekanbaru. Sebelumnya dapat tawaran dari petinggi NU yang duduk di Kabinet RI untuk bekerja jadi staf kedutaan di New York, Amerika Serikat atau ikut Wajib Militer Polri di Sukabumi, menjanjikan namun jauh dari kampung.

Katanya pada ayah: kalau gagal di kantor gubernur, ia akan melamar pekerjaan di PT. Caltex Pasifik Indonesia di Rumbai, Pekanbaru.

Sesampai di Pekanbaru, ditemani Moeslim Sidik (saudara sepupu) berangkatlah Bang Soetom menuju kediaman Gubernur Riau. Sang gubernur menepati janjinya sehingga jadilah Bang Soetom Kepala Humas Kantor Gubernur Riau.

Tahun-tahun berikutnya saya tidak lagi terlibat langsung dalam perjalanan hidupnya karena pisah domisili.

Itulah Rus Abrus alias Bang Soetom. Di mata kami adik-adiknya, Bang Soetom adalah sosok yang komplit. Mampu merubah peta kehidupan keluarga dari petani jadi pegawai, memberi petuah yang bernas kepada adik, anak, dan kemenakan tatkalah duduk bersenda gurau jauh dari suasana formal.

Di puncak kariernya tatkalah dipromosikan Gubernur Riau Soeripto menjadi Wakil Gubernur Riau terlihat mulus.

Benarkah?
Entahlah…..

Namun terbersit dalam hati bahwa keberhasilan menembus jalur berliku di era Orde Baru itu, banyak sedikit pastilah berkat peranan sahabatnya di jalur x, y, dan z.

Siapa lagi kalau bukan Saadillah Mursjid dari Bina Graha dan Harmoko dari Golkar.
Benarkah?
Wallahu alam!

RUSTAM S ABRUS merupakan anak pertama dari delapan bersudara pasangan Sarmin Abrus dan Rogoh Sumad. Saudara-saudara yang lain adalah: Rusni S Abrus, Nurjauhara S. Abrus, Zahara S Abrus, Rusjdi S Abrus, Rusman S Abrus, Rosmanidar S Abrus, dan Rosmalia S Abrus. Ayahnya Sarmin Abrus pernah bekerja sebagai Juru Penerangan di Kantor Camat Kuantan Hilir.

Sang ayah Sarmin Abrus juga tokoh Muhammadiyah yang gigih dan berani dalam menyampaikan kebenaran. Dia punya hubungan emosional yang kuat dengan sejumlah ulama tokoh Muhammadiyah di Sumatra Barat seperti AR Sutan Mansyur, Buya HAMKA, dan lainnya.

Pada awal kemerdekaan Sarmin dipercaya menjabat sebagai Ketua Ranting Partai Masyumi Kuantan Hilir tokoh Masyumi terkemuka Buya HAMKA.

Dalam perjalanan kariernya Rustam pernah aktif di teater, menjadi guru, dan wartawan. Tokoh yang mengaku sadar diri sebagai “orang kampung” yang tinggal di kota ini memilih profesi sebagai pegawai negeri.

Bersama putra terbaik Kuantan Singingi lainnya, Firdaus Malik, Rustam menduduki karier tertinggi sebagai birokrat. Keduanya tercatat pernah jadi Sekretaris Wilayah Daerah dan Wakil Gubernur Riau.

Rustam menggantikan Firdaus Malik sebagai wakil Gubernur Riau. Ia menduduki jabatan itu sejak 1988 bersama R. Rivai Rachman pada masa Soeripto menjadi Gubernur Riau (1988-1998).

Dengan dua Wakil Gubernur tersebut, Soeripto membagi keduanya pekerjaan yang harus diselesaikan. Rivai Rachman diberi kewenangan menyiapkan bidang ekonomi seperti menyiapkan Pulau Bintan sebagai tujuan wisata internasional. Sedangkan Rustam mengkhususkan kepada masalah pemerintahan dan kesejahteraan sosial.

Pada awal pemerintahan Saleh Djasit sebagai Gubernur Riau, Rustam masih dipercayai sebagai Wakil Gubernur bersama R. Abdul Azis yang menjabat 28 Desember 1998 s.d 21 November 2003.

