Menu

Mode Gelap
Bupati Afni: Progres Jalan Inpres Pinang Sebatang Barat–Muara Kelantan Sudah 15 Persen Tahun ini Baru Jembatan Selat Akar yang Dianggarkan Pemprov Riau Bupati Kepulauan Meranti Perjuangkan Perbaikan Jembatan dan Jalan Provinsi di DPRD Riau Nada Salsabila Kamil di Undang Podcast RRI Atas Prestasinya HPN 2026, BNNK Tanjungpinang Hadirkan Edukasi Rehabilitasi Narkotika untuk Masyarakat Tiga Polisi Aktif Diduga Terlibat Pesta Narkoba, Kapolres Bengkalis: Tak Ada Ampun, Semua Ditindak Tegas

Internasional

Pacu Jalur Revolusi Budaya, di Sungai Marwah Melayu tak Pernah Mati

badge-check


					Wapres RI Gibran menyapa jalur. Perbesar

Wapres RI Gibran menyapa jalur.

RiauKepri.com, KUANSING- Langit di atas Kuantan Singingi menggantung kelabu. Angin menderu pelan dari arah Sungai Kuantan, membelai bendera, spanduk, dan semangat ribuan pasang mata yang tertuju ke satu titik, jalur panjang yang siap dilintasi perahu tradisional. Teduh menyeruak ketika Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melambaikan tangan, membalas sambutan warga dan para awak jalur. Di sinilah, pada Rabu (20/8/2025), tradisi ratusan tahun itu kembali berdenyut dalam Festival Pacu Jalur resmi dibuka.

Dari balik panggung kehormatan, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana berdiri tegak. Senyumnya mengembang saat menyaksikan jalur-jalur berhiaskan warna-warni budaya meluncur di sungai yang menyimpan sejarah panjang Melayu Riau. Dalam pidatonya, ia menyebut festival ini sebagai bukti bahwa budaya tak hanya hidup, tetapi mampu memberi kehidupan, sebagai ikon wisata dan ekonomi daerah.

“Saya bangga bisa hadir langsung di sini, bersama masyarakat Kuantan Singingi menyaksikan salah satu festival budaya dan olahraga tradisional terbesar di Provinsi Riau,” ujarnya.

Tak sendirian, Widianti hadir bersama jajaran penting negara, Menteri Kebudayaan Fadlizon, Juru Bicara Presiden Hasan Hasby, Gubernur Riau Abdul Wahid, dan Bupati Kuansing Suhardiman Amby. Bahkan sejumlah duta besar negara sahabat pun menyempatkan hadir, menambah nuansa diplomatik dalam festival rakyat ini.

Ke Istana Negara

Tak berlebihan jika Widianti menyebut Pacu Jalur sebagai simbol keberhasilan tradisi yang mampu “naik kelas”. Bagaimana tidak, di peringatan HUT ke-80 RI beberapa hari lalu, kayauh-kayauh dari Kuansing tampil memukau langsung di hadapan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka. Sebuah lompatan monumental dari festival lokal menjadi etalase budaya nasional.

Gubernur Riau Abdul Wahid menyebutnya sebagai “kebangkitan budaya yang tidak hanya terdengar di Teluk Kuantan, tetapi sudah menggema hingga ke jantung negeri dan bahkan ke panggung dunia. Menurutnya, Pacu Jalur bukan hanya lomba perahu panjang, melainkan marwah Melayu, simbol kehormatan yang sarat nilai kebersamaan dan sportivitas.

“Ketika kayauh-kayauh berpadu di atas jalur, itu bukan hanya soal kecepatan, tapi soal semangat, kehormatan, dan persatuan,” tegas Wahid.

Balapan

Pacu Jalur adalah seni dalam kekompakan. Satu perahu panjang bisa diisi hingga 60 pendayung. Mereka mendayung serempak, penuh teriakan semangat, beradu kecepatan di arus Sungai Kuantan yang deras. Ini bukan hanya tontonan, tapi juga pengalaman batin, baik bagi para pesertanya, maupun bagi ratusan ribu penonton yang memadati Tepian Narosa.

UMKM lokal turut hidup dalam gegap gempita festival ini. Aroma sate dan gulai ikan patin bersaing dengan wangi lemang dan kopi khas Riau. Gubernur Wahid mencatat, dengan target 1,5 juta pengunjung dan estimasi pengeluaran rata-rata Rp50.000 per orang, potensi perputaran uang bisa menembus Rp75 miliar. Festival ini bukan hanya merawat budaya, tapi juga mendongkrak ekonomi.

“Tema kita tahun ini ‘Pacu Jalur Mendunia, UMKM Semakin Jaya’. Ini bukan retorika. Ini target nyata untuk pertumbuhan rakyat,” ujar Wahid.

Dunia Menyaksikan

Festival Pacu Jalur 2025 menjadi salah satu andalan dalam program “Event by Indonesia” yang dicanangkan Kementerian Pariwisata. Sejak 2022, festival ini konsisten masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) dan bahkan tembus Top 10 KEN 2024, membuktikan bahwa tradisi bisa menjadi magnet global jika dikemas dengan tepat.

Menteri Pariwisata Widiyanti mengungkapkan bahwa nama Pacu Jalur kini sudah mulai diperbincangkan secara internasional. Bahkan sejumlah musisi dunia ikut menyebarkan fenomena “aura farming” istilah baru yang menggambarkan daya tarik budaya sebagai energi baru dalam promosi wisata.

“Siapa yang sekarang tidak kenal Pacu Jalur? Tradisi ini telah menjadi inspirasi, tak hanya bagi rakyat Indonesia, tapi juga bagi dunia,” kata Widianti.

Mata Dunia

Festival Pacu Jalur 2025 berlangsung selama lima hari, dari 20 hingga 24 Agustus. Selama periode ini, suara genderang, sorakan, dan semangat “kayauh… kayauh!” akan terus menggetarkan Kuansing. Tak hanya merayakan sejarah dan identitas, tapi juga menegaskan bahwa dari sebuah sungai kecil di Riau, semangat budaya bisa mengalir jauh, menyapa dunia, menggugah bangsa.

Dan sebelum menutup sambutannya, Gubernur Abdul Wahid sempat melantunkan sebuah pantun: //Jalur melaju di arus deras//Kayauh bersatu penuh tenaga//Dari Kuantan ke mata dunia yang luas//Budaya hidup, rakyat sejahtera. (RK1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bupati Afni: Progres Jalan Inpres Pinang Sebatang Barat–Muara Kelantan Sudah 15 Persen

21 Januari 2026 - 20:40 WIB

Tangis Norma Pecah di Pekanbaru, Pasutri Korban Mafia Tanah di Meranti Mencari Keadilan

20 Januari 2026 - 12:06 WIB

Selamatkan Ribuan Honorer Non ASN, Ini Langkah Terukur dari Pemkab Siak

18 Januari 2026 - 17:36 WIB

K.H. Muhammad Mursyid Hadiri Milad Muhammadiyah ke-113 di Kuok, Tekankan Pentingnya Ukhuwah dan Peran Ormas untuk Kemajuan Daerah

18 Januari 2026 - 14:30 WIB

Menampi Dedap

18 Januari 2026 - 09:43 WIB

Trending di Meranti