PERJUANGAN mahasiswa sebelum dan pasca pemekaran Kuantan Singingi tak bisa dilepaskan dari sosok pria yang satu ini. Tokoh dan aktifis mahasiswa punya andil besar dalam Pembentukan Kabupaten Kuantan Singingi yang kita cintai ini.
Namanya nyaris dilupakan dan bisa jadi dilupakan oleh “oknum” pahlawan kesiangan yang kini mengaku tokoh dan pelaku pejuang kabupaten Kuantan Singingi. Tapi sejarah sudah mencatatnya dan saksi sejarah bisa menceritakan kisah heroik perjuangannya.
Sosok yang dimaksud adalah adalah Apriadi. Lahir di Desa Banjar Kecamatan Benai, Kuantan Singingi, Riau pada 2 Januari 1974. Terlahir sebagai anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Zainul Abidin dan Yusda Anida. Saudaranya yang lain adalah Zalmizen, Ardizen, dan Zulwisman.
Pendidikan dasar dilalui Apriadi di Benai. Tepatnya di SD Negeri No 039 Banjar Benai (1981 –1987). Kemudian melanjutkan pendidikan menengah di SMP Negeri Benai (1987-1990) dan SMA Negeri 5 Pekanbaru (1990-1993). Lalu pendidikan tinggi di Universitas Riau (Unri), Pekanbaru. Tepatnya di Fakultas Pertanian Jurusan Budidaya Pertanian/Agronomi (1993- 2000).
Selama jadi mahasiswa, Apriadi juga aktif dunia pergerakan seperti Badan Perwakilan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa Unri Fakultas Pertanian. Sedang di dunia olahraga dia salah seorang pemain PS Unri yang dilatih oleh coach Margono. Selain dia pemain PSPS asal Kuantan Singingi adalah Miskardi dari Kari, Eva Hendri (Sawah), Dadang (Baserah), Yudi (Logas), dan Alfikra (Jake).
Di PS Unri nama Apriadi akrab disapa Philip Benai. Nama Philip melekat pada dirinya karena pemain PS Unri yang lagi naik daun waktu itu bernama Philip Hansen. Sedangkan Benai merupakan tempat kelahirannya. Dan, di dunia sepakbola nama Philip Benai melekat sampai hajat menjemput dirinya.
Selain di kampus, Apriadi merupakan Ketua IPMAKUSI Pekanbaru yang pertama. Pada pemilihan pada 31 Mei 1999, ia berhasil menumbangkan alumnus Universitas Gadja Mada (UGM) Yogyakarta Mardianto Manan. Kekalahan Mardianto Manan menjadi berita hangat di media kala itu.
Urdianto Paboun wartawan Pekanbaru Pos/Mingguan Utusan menulis: “Mahasiswa Unri Tumbangkan Alumni UGM”. Reflizar dari Media Riau menulis “Pulang Kampung, Alumni UGM di-KO-kan Mahasiswa Unri. Sedangkan Mai Irianta dari Riau Pos menulis, ”Impian Mardianto Dipupuskan Apriadi.”
Mardianto Manan yang dulu kata tim suksesnya Syariful Adnan alias Jang Itam sempat “merengguik” ketika ditumbangkan Apriadi. Namun berkat dorongan sang pacar mahasiswa Jurusan Biologi UGM yang kini jadi istrinya Tien Triani Sattah dia kembali bangkit dan bergairah.
Kerjas keras mengantarkan Mardianto Manan menjadi Anggota DPRD Riau (2021- 2024) dari PAN dari Dapil Kuantan Singingi dan Indragiri Hulu. Dan, sekarang dia jadi akademisi di Fakultas Teknik Universitas Islam Riau (UIR) Pekanbaru. “Kita harus bangkit dari kegagalan,” ujarnya tersenyum manis.
Bersama IPMAKUSI, Apriadi ikut berjuang dalam pemekaran Kuantan Singingi sebagai kabupaten. Kendati namanya kini “terlupa” atau sengaja “dilupakan” namun para sahabatnya mengenangnya sosok mahasiswa yang gigih memperjuangkan pemekaran Kuantan Singingi.
Hanya Gubernur Riau Rusli Zainal pada 2005 yang memberinya penghargaan sebagai salah seorang pejuang dan pendiri Kabupaten Kuantan Singingi. Dari Kuantan Singingi sendiri? Entahlah…….
