Menu

Mode Gelap
Sekda Ronny Kartika Paparkan Indeks Profesionalitas ASN pada Latsar CPNS Bintan Angkatan XXI Pencarian Korban Lompat dari Kapal Dumai Line Dihentikan? Pengembangan Kasus, Polsek Bukit Batu Ringkus Dua Pengedar Sabu di Dumai Kemnaker Gandeng TikTok, Perkuat Talenta Ekonomi Digital dan Buka Peluang Kerja Baru Komitmen Tanpa Kompromi: Polres Bengkalis Gencarkan Perang Narkoba, Desa Jangkang Jadi Pelopor Kampung Bersih dari Narkoba Bupati Siak Buka Pelatihan Guru RA, Tekankan Pendidikan Berbasis Cinta

Ragam

Drs. H. Samad Thaha, M.B.A (1916-2010): Tokoh Yang Tak Pernah Lelah Berjuang

badge-check


					Drs. H. Samad Thaha, M.B.A Perbesar

Drs. H. Samad Thaha, M.B.A

Orang sukses mencari jalan
Orang gagal mencari alasan
Orang sukses melihat peluang
Orang gagal melihat kesulitan

Orang sukses mulai belajar
Orang gagal mulai protes
Orang sukses berjuang untuk menjadi bukti
Orang gagal asyik menunggu bukti

Orang sukses sibuk memperbaiki diri
Orang gagal sibuk mengomentari
Orang sukses mulai berlari
Orang gagal mulai berhenti

Orang sukses telah menjadi bukti
Orang gagal hanya menanti bukti
Berpikirlah positive maka aura positif akan menyertai

Salam sukses orang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan, rintangan bahkan air mata.

Jangan pernah jadi manusia instan maunya yang gampang-gampang saja. Jadilah manusia intan yang sukses karena menikmati proses. Jangan pernah berharap manisnya keberhasilan. Sebelum merasakan kerasnya perjuangan.

PESAN seperti selalu disampaikan salah seorang tokoh pejuang, pendidikan, dan politisi Riau asal Kecamatan Benai, Kuantan Singingi, Riau: Drs. H. Samad Thaha, M.B.A.
Ibarat peribahasa, dia “tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan.” Artinya pesan yang disampaikannya menggambarkan hal-hal yang abadi, kuat, dan tidak mudah tergerus oleh perubahan.

Samad Thaha adalah sahabat, orang tua, dan guru yang tak pernah menggurui. Sosoknya layak diguru dan ditiru karena tidak mengurui. Pribadi yang sejuk, santun, dan mengayomi melekat pada sosok dirinya yang sederhana dan membumi tersebut.

Berbagai jabatan yang dipegang Samad Thaha selama kariernya membuktikan kompotensi, profesionalitas, loyalitas, dan kafabalitasnya sebagai tokoh lintas zaman. Mulai zaman penjajahan Belanda, pendudukan Jepang dan kemerdekaan.

Tak hanya di Kuantan Singingi, di Riau bahkan juga di tingkat nasional (Indonesia) namanya bergema dan dikenang secara luas. Ia mampu berbicara di atas pentas sebagai tokoh yang disegani, dihormati, dan diperhitungan.

PERJALANAN hidup Samad Thaha sangat panjang dan berliku. Ia menjalani pendidikan Sekolah Rakyat (1935 -1940), SVU (1940 – 1942), Normaal School (1946-1947), Kursus Guru Bawah (1955), Sarjana Muda (1967-1970), dan Sarjana Lengkap di Unri (1976).

Sedangkan kariernya di dunia pendidikan dimulai ketika jadi guru di Sekolah Rakyat di Teluk Kuantan (1942-1952), Kepala Sekolah Rakyat di Telukkuantan (1952-1954), Kepala Sekolah Guru Bawah di Telukkuantan (1957-1960), Kepala Asrama Pelajar di Tanjungpinang (1959-1961), dan Kepala SMP di Dabo Singkep (1961-1965).

Ketika menjadi guru itulah Samad Thaha sudah berjuang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI. Bersama kawan-kawan seperjuangannya Moehamad Noer Raoef asal Baserah (Kuantan Hilir), Intan Djudin asal Simandolak (Benai), dan M. Yusuf asal Lubuk Jambi (Kuantan Mudik), Radja Roesli, Intan Husin, Ma’rifat Marjani, Umar Usman, dan lainnya ikut berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan RI.

