RiauKepri.com, BATAM – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Saibansah Dardani, mengajak para kepala sekolah memperkuat kemitraan dengan wartawan untuk menumbuhkan budaya membaca, menulis, dan berpikir kritis di lingkungan pendidikan.
Ajakan itu disampaikan Saibansah saat memberikan paparan jurnalistik kepada para kepala sekolah yang tergabung dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Wilayah III Kota Batam di SMP Negeri 26 Batam, Sagulung, Rabu (21/10/2026).
Mengusung tema “Dari Ruang Kelas ke Ruang Redaksi: Menghidupkan Budaya Membaca, Menulis, dan Berpikir Kritis melalui Kolaborasi Sekolah dan Wartawan”, pertemuan tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus penguatan peran sekolah dan insan pers dalam membangun budaya literasi.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Ketua MKKS Wilayah III Kota Batam, Aswaldi serta para kepala sekolah yang tergabung dalam MKKS Wilayah III Kota Batam. Hadir pula Ketua PWI Kota Batam M. Kavi Anshari, Ketua Bidang Pendidikan PWI Batam Kamal, serta pengurus PWI Kepri Sarah Meilina.
Dalam paparannya, Saibansah yang akrab disapa Cak Iban menekankan bahwa kepala sekolah dan wartawan memiliki ruang kolaborasi yang luas. Wartawan tidak hanya bertugas menyampaikan informasi kepada publik, tetapi juga dapat berbagi pengalaman jurnalistik untuk mendukung proses pembelajaran.
Menurut dia, pengalaman wartawan dalam mencari informasi, melakukan wawancara, mengamati peristiwa, memeriksa fakta, dan menyusun berita dapat menjadi sumber pembelajaran bagi siswa. Keterampilan tersebut relevan untuk membentuk kebiasaan membaca, menulis, serta menyampaikan gagasan berdasarkan fakta.
“Kolaborasi sekolah dan wartawan dapat membuka ruang belajar yang lebih luas bagi siswa. Mereka tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga memahami bagaimana informasi diperoleh, diperiksa, dan disampaikan secara bertanggung jawab,” demikian pokok materi yang disampaikan Cak Iban.
Cak Iban yang juga Ahli Pers Dewan Pers itu menjelaskan, budaya membaca perlu dibangun melalui kebiasaan, bukan sebatas instruksi. Membaca buku, berita, artikel, dan karya sastra dapat memperluas wawasan, memperkaya kosakata, serta membantu siswa memahami beragam sudut pandang.
Sementara itu, kegiatan menulis dapat melatih siswa menata pikiran, memilih kata secara tepat, dan menyusun argumentasi. Siswa juga dapat memulai dari tema sederhana yang dekat dengan kehidupan mereka, seperti pengalaman di sekolah, profil guru, kegiatan sosial, dan kondisi lingkungan sekitar.
Saibansah mendorong agar karya siswa memperoleh ruang publikasi dan apresiasi. Dengan demikian, menulis tidak berhenti sebagai tugas sekolah, tetapi berkembang menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan dan kepedulian terhadap lingkungan.
Melatih Siswa Memeriksa Fakta
Selain membaca dan menulis, Cak Iban menyoroti pentingnya kemampuan berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi. Siswa perlu dibiasakan membedakan fakta, opini, asumsi, dan berita bohong atau hoaks.
Menurut materi paparannya, berpikir kritis bukan berarti gemar membantah atau menolak pendapat orang lain. Kemampuan tersebut justru diperlukan agar seseorang dapat menilai informasi berdasarkan alasan dan bukti, sekaligus menghormati perbedaan pandangan.
Wartawan dapat membantu memperkenalkan disiplin verifikasi kepada siswa. Mereka dapat belajar memeriksa sumber informasi, mengonfirmasi keterangan kepada pihak terkait, memastikan waktu dan tempat suatu peristiwa, serta memahami konteks sebelum menyimpulkan sebuah informasi.
Kebiasaan tersebut penting agar siswa tidak mudah mempercayai informasi hanya karena ramai dibicarakan atau viral di media sosial. (RK/*)