Apriadi juga ikut menggerakan aksi demo bersama masyarakat kepada perusahaaan yang menyerobot tanah ulayat di Kuantan Singingi seperti PT. Duta Palma Nusantara (DPN) di Benai, PT. Tri Bakti Sarimas (TBS) di Kecamatan Kuantan Mudik, dan lainnya. Rekan seperjuangannya di antaranya adalah Duski Mansur dari Sibarakun yang berjuang merebut kembali tanah ulayat yang dirampas PT TBS di Benai.
Setamat kuliah di Unri, Apriadi pulang kampung. Ia honor di kantor DPRD Kuantan Singingi (2000 – 2003). Namun dia berhenti karena bukan di situ dunianya. Ia juga aktif di dunia kepemudaan dan olahraga seperti Pemuda Pancasila (PP), Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).
Pada 2002 Apriadi terjun ke partai politik. Ia menjabat Ketua Umum DPC Partai Patriot dan menjadi caleg dari partai tersebut, tapi gagal. Pada 2005 -2010 ia bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) bersama sahabatnya seperjuangan di IPMAKUSI, Sardiyono waktu itu menjabat sebagai Wakil Ketua. Kemudian pada 2010 dia bergabung dengan Partai Demokrat.
Selama terjun di dunia politik, Apriadi tiga kali mencalonkan diri menjadi calon legislatif (caleg) selalu gagal. Ikut caleg dari PP, PPP, dan Demokrat untuk DPRD Kuantan Singingi dari Dapil Kuantan 1: Kuantan Tengah, Sentajo Raya, dan Benai. Setelah gagal jadi caleg, dia “banting” stir menekuni jual beli ternak: kerbau, sapi, dan kambing.
Dari pernikahannya dengan Herni Setiati (Guru SMA Negeri 1 Sentajo) tahun 2000, Apriadi mempunyai anak: Dirga Pratama Putra, Dwi Affiddah Malika Putri, Iftah Huda Putra, dan Shidqia Annaila Putri. Anaknya kini tengah berjuang melanjutkan pendidikan untuk meraih masa depan.
Di mata keluarga, Apriadi adalah sosok yang sangat baik, penyayang, penyabar, dan ramah, bertanggung jawab, tidak pemarah, dan taat dalam ibadah. “Ayah selalu mengajarkan kepada kami untuk pandai menjaga diri, mandiri, dan melanjutkan pendidikan selagi ada kemauan,” ujar anak keduanya Dwi Alfiddah Malika Putri kini kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB) Jurusan/ Prodi: Teknik Pertanian/ Teknologi Pangan.
Sementara itu Jang Itam sapaan akrab Syariful Adnan, sahabat sekaligus “musuh bebuyutan” Apriadi mengatakan, banyak kisah perjalanan hidupnya yang menarik selama bergaul dengan Apriadi. Baik selama kuliah, jualan kelapa maupun pergerakan mahasiswa.
“Ketika kami jualan kelapa untuk menyambung hidup, Apriadi yang melakukan nego harga ke petani di Tembilahan. Setelah kelapa terkumpul, saya dan Dunir yang jual ke Jakarta,” ujar Jang Hitam yang sekarang jadi Ketua IKKS Kabupaten Palalawan.
Menurut Jang Itam jika ada penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi terhadap pejuang pemekaran Kuantan Singingi, Apriadi adalah orang yang layak mendapatkan itu. “Kami berjuang bersama perjuangan lainnya dengan tetesan darah, keringat, dan air mata. Kami bukan pejuang kesiangan yang sekarang dengan bangga mengatakan sayalah pejuang pemekaran Kuantan Singingi. Sejarah itu perlu diluruskan kembali,” sindir Jang Itam.
Kemudian dalam pandangan yuniornya: Amirul “Budi Pulau Dore” Mukminin menyebut Apriadi adalah sosok senior yang jago melakukan negosiator, jago lobi, percaya diri, dan setia. “Ia juga jahil terutama terhadap sahabat sekaligus musuh bebuyutan Jang Itam,” ujar Budi tersenyum.
Apriadi meninggal dunia pada 11 Mei 2015 dalam usia 41 tahun di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Penyakit Leukimia yang dideritanya sejak 4 bulan sebelum ajal menjemputnya. Di kebumikan di Desa Kampung Baru Sentajo. Kecamatan Sentajo Raya. Jasadnya memang sudah pergi namun perjuangannya tak akan dilupakan.
Doa kami menyertaimu sahabat.*)
Penulis: Sahabat Jang Itam







