Menu

Mode Gelap
Sambut Ramadhan 1447 H, PKK dan Kader Posyandu Isi Tausiyah dan Salurkan Paket Sembako Dua Pria Nekat Garap Hutan Lindung TWA Sungai Dumai Jadi Kebun Sawit Polsek Rangsang Bantu Korban Kebakaran Rumah Hanya Tiga Perusahaan Resmi Tambang Pasir di Bintan, Selain Itu Illegal Jemput Bola ke Pulau-Pulau, Imigrasi Selatpanjang Luncurkan Program Limau 1500 Paket Habis Terjual dalam Pasar Murah AMT di Meranti

Ragam

Drs. Soemardhi Thaher (1942-2020): Pemimpin dari Akar Rumput asal Kuantan Singingi

badge-check


					Drs. Soemardhi  Thaher Perbesar

Drs. Soemardhi Thaher

“DULU orang Riau belajar ke Sumatra Barat.
Sementara orang Sumatra Barat belajar ke luar negeri.”

JIKA Riau mau maju, Bapak harus menyekolahkan anak-anak Riau ke luar negeri. Seperti halnya dulu Mohammad Hatta, Agus Salim, Tan Malaka, Sutan Syahrir, dan lainnya dari Sumatra Barat melanjutkan pendidikan ke luar negeri: Belanda.

Jika Bapak tak sanggup menyekolah anak-anak Riau ke luar negeri tolong perhatikan nasib guru di Riau. Didik mereka (guru) secara profesional. Kasih mereka gaji yang memadai biar kehidupan mereka sejahtera. Jangan sekali-kali telantarkan mereka.

Tanpa guru tak ada orang pintar di atas dunia ini. Termasuk Bapak yang kini jadi gubernur di Riau. Orang pintar adalah orang yang bisa menghasilkan orang-orang pintar melebihi dari dirinya sendiri.

ITULAH kutipan dialog singkat antara Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Riau (Unri) Pekanbaru, Soemardhi Thaher dengan Gubernur Riau, Arifin Achmad kala itu. Puluhan tahun sudah berlalu tapi isi dialog itu masih kontekstual dan layak untuk disimak.

Orang “pintar” Sumatra Barat yang dulu sekolah ke luar negeri kelak menjadi orang penting dalam perjalanan republik ini. Jasa mereka dikenang dan dihargai. Nama mereka diabadikan sebagai nama jalan, gedung, monumen, tugu, perguruan tinggi, dan lainnya.

Mereka juga diangkat sebagai Pahlawan Nasional atas pengabdian dan jasa-jasa mereka yang ikut berjuang merebut, mengusir, dan mempertahankan kemerdekaan.

Sebagai aktivis, Soemardhi juga punya andil dalam menumbangkan rezim Presiden Soekarno pada masa Orde Lama lewat Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI) tahun 1965. Namun perjuangan yang mereka lakukan waktu itu beda jauh dengan perjuangan mahasiswa zaman sekarang.

“Kami tahu Soekarno itu salah. Tapi KAMI tidak pernah mencaci makinya. Kenapa? KAMI tau jasanya banyak untuk bangsa ini dibandingkan KAMI,” katanya.

Hal ini mungkin terbalik dengan perjuangan mahasiswa saat reformasi tahun 1998. Ketika menumbangkan Presiden Suharto tuduhannya Suharto dan kroninya terlibat KKN atau kolusi Korupsi dan Nepotisme. Tuduhan itu tidak pernah terbukti. Sampai Suharto meninggal dunia, tidak ada vonis dari Pengadilan yang menyatakan Suharto dan kroninya terlibat KKN.

Namun lihatlah kenyataan sekarang. Pentolan mahasiswa yang dulu dengan berani berteriak: “Kita enyahkan KKN di Bumi Pertiwi malah malah yang justru terlibat KKN. Tak seluruhnya memang. Tapi realitasnya menggambarkan ada oknum mahasiswa seperti itu. Jejak digitalnya bisa dilihat di internet.

