BAGI pemuja sistem patriarki, wanita adalah sosok kelas dua. Kaum perempuan selalu ditempatkan pada posisi di mana kesempatan untuk membuat keputusan adalah sesuatu yang teramat istimewa bahkan hanya sebagai “bonus”.
Tapi, mantan Wali Kota Tanjungpinang Suryatati A. Manan menggugah kaum perempuan untuk unjuk gigi bahwa siapapun makhluk Tuhan, bisa membuat perbedaan dan perubahan, asalkan memiliki tekad yang kuat. Kaum perempuan pun menguasai pentas yang selama ini menjadi dominasi kaum lelaki.
Sebaris makna itulah setidaknya yang ingin disampaikan itu dalam buku ketujuhnya: “Perempuan Melayu yang Tak Pernah Layu”. Dari paparan buku setebal 500 halaman itu, ada pepatah yang disampaikan Tatik sapaan Suryatati: “Kalau takut dilamun ombak, jangan berumah di pinggir pantai”, pepatah yang bukan hanya untuk pria, tetapi juga bisa untuk perempuan-perempuan berjiwa tangguh.
Dan, diakui atau tidak, tak mudah bagi seorang perempuan untuk menjadi wali kota di Indonesia. Melalui buku itulah Tatik bercerita, mamaparkan, mengenang, dan tentu saja mengingatkan bahwa perjalanan karir seorang “perempuan biasa” menjadi “perempuan luar biasa” tidaklah seenak yang dibayangkan banyak orang.
“Bukan salak jadi cendawan. Duku kuini menawan hati, bukan hendak jadi pahlawan. Buku ini adalah pengalaman sejati,” pantun Tatik, masih tetap berhati-hati menjaga marwah kaum perempuan. Banyak hal yang ditulis Tatik pada “Perempuan Melayu yang Tak Pernah Layu”. Namun, sisi keibuan seorang pemimpin, ikut mempengaruhi beberapa kebijakannya selama menjabat sebagai Wali Kota Tanjungpinang.
Ketika Beda Buku di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, medio Mei 2013, Dosen dan sastrawan, Firman Venayaksa, juga menyadari spirit keibuan Tatik sebagai pemimpin. “Dalam buku ini terdapat surat-menyurat, dinamika keluarga, politik lokal, keputusan, undang-undang, dan peraturan menteri, tapi dituturkan dengan kekayaan batin seorang ibu,” papar Firman, saat membedah buku “Perempuan Melayu yang Tak Pernah Layu”,
Sisi keibuan yang disorot Firman adalah ketika bagaimana Pemerintah Kota Tanjungpinang berupaya menertibkan para pedagang kaki lima (PKL) oleh Satpol PP. “Kadang-kadang, ada rasa tak tega dan tak manusiawi melihat ibu-ibu harus pontang-panting menyelamatkan barang dagangannya,” nukilan dalam buku inilah Firman melihat konteks keibuan yang sangat dalam, yang disebutnya bagaimana menangani masalah bukan secara represif.
Firman juga berpendapat, “Perempuan Melayu Yang Tak Pernah Layu” menggambarkan penyajian kisah politik dan membuka cakrawala bahwa siapapun bisa menulis sejarah.
“Isu perempuan tak boleh berpolitik dalam pilkada seringkali disertai dengan membawa ayat dan hadits tertentu. Namun Suryatati menepis itu dalam bukunya dan menunjukkan pemikiran itu tak terlalu menarik untuk didiskusikan,” ujar Firman.
Dia juga menyoroti sisi positif kepedulian Tatik terhadap sastra dan puisi yang mendorong Tanjungpinang dikenal sebagai ‘Kota Gurindam’, serta menularkan demam sastra terhadap masyarakat.
“Menurut saya, inilah ciri khas seorang Suryatati yang memiliki naluri keibuan dan emosi yang terjaga. Punya posisi untuk marah tapi tak dilakukan. Ciri yang kedua adalah sosok yang peduli dengan kebudayaan,” terang Firman.
Pembicara lainnya, Zubaidah Djohar, M.Hum, peneliti isu perempuan, politik dan sosial, terang-terang menyatakan kekaguman kepada Tatik. “Dari judul bukunya saja, puitis yang politik. Penulis tahu benar siapa dirinya,” sebut wanita asal Aceh ini.
Zubaidah berpendapat, kekuatan perempuan terletak ketika ia mampu menuliskan sejarahnya. Sosok kepemimpinan perlu dilihat dari empati dan kedekatan hubungannya dengan yang dipimpin.
“Dalam buku ini, ada cerminan bahwa perempuan tidak mengingkari duka yang menimbulkan sakit dan kecewa, tapi disampaikan dengan sejuk. Tapi ia tahu bagaimana harus bangkit, ke mana kaki harus dilangkahkan,” tutur Zubaidah.
Tatik, sebut Zubaidah, merupakan sosok perempuan yang berusaha menjaga nilai- nilai kemelayuannya. “Karakter perempuan Melayu itu terbuka, tapi juga tahu bagaimana caranya untuk bangkit. Dan dalam memimpin, Suryatati sering menggunakan pendekatan psikologis,” puji Zubaidah.
Abdul Malik, dosen Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang, menjadi pembicara ketiga, lebih banyak menyoroti perjuangan seorang Tatik menempuh karir politiknya. Dia melihat dinamika politik di negeri ini sebagai sesuatu yang sengaja “dibuat-buat”.
Menurutnya, laki-laki ataupun perempuan boleh menjadi pemimpin dalam budaya Melayu, asal orang yang hendak menjadi pemimpin itu memiliki kemampuan dan kualitas kepemimpinan yang diidealkan.
“Menjadi pejabat negara itu ada yang suka dan benci. Bu Tatik sudah kenyang berhadapan dengan kejamnya politik praktis yang dituturkan dalam buku ini. Tapi yang terpenting semua cairan dan tantangan itu dijawabnya dengan tenang, tabah dan anggun. Apa rahasianya? Dia dibesarkan dalam keluarga penuh kasih sayang. Ibu Tatik diajarkan oleh ayah yang penuh suri tauladan, taat beribadah, berjiwa bersih, amanah tak penyampai hati,” papar Abdul Malik.*)
Penulis: Sahabat Jang Itam