Pada 1948 Samad Thaha bergabung dengan pasukan “Ular Todung” di daerah Pucuk Rantau (Hulu Kuantan). Ia bertugas di bagian logistik. Berkat perjuangannya itu, ia tercatat sebagai anggota Legiun Veteran RI Provinsi Riau. Ia juga ikut dalam pembentukkan Provinsi Riau.

Usai melaksanakan pendidikan sebagai Kepala Sekolah SMP di Dabog-Singkep, Samad Thaha ditunjuk menjadi menjadi pejabat di lingkungan Kantor Wilayah Departemen P dan K Provinsi Riau. Seperti Kepala Inspeksi PUKK (1967-1971), Kepala Bidang Pendidikan Menengah Umum (1971-1979), dan Pengawas (1979-1980).

Dalam organisasi profesi pendidikan, Samad Thaha merupakan orang Kuantan Singingi pertama yang duduk dalam kepengurusan inti PGRI. Dia menjabat Ketua PD PGRI Riau (1975 – 1980) dan Wakil Sekretaris Jendral PB PGRI (1985 – 1987). Setelah itu baru muncul Drs. H. Soemardhi Thaher asal Inuman selaku Ketua PB PGRI (1984-1989) dan Sekretaris Jendral PB PGRI (1989-2004). Terakhir Drs. H. Huzaifah Dadang AG, M.Si asal Kuantan Hilir selaku Ketua PB PGRI (2019-2024).

Dalam bidang politik, Samad Thaha merupakan politisi asal Kuantan Singgingi yang pernah menjadi anggota DPR RI (1982-1987) dari Golkar pada era kepemimpinan Presiden Soeharto. Dia adalah anggota DPR RI keempat asal Kuantan Singingi. Sebelumnya ada Buya Ma’rifat Mardjani dari Partai Perti (1956-1959) asal Kecamatan Kuantan Mudik, KH Umar Usman (1971 – 1976) dari Kecamatan Kuantan Tengah dan Drs. H. Maridin Arbis (1977-1982) dari Kecamatan Benai.

DI LUAR aktivitasnya di bidang organisasi dan politik, Samad Thaha juga bergerak mengembangkan pendidikan melalui yayasan yang dikelolanya. Waktu menjabat Kepala Bidang Pendidikan Menengah Umum pada Kantor Wilayah Departemen P dan K Provinsi Daerah Tk. I Riau tahun 1977, dia meng-inisisasi pendirian SMA Negeri Telukkuantan, Kecamatan Kuantan Tengah.

Sekolah ini dibuka sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan dah Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0576/0/1977 tanggal 8 Desember 1977. Bersamaan dengan itu juga dibuka pula SMP Negeri III Bengkalis, SMP Negeri III Pekanbaru, dan SMP IV Tanjungpinang.

Lalu bersama dengan Drs. H. Raja Intan Djuddin dan H. Musa Jasdi serta tokoh masyarakat Benai mereka mendirikan SMP IV Koto Benai. Sekolah ini berdiri di bawah naungan Yayasan Pendidikan IV Koto Benai. Terakhir pada 1995 bersama Bakrie K, B.A. mantan anggota DPRD Riau, ia mendirikan MDA dan SMK bernuansa Islami dibawahi naungan Yayasan Pendidikan Islam Muttaqin Benai.

Pada 1978 Samad Thaha dianugerahi Satya Lencana 30 tahun. Penghargaan ini merupakan bukti nyata kesetiaan, pengabdian, kecakapan, kejujuran, dan kedisiplinan dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab sebagai PNS tanpa putus. Penghargaan ini diberikan kepada PNS yang sudah bekerja 10,20, dan 30 tahun tanpa putus.

Segudang aktivitasnya mulai dari guru Sekolah Rakyat sampai pada pendiri dan pengurus yayasan yang menyelenggarakan pendidikan menengah dan tinggi di tanah kelahirannya. Itu adalah bukti cinta terhadap tanah tumpah kelahirannya: BENAI pada khususnya dan Kuantan Singingi pada umumnya.

Sebagai tokoh masyarakat, Samad Thaha juga dipercaya menjadi anggota Dewan Penasihat Lembaga Adat Melayu Riau. Lalu sebagai Ketua Pengarah Seminar dan Musyawarah Besar Rakyat Kuantan Singingi untuk pembentukkan Kabupaten Kuantan Singingi pada 9-10 Juli 1999 di Telukkuantan.