Usai menamatkan tugas belajar sebagai sarjana muda di Unri dengan gelar Bachelor Of Art atau B.A, Soemardhi minta beasiswa kepada Gubernur Riau Arifin Achmad melanjutkan program strata satu atau sarjana lengkap untuk meraih gelar Doktorandus atau Drs. ke IKIP Medan, Sumatra Utara.

Tapi sebelum berangkat ke Medan, Soermadhi malah ditawari jabatan sebagai kepala Dinas P dan K Pekanbaru. Jadilah Soemardhi Thaher, B.A sebagai Kepala Dinas P dan K “termuda” waktu itu di Indonesia.

Waktu jadi Kepala Dinas P dan K itu kata Soermardhi, dirinya sempat galau. Pasalnya ia harus memberikan penilaian kepada kepala sekolah yang lebih tinggi golongan dari dirinya. “Saya hanya golongan pangatur (IIc) harus memberikan penilaian kepada kepala sekolah yang rata-rata golongan penata (III),” ujarnya.

Namun Gubernur Riau Arifin Achmad sahabat sekaligus teman diskusinya memberikan keyakinan dan semangat. “Soemardhi yang memberikan penilaian itu bukan dirimu pribadi yang baru golangan II-c. Tapi jabatanmu sebagai kepala dinas. Jangan ragu. Pena itu berada di ujung jarimu. Gunakan dan manfaatkan pena itu,” pesan Arifin Achmad yang menjadi Gubernur Riau sejak tahun 1966 – 1978.

Barulah kata Soemardhi, pikirannya tenang. Pegawai yang golongan lebih tinggi dari dirinya tidak ragu lagi minta penilaian. Beres…. sebuah persoalan selesai. Setelah itu persoalan lain mampu diselesaikannya tanpa minta bantuan dan saran lagi kepada sang sahabatnya itu.

Dari sini jabatan Soermardhi terus naik. Ia pernah menjadi Dosen Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Pekanbaru. Sebelum pensiun, ia menjadi Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau. Ia juga mendirikan yayasan yang mengelola pendidikan dekat rumahnya di Jl. Indrapuri – Hang Tuah, Pekanbaru.

PERJALANAN karier Soemardhi dalam dunia pendidikan cukup panjang dan berliku. Setamat Sekolah Rakyat (SR) di Baserah, dia melanjutkan pendidikan SGB di Taluk Kuantan. “Kami kost di Luar Parik Talukkuantan,” ujar Ilyas Yacub teman seperjuangannya yang waktu sekolah di SMP Telukkuantan.

Guru-gurunya di SGB Talukkuantan ketika itu di antaranya adalah Samad Thaha asal Benai, Intan Djuddin (Simandolak), Muchtar Lutfi (Baserah), M. Yusuf (Lubuk Jambi), dan M. Noer Rauf (Baserah). Dia tumbuh menjadi murid kesayangan karena cerdas dan ganteng.

Setamat SGB, ia sudah menjalani petualangannya sebagai guru di Desa Pulau Sengkilo, Kelayang, Indragiri Hulu terhitung 1 Nopember 1958. Sementara kawan seperjuangannya banyak yang melanjutkan ke ke Sekolah Guru Atas (SGA) di Tanjungpinang.

“Saya tak punya biaya melanjutkan pendidikan ke SGA di Tanjungpinang seperti kawan-kawan yang lain. Orang tua saya tidak mampu seperti mereka,” ujarnya mengenang.

Di sinilah suka duka Soemardhi menjadi pendidik dimulai. Maklum, usianya ketika itu baru 16 tahun. Masih muda, tapi sudah mengajar murid-murid ada yang sebaya bahkan lebih tua dari dirinya. Untuk mencapai sekolah tempatnya bertugas dia harus jalan kaki sejauh 11 KM dari Peranap.

“Ketika sampai di tempat tugas itulah selama tiga hari selera makan saya tidak ada. Rasanya saya ingin pulang meninggalkan kampung tempat saya bertugas,” ujarnya.

