RiauKepri.com, PEKANBARU– Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terus berulang di Provinsi Riau kembali menyisakan duka mendalam. Tidak hanya berdampak pada lingkungan dan ekonomi, Karhutla juga merenggut nyawa manusia dari berbagai kalangan, mulai dari bayi, warga lanjut usia, hingga petugas di garis depan.
Berikut rangkuman beberapa kasus korban jiwa akibat Karhutla di Riau dalam kurun waktu lebih dari satu dekade terakhir:
Tahun 2013. Seorang ibu rumah tangga, Laniem (45), meninggal dunia akibat luka bakar setelah terjebak api bersama suaminya di ladang sawit, Desa Rantau Bais, Rokan Hilir. Sang suami, Dulsani Purba, mengalami luka serius dan dirawat di ICU RS Awal Bros Pekanbaru.
Tahun 2014. Muhammad Adli (63), warga Desa Sungai Gayung Kiri, Kepulauan Meranti, ditemukan tewas dengan luka bakar di tengah kebakaran lahan gambut. Sepeda motor milik korban ditemukan di dekat lokasi.
Tahun 2016. Pratu Wahyudi, anggota Denrudal 004/Dumai, gugur saat bertugas memadamkan api di Rokan Hilir. Ia ditemukan meninggal dalam kondisi terbakar setelah dinyatakan hilang dari tim pemadam gabungan.
Tahun 2019. Seorang bayi di Pekanbaru meninggal dunia tiga hari setelah lahir, diduga akibat terpapar asap karhutla. Saat itu, indeks standar pencemaran udara (ISPU) di wilayah tersebut berada dalam kategori berbahaya, mencapai angka 400–900. Dalam tahun yang sama, seorang pria lanjut usia di Indragiri Hilir, serta seorang bayi lima bulan di Kampar, juga dilaporkan meninggal akibat dampak kabut asap.
Tahun 2019. Mulyoto (69), warga Keritang, Indragiri Hilir, ditemukan tewas terbakar di kebun miliknya. Ia sempat mencoba memadamkan api secara mandiri sebelum akhirnya terjebak dan meninggal dunia.
Tahun 2025. Ipda Donald Junus Halomoan (49), personel Brimob Polda Riau, gugur setelah tiga pekan bertugas di lokasi karhutla Rokan Hilir. Ia ditemukan meninggal dunia di mess pada Selasa (5/8), usai memimpin apel sehari sebelumnya. Almarhum dimakamkan secara kedinasan.
Rentetan korban jiwa ini mencerminkan bahwa karhutla di Riau bukan sekadar bencana ekologis, namun juga tragedi kemanusiaan yang berulang. Pemerintah daerah dan pusat diharapkan meningkatkan upaya pencegahan dan penanganan agar kejadian serupa tidak terus terulang. (RK1)
berbagai sumber