Setelah era Firdaus Malik dan Rustam S. Abrus sampai kini tidak ada lagi birokrat asal Kuantan Singingi yang meraih jabatan strategis di Pemerintah Provinsi Riau seperti mereka. Paling tinggi hanya level eselon II atau Kepala Organisasi Perangkat Daerah seperti: Kepala Dinas atau Kepala Badan.

Keberadaan mereka di pucuk jabatan eksekutif melengkapi “simbol” Kuantan Singingi sebagai penghasil orang-orang pintar di Riau. Julukan penghasil tenaga pendidik (guru), politisi, dan birokrat andal melekat kepada Kuantan Singingi.

Itu dulu.
Sekarang …..?

KETIKA menjabat sebagai Wakil Gubernur Riau, Rustam merupakan tokoh utama di balik pemekaran wilayah kabupaten dan kota di Provinsi Riau. Termasuk Kuantan Singingi.

Rustam meng-inisiasi pertemuan tokoh masyarakat Kuantan Singingi perantauan di Pekanbaru. Pertemuan itu merekomendasikan pelaksanaan Seminar dan Musyawarah Besar (Mubes) Masyarakat Kuantan Singingi di Telukkuantan pada 9 – 10 Juni 1999.

Ketika Kuantan Singingi dimekarkan jadi Kabupaten adik kandungnya, Rusjdi S. Abrus ditunjuk sebagai Carateker Bupati Kuantan Singingi (8 Oktober 1999 s.d 1 Juni 2001). Kemudian Rusjdi terpilih jadi Bupati Kuantan Singingi depenif (1 Juni s.d 9 Juni 2001).

RUSTAM S ABRUS adalah pengarang, wartawan dan pendidik sebelum menduduki jabatan di pemerintahan. Dia mengarang cerpen berjudul: Malam Indah. Cerpen tersebut dimuat dalam antalogi cerpen Keremunting (Gramitra, Pekanbaru, 1989).

Keremunting merupakan antalogi cerpen karya sejumlah pengarang Riau. Sebut saja: BM Syamsuddin asal Natuna, Edi Ruslan Pe Amanriza (Bengkalis), Rida K Liamsi (Tanjungpinang), Sudarno Mahyuddin (Rokan Hilir), Syamsul Bachri Djuddin (Kuantan Singingi), dan lainnya.

RUS ABRUS nama pena Rustam S. Abrus dalam cerpennya menggambar sosok Dullah dengan apik. Dullah pada akhirnya menjadi barometer baru yang menggandeng masyarakat untuk melihat tiga sisi kehidupan yang berbeda: sosial, ekonomi, dan pendidikan.

Cerpen “Malam Indah“ memberikan pengaruh kepada masyarakat yang ada di daerah Riau. Umumnya untuk dapat membentuk suatu sikap yang konstan di dalam menjalani kehidupan. Terutama dari segi sosial, ekonomi, dan pendidikan.

RUSTAM S ABRUS meninggal memang sudah pergi untuk selama -lamanya. Namun kepergiannya tahun 2005 menimbukan duka yang mendalam dan kenangan indah bagi yang mengenalnya secara dekat.

Penulis Naskah: Sahabat Jang Itam

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pendulang Tradisional Terjaring, Polisi Bongkar Dapur Emas Ilegal di Kuansing

3 Februari 2026 - 11:19 WIB

Jadwal Nisfu Syaban 2026 dan Amalan yang Dianjurkan

1 Februari 2026 - 06:35 WIB

Relokasi Eks Penghuni TNTN di Cerenti Dinilai Lemah Secara Hukum

31 Januari 2026 - 08:16 WIB

Sekolah Rakyat ke-4 Dibangun di Kuansing, Pemprov Riau Perluas Akses Pendidikan Gratis

22 Januari 2026 - 13:43 WIB

BRK Syariah Perkuat Peran sebagai Mitra Strategis Daerah, Buka Peluang Pembiayaan Pembangunan Kuansing

9 Januari 2026 - 17:01 WIB

Trending di Bisnis