Namun Soemardhi ingat cita-citanya. Menjadi guru adalah pilihannya dan ia harus menjadi guru yang benar. Inilah yang merubah pikirannya. “Saya menjadi guru sekaligus berguru kepada orang-orang tua di kampung tempat saya mengajar,” ujarnya.

Aktivitas Soemardhi sebagai guru mengalir ibarat air. Pagi mengajar di sekolah. Siang olahraga bersama pemuda tempatan di lapangan. Malam hari ia mengajar ngaji di mesjid. Waktu luang dimanfaatkannya main band bersama pemuda tempatan.

“Waktu itu ada juga yang sirik. Tapi itu hanya segelintiran orang saja,” ujarnya mengenang peristiwa itu.

Di desa terpencil itulah Soemardhi muncul sebagai sosok idola baru. Ia dipanggil “PAK GURU” yang disayangi orang tua, jadi idola anak muda, dan dicintai anak gadis.

Banyak orang tua yang berkeinginan menjadikan Soemardi sebagai menantunya. Dan, banyak pula anak gadis yang antri ingin merebut cintanya. Namun Soermardhi tak goyah dengan itu. Ia ingat dengan pesan “ayah angkatnya” H. Ismail.

Suatu ketika sang ayah angkatnya itu berpesan: “Bapak bangga Pak Guru mengajar di sini. Tapi Bapak berharap Pak Guru bisa meraih impian setinggi langit. Lanjutkan sekolahmu, Pak Guru!” pesan H. Ismail.

Masfar biasa memanggil Soemardhi dengan Pak Guru. Kemudian Ismail melanjutkan pesannya: “Lupakan sejenak kenikmatan duniawi itu. Sekolahlah tinggi-tinggi selagi ada waktu dan kesempatan. Di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan.”

Soemardhi merasa pesan H. Ismail itu jadi lecutan bagi dirinya untuk memacu pendidikan. Dari desa itu Soemardhi pindah ke SD Teladan Rengat. Kepindahannya dilepas dengan doa, peluk cium, dan deraian air mata oleh masyarakat tempatnya mengajar. Rasa kasih sayang masyarakat tumpah ketika melepas kepergian Pak Guru yang mereka cintai itu.

“Saya dipeluk, diciumi, dicubit, dan didoakan. Saya juga dibekali berbagai jenis makanan dan buah-buahan sebagai bekal di tempat baru bertugas,” kenangnya.

Masyarakat terlanjur cinta dengan sosok Soemardhi. Mereka ingat bagaimana Pak Guru muda itu ikut turun ke sawah dan ladang membantu mereka mencangkul dan menanam padi. Makan bersama di pondok. Bercerita dan bercengkrama layak orang tua dan anaknya.

Sosok Pak Guru yang mengajar anak mereka di sekolah, mengaji di mesjid, main bola di lapangan, dan main band bersama anak muda terlampau sulit untuk dilupakan.

Dikalangan murid dan pemuda, Soemardhi tak hanya dianggap sebagai guru tapi juga sahabat dalam suka dan duka, tempat mengadu dan belajar. Selama acara perpisahan itu air mata mereka tumpah tanpa mereka sadari. Mereka ditinggalkan sosok idola yang entah kapan bersua kembali.

Sang ayah angkat Soemardhi, H. Ismail merupakan sosok ulama, saudagar, dan tokoh masyarakat di Kecamatan Peranap yang berpikiran jauh ke depan. H. Ismail merupakan teman dari H. Abdul Malik, orang tua dari Ir. Firdaus Malik.

H. Ismail juga orang tua dari Masfar Ismail, S.H – seorang aparat penegak hukum. Pernah menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi di Riau, Kalimatan Barat, dan Jawa Tengah. Terakhir Sekretaris Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus di Kejaksaan Agung RI.

SOEMARDHI merasa pesan H. Ismail itu jadi lecutan bagi dirinya untuk memacu pendidikan. Dari desa itu Soemardhi pindah ke SD Teladan Rengat. Kepindahannya dilepas dengan doa, peluk cium, dan deraian air mata oleh masyarakat tempatnya mengajar. Rasa kasih sayang masyarakat tumpah ketika melepas kepergian Pak Guru yang mereka cintai itu.