Ketika Kuantan Singingi dimekarkan jadi Kabupaten, Samad Thaha bersama Prof. Drs. H. Suwardi MS mendirikan Yayasan Perguruan Tinggi Kuantan Singingi. Melalui yayasan ini mereka mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Unggulan Swarnadwipa (STIP-US) dan Sekolah Tinggi Teknologi Unggulan Swarnadwipa (STT-US) di Telukkuantan, Kuantan Singingi.

Pendirian kedua sekolah ini sesuai dengan akta notaris: Tito Utoyo, SH, tanggal 30 Juni 2000, nomor 92 dan berhasil diperoleh izin tanggal 5 Juli 2001, dengan nomor Izin: 66/D/O/2001. Kedua Sekolah Tinggi itu bergabung dengan Yayasan Pendidikan Tinggi Islam Kuantan Singingi menaungi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) menjadi cikal bakal Universitas Islam Kuantan Singingi (UNIKS).

Bagi masyarakat Kuantan Singingi terutama yang berasal dari Benai yang kuliah di Pekanbaru, Samad Thaha merupakan orangtua tempat mengadu apabila ada kesulitan. Bukan hanya masalah kuliah tetapi juga masalah ekonomi. Karena kebanyakan mahasiswa waktu itu berasal dari orangtua yang kurang mampu.

Dari pernikahannya dengan Hj. Fatimah Zainab mereka memiliki 10 buah hati yang berkarier dalam pelbagai bidang. Anak, cucu, dan cicitnya kini sudah tersebar di pelbagai daerah di Indonesia.

SAMAD THAHA meninggal dunia pada Kamis 30 September 2010 sekitar pukul 12.00 WIB di Rumah Sakit Awal Bros, Pekanbaru dalam usia 84 tahun. Dikebumikan di Taman Pemakaman Umum Tobek Sontual, Desa Koto Telukkuantan, Kuantan Tengah. Kepergianya memberikan kesan mendalam bagi generasi penerusnya.

Gubernur Riau (2003-2008 dan 2008-2013), H. M. Rusli Zainal, S.E., M.M menyebut Samad Thaha salah seorang tokoh Riau yang banyak berjasa untuk daerah Riau. “Pak Samad adalah salah seorang putra terbaik Riau yang patut diteladani. Dia tak pernah lelah berjuang untuk Kuantan Singingi yang dicintainya,” jelas Rusli.

Selama masa hidupnya menurut mantan Ketua PGRI Riau, Prof. Dr. Isjoni Ishaq, M.Si mengatakan Samad Thaha adalah tokoh panutan para guru. Hal itu dibuktikan dengan kedekatannya para guru. Tidak membeda-bedakan guru dari berbagai kalangan, semua dinilainya sama.

“Selalu mendengar dan menghargai pendapat orang lain. Tidak pernah membantah, apalagi menidakkan. Semuanya itu dilakukannya,” kenang Isjoni sembari mengatakan dikalangan pendidik dan non pendidik, Samad Thaha dikenal dengan keramahan tamahannya.

Di mata teman seperjuangan dalam pemekaran Kabupaten Kuantan Singingi Dr. Ir. Mardianto Manan, M.T, sosok Samad Thaha sangat kebapakan, santun, dan penyayang. “Pak Samad Thaha tak pernah berkata kasar pada kami sewaktu sama-sama duduk jadi panitia pendirian pemekaran Kuantan Singingi,” ujarnya mengenang.

Lalu ketika ditanya kisah duka bersama Samad Thaha, Mardianto Manan langsung mengisahkan perjalanan mereka dan rombongan selama satu hari dua malam ke Jakarta. Mardianto bercerita, “kami berangkat ke Jakarta naik bus Lorena dari Wisma Narasinga Jl. Diponegoro, Pekanbaru. Sesampai di Jakarta beliau jadi tour guide kami. Atas jasa hubungan baik beliaulah kami bisa nginap gratis di Gedung Guru yang berada di Gambir dan Tugu Monas.”

“Kami jalan bersama dan Pak Samad Thaha menceritakan nostalgianya ketika jadi anggota DPR/MPR RI dan Pengurus PB PGRI. Saya termotivasi mengikuti perjuangan beliau. Bagi saya beliau adalah orang tua, guru, dan sahabat dalam suka maupun duka kendati umur kami terpaut sangat jauh,” ujarnya.

