RiauKepri.com, JAKARTA- Langit Jakarta cerah pada pagi 17 Agustus 2025. Usai detik-detik pengibaran Sang Merah Putih di halaman Istana Merdeka, suasana yang khidmat itu pelan-pelan berubah menjadi hangat dan semarak. Bukan hanya oleh semangat kemerdekaan, tetapi juga karena sebuah penampilan yang tak biasa, pacu jalur ditampilkan dalam format seni pertunjukan yang memukau.
Di tengah barisan penari yang membentuk formasi perahu panjang khas tradisi Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun menjadi pusat perhatian. Dialah Rayyan Arkan Dhika, sang Togak Luan, yang dikenal warganet dengan sebutan khas, Aura Farming.
Geraknya gesit, matanya tajam, dan tubuhnya lentur menari mengikuti irama randai Kuansing yang dikolaborasi modern. Musik randai yang biasanya berjiwa klasik kini dibubuhi suara biola dan gebukan gendang yang menghentak. Dalam balutan baju kurung hijau dan kacamata khasnya, Dhika menari penuh percaya diri, menghidupkan simbol kolektif dari semangat kerja sama dan budaya Melayu yang telah turun-temurun.
Keagungan Melayu
Istana Merdeka hari itu tidak hanya menjadi saksi keagungan kenegaraan, tapi juga tempat budaya Melayu Riau mengambil panggung utama. Ketika Rayyan menggoyang panggung dengan gerakan energik dan uniknya, Presiden Prabowo Subiyanto tersenyum lebar, mengangguk-angguk, lalu bertepuk tangan. Bahkan beberapa menteri pun tak tahan, ikut berjoget di tempat duduk mereka. Mensesneg Hadi Prasetyo dan Seskab Teddy, terlihat menikmati irama dan tari-tarian yang mengalir deras seperti air sungai Kuantan.
Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan. Ini adalah simbol hadirnya budaya daerah di jantung kekuasaan nasional. Togak Luan, tokoh pemimpin perahu dalam pacu jalur, diangkat dari gelanggang tradisi menjadi ikon nasional oleh seorang bocah yang karismanya melintasi batas.
LAMR dan Semangat Persatuan
Kehadiran Rayyan dari Kuansing bukanlah kebetulan. Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) hadir langsung di Istana, membawa pesan besar, penguatan nilai-nilai persatuan dalam bingkai budaya.
“Ini bentuk nyata bahwa Melayu Riau tidak hanya bagian dari sejarah Indonesia, tapi juga bagian dari masa depannya,” kata Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, Ketua Umum DPH LAMR yang turut hadir dalam upacara peringatan 80 tahun kemerdekaan RI itu.
Menurutnya, tahun ini bisa disebut sebagai tahun di mana identitas Melayu Riau bersinar terang di Istana. Dari lima pakaian adat resmi yang ditampilkan, salah satunya adalah pakaian Melayu Riau. Dan puncaknya, tentu saja, pertunjukan pacu jalur dengan Togak Luan Aura Farming sebagai bintangnya.
Dari Daerah, Indonesia Maju
Pacu jalur memang dikenal sebagai lomba dayung khas Riau, tetapi dalam konteks ini, ia menjadi simbol irama kolektif untuk mendayung Indonesia ke depan dengan kebersamaan, keberanian, dan kebudayaan sebagai penggerak utama.
Dhika, sang bocah dari Kuansing, hari itu tak hanya menari di atas “perahu” buatan. Ia mendayung semangat nasionalisme lewat budaya. Dan Istana pun, untuk beberapa menit, larut dalam aura itu.
Semoga aura yang datang dari kampung ke jantung negara itu mengayuh perahu menuju ke pulau harapan. (RK1)