“Saya dipeluk, diciumi, dicubit, dan didoakan. Saya juga dibekali berbagai jenis makanan dan buah-buahan sebagai bekal di tempat baru bertugas,” kenangnya.

Masyarakat terlanjur cinta dengan sosok Soemardhi. Mereka ingat bagaimana Pak Guru muda itu ikut turun ke sawah dan ladang membantu mereka mencangkul dan menanam padi. Makan bersama di pondok. Bercerita dan bercengkrama layak orang tua dan anaknya.

Sosok Pak Guru yang mengajar anak mereka di sekolah, mengaji di mesjid, main bola di lapangan, dan main band bersama anak muda terlampau sulit untuk dilupakan.

Dikalangan murid dan pemuda, Soemardhi tak hanya dianggap sebagai guru tapi juga sahabat dalam suka dan duka, tempat mengadu dan belajar. Selama acara perpisahan itu air mata mereka tumpah tanpa mereka sadari. Mereka ditinggalkan sosok idola yang entah kapan bersua kembali.

Kemudian beberapa tahun berselang, Soemardhi pindah ke SD Teladan di Rengat. Lalu melanjutkan pendidikan Kursus Pendidikan Guru A di Rengat. Dari kota kedondong itulah ia melanjutkan “tugas belajar” di IKIP Jakarta Cabang Pekanbaru yang kini menjadi FKIP Unri. Ia kuliah di jurusan IPS/Sejarah.

Selama kuliah di Unri, Soemardhi ikut merintis pendirian Surat Kabar Kampus Bahana Mahasiswa bersama sejumlah tokoh mahasiswa lainnya seperti Syamsul Bahri Djuddin (IPS/Sejarah), Ruspan Namu (Bahasa Indonesia), dan lainnya.

Soemardhi didapuk menjadi Ketua Senat. Aktivitasnya sebagai mahasiswa semakin sibuk. Ketika ada pemilihan Dewan Mahasiswa Unri, Soemardhi mundur sebagai Ketua Senat. Ia ikut bertarung dalam pemilihan ketua Dewan Mahasiswa Unri yang akhirnya dimenangkannya

Ketika menjadi Ketua Dewan Mahasiswa Unri itulah, Sormardhi yang pintar dan supel dalam bergaul menjadi teman diskusi Gubernur Riau Arifin Achmad. “Pak Arifin tak tahu saya guru SD yang mengambil tugas belajar di Unri. Dia hanya tau saya Ketua Dewan Mahasiswa di Unri,” kenang Soermardhi.

Pernah suatu ketika kata5 Soemardhi, Gubernur Arifin Achmad mengundang Kakanwil P dan K Riau berdiskusi soal pendidikan. Gubernur juga mengundang dirinya dalam diskusi tersebut.

“Sebagai seorang guru yang lagi tugas belajar di Unri, saya malu kepada Kakanwil waktu itu. Tapi mau apalagi. Malah saya yang banyak cakap,” kenang Soemardhi.

Waktu itu tanpa tendeng alang aling kepada Gubernur Arifin Achmad, Soemardhi mengatakan, jika ingin Riau maju perhatikan nasib gurunya.

“Kesejahteraan guru juga harus menjadi perhatian, sehingga guru bisa lebih bekerja keras dan telaten. Guru tidak bisa bekerja profesional kalau gajinya tak cukup untuk makan,” ujar Soemardhi kepada Gubernur Arifin Achmad.

Bersama Prof. Drs. H. Suwardi MS, Tabrani Rab dan lainnya, Soemardhi mendirikan Surat Kabar Mingguan Genta Pekanbaru. Izin pendirian Genta dikeluarkan Dirjen Pers dan Grafika yang diajukan oleh Yayasan Penerbitan Masyarakat Sejarawan Indonesia pada September 1979.