“Saya masih ingat pidato perlawanan ingin “merdeka” dari Indragiri Hulu berjudul: “Membangkit Batang Terendam.” Pidato itu dibacakannya berapi-api di depan Gubernur Riau H. Saleh Djasit, S.H dan Bupati Indragiri Hulu Ruchiyat Saefuddin di Balai Adat Kuantan Singingi pada Mubes Masyarakat Kuantan Singingi pada 9-10 Juni 1999. Pidato itu disambut riuh rendah warga Kuantan Singingi,” ujar anggota DPRD Riau periode 2009-2024 dari PAN ini dengan deraian air mata.

Menurut Mardianto Manan, suara Samad Thaha memang pelan ketika menjelaskan keperihan rakyat Kuantan Singingi, Dan meledak-ledak ketika ingin mendirikan pemekaran Kuantan Singingi. “Kuantan bagaikan surga nan menghasilkan segala. Ke sungai berbuah pasir ke rimba berbuah kayu,” katanya seperti diingatkan oleh Mardianto Manan.

Samad Thaha memang telah tiada. Tapi nama baik dan jasanya tak dilupakan.

Bagi politisi Riau asal Kuantan Singingi Marwan Yohanis, Samad Thaha adalah tokoh yang tak pernah mengenal kata menyerah berjuang untuk kampung halamannya. Khusus Kuantan Singingi dan Riau pada umumnya. Dia memang telah tiada. Tapi nama baik dan jasanya tak dilupakan.

“Tak ada kalimat yang pantas yang bisa saya sampaikan untuk orang yang saya cintai itu. Hanya doa semoga amal baiknya diterima Yang Maha Kuasa. Amin,” ujar Marwan.

Riwayat Hidup Drs H. Samad Thaha, M.B.A

Riwayat Pendidikan
1. SR: 1935 -1940
2. SVU: 1940 – 1942
3. Normaal School: 1946-1947
4. KGB: 1955
5. Sarjana Muda/D-3 IKIP Jakarta/ FKIP Unri: 1967-1970
6. Sarjana Lengkap/S-1: 1976

Pekerjaan:
1. Guru SR Telukkuantan: 1942-1952.
2. Kepala SR Telukkuantan: 1952-1954.
3. Kepala SGB Telukkuantan: 1957-1960.
4. Kepala Asrama Pelajar di Tanjungpinang: 1959 – 1961.
5. Kepala SMP Dabo Singkep: 1961 -1965.
6. Kepala Inspeksi PUKK Riau: 1967 – 1971.
7. Kabid PMU: 1971-1975
8. Kabid PMU Kanwil P& K Riau 1975-1979.
9. Pengawas Kanwil P & K Riau: 1979 – 1980.
10. Ketua PGRI Riau: 1975 – 1980.
11. Anggota DPR RI: 1982 -1987.
12. Wakil Sekjen DPP PGRI: 1985 – 1987.

Riwayat Lain-Lain
1. Anggota Pembentukkan Sumatera Tengah.
2. Ikut Pembentukan Provinsi Riau.
3. Anggota Pasukan Ular Todung 1948 di Pucuk Rantau, Hulu Kuantan.
4. Anggota Veteran Republik Indonesia Provinsi Riau.
5. Penerima Penghargaan Satya Lencana Karya Satya 30 Tahun pada 1978.
6. Dewan Pengurus Lembaga Adat Melayu Riau.
7. Ketua Pengarah Seminar dan Mubes Masyarakat Kuantan Singingi: 1999.
9. Pendiri Yayasan Jalur Wisata Pekanbaru.
10. Pendiri Yayasan STIP Kuantan Singingi.
11. Pendiri/pengurus Yayasan Pendidikan Islam Kuantan Singingi.
12. Pendiri dan Ketua Yayasan Pendidikan Islam Muttaqin Benai.

Penulis: Sahabat Jang Itam

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

LAMR Minta Menteri Kehutanan Batalkan Rencana Relokasi Warga TNTN di Tanah Adat Cerenti

10 Maret 2026 - 19:21 WIB

Pendulang Tradisional Terjaring, Polisi Bongkar Dapur Emas Ilegal di Kuansing

3 Februari 2026 - 11:19 WIB

Jadwal Nisfu Syaban 2026 dan Amalan yang Dianjurkan

1 Februari 2026 - 06:35 WIB

Relokasi Eks Penghuni TNTN di Cerenti Dinilai Lemah Secara Hukum

31 Januari 2026 - 08:16 WIB

Sekolah Rakyat ke-4 Dibangun di Kuansing, Pemprov Riau Perluas Akses Pendidikan Gratis

22 Januari 2026 - 13:43 WIB

Trending di Kuansing