RiauKepri.com, PEKANBARU – Di balik gemerlap peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Riau, terselip momen menyentuh ketika Gubernur Riau H. Abdul Wahid, M.Si., meluncurkan buku syair karyanya sendiri, Syair Negeri Bedelau, Kamis malam (7/8), di halaman SMAN 1 Pekanbaru. Buku ini bukan hanya kumpulan bait sastra, melainkan ungkapan cinta seorang anak negeri kepada tanah kelahirannya.
Dengan 164 bait yang ditulis langsung oleh sang gubernur, buku ini menjadi penanda bahwa pemimpin tak hanya berbicara dalam bahasa kebijakan, tetapi juga dalam bahasa hati. Di hadapan para tokoh adat, budayawan, dan masyarakat, Gubernur Wahid menyampaikan bahwa buku tersebut lahir dari kegelisahan dan harapan, sebagai “penjaga marwah dan penuntun tuah” bagi Riau.
“Syair adalah cahaya batin. Melalui buku ini, saya ingin menyalakan lentera kecil agar bangsa ini tidak kehilangan arah dan akarnya,” tutur Gubernur Wahid dalam sambutannya, dengan suara yang sempat bergetar.
Disunting oleh Benni Ihsan dan diterbitkan oleh Salmah Publishing, buku ini akan didistribusikan ke sekolah, perpustakaan, dan pusat kebudayaan di seluruh Riau. Tujuannya jelas: agar anak-anak Riau tumbuh mengenal siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan nilai-nilai apa yang harus dijaga.
Peluncuran Syair Negeri Bedelau menjadi lebih dari sekadar seremoni sastra. Ia adalah pernyataan bahwa budaya bukan barang museum, tetapi warisan hidup yang terus tumbuh bersama manusia yang mencintainya. Dalam bait-bait itu, tersembunyi suara hati seorang pemimpin yang ingin meninggalkan jejak bukan hanya di papan nama, tapi di jiwa generasi yang akan datang. (RK5)