Di Surat Kabar Genta, Soemardhi tercatat sebagai Redaktur Pelaksana pertama. Kemudian bersama Drs. Indrasal, Drs. Kadri Yafis, M.Pd, Drs. Wirlisman, Drs. Nasril Noor M.Pd., Maswito, Hendri Burhan, dan Yuhendrizal pada tahun 1993 Soemardhi mendirikan Tabloid POTENSI.

Tabloid bulanan beroplah 10.000 eks itu selalu ditunggu murid SD di Provinsi Riau setiap awal bulan. Sayang tabloid anak-anak ini hanya berumur dua tahun. Tahun 1995 tabloid itu tutup.

PERJALANAN Soemardhi dalam bidang organisasi terkait dengan dunia pendidikan di antaranya adalah Ketua DPD PGRI Kota Pekanbaru dan Provinsi Riau ke-7. Dimasa kepemimpinan Prof. Dr. H. Mohamad Surya, ia menjabat salah seorang Ketua PB PGRI (1984-1989) dan Sekretaris Jendral PB PGRI (1989-2004)

Sedangkan perjalanan karier di dunia politik dimulai ketika Soemardhi menjadi pengurus DPD Golkar Pekanbaru dan Riau. Terakhir menjadi anggota DPD RI Daerah Pemilihan (Dapil) Riau (2004-2009). Dalam pemilihan anggota DPD RI Dapil Riau, Soemardhi meraih suara terbanyak 226.570. Baru menyusul: Dinawaty, S.Ag (140.069), Intsiawati Ayus, S.H (125.890), dan Dr (HC). Maimanah Umar, M.A (124.159).

Soemardhi tidak pernah dikalahkan oleh usianya. Pada usia senja, 70-an tahun, ia masih tercatat sebagai penasehat di Ikatan Keluarga Baserah (IKB) Pekanbaru. Tetap aktif memberikan sumbangsih pemikiran dan masukan untuk kemajuan daerah.

Soemardhi Thaher adalah salah seorang tokoh nasional dari Kuantan Singingi, Riau. Dia dikenal sebagai sosok pendidik (guru), akademisi (dosen), wartawan, seniman, budayawan, birokrat, dan politisi andal.

Namun Soemardhi selalu merendah. Dia menyebut dirinya tak layak disebut seorang tokoh. Namun kenyataan sejarah tak bisa dibantah. Namanya terpatri, abadi, disebut, dicatat, dan diakui sebagai tokoh secara nasional bahkan internasional dalam perjalanan bangsa ini.

Sang tokoh yang terlahir dari pasangan Mohammad Thaher dan Siti Insa pada 1942 meninggal dunia Kamis 24 Maret 2020 di RS Awal Bross Pekanbaru. Dari pernikahan dengan istri pertamanya dia punya anak empat orang anak: Kurniawan, Yanti, Wide Wirawati, dan Rahmad Widiantara.

Kepergian Soemardhi juga meninggalkan kenangan yang amat mendalam bagi orang yang mengenalnya secara dekat. Tokoh yang tak mau disebut tokoh ini meninggalkan amal yang terus mengalir hingga kini.

Keping-kepingan perjalanan hidup Soemardhi bisa dibaca dalam bukunya: “Hujan Turun Rintik-rintik” yang disunting oleh anaknya Wide Wirawati.
**

Penulis: Sahabat Jang Itam

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pendulang Tradisional Terjaring, Polisi Bongkar Dapur Emas Ilegal di Kuansing

3 Februari 2026 - 11:19 WIB

Jadwal Nisfu Syaban 2026 dan Amalan yang Dianjurkan

1 Februari 2026 - 06:35 WIB

Relokasi Eks Penghuni TNTN di Cerenti Dinilai Lemah Secara Hukum

31 Januari 2026 - 08:16 WIB

Sekolah Rakyat ke-4 Dibangun di Kuansing, Pemprov Riau Perluas Akses Pendidikan Gratis

22 Januari 2026 - 13:43 WIB

BRK Syariah Perkuat Peran sebagai Mitra Strategis Daerah, Buka Peluang Pembiayaan Pembangunan Kuansing

9 Januari 2026 - 17:01 WIB

Trending di Bisnis