BANYAK yang penasaran di belakang nama Rustam dan Rusjdi ada kalimat S. Abrus. Maklum keduanya adalah birokat penting pada eranya. Rustam S. Abrus pernah menjabat Wakil Gubernur Riau sementara Rusjdi S. Abrus pernah menjadi Bupati Kuantan Singingi.
“Siapa sebenarnya S. Abrus?”
S. Abrus atau lengkapnya Sarmin Abrus gelar Engku Mudo adalah adalah orang tua dari kedua mantan birokrat tersebut. Dari pernikahannya dengan Rugo Samad, Sarmin Abrus punya delapan orang anak yakni Rustam S. Abrus, Rusni S. Abrus, Nurjauhara S. Abrus, Zahara S. Abrus, Rusjdi S. Abrus, Rusman S. Abrus, Rosmanidar S. Abrus, dan Rosmalia S. Abrus. Semua anak Sarmin Abrus diakhiri nama mereka ada singkatan S. Abrus.
Sarmin Abrus adalah tokoh Muhammadiyah yang gigih dan berani dalam memperjuangkan amar ma’ruf nahi munkar, Dia punya hubungan emosional yang kuat dengan sejumlah ulama tokoh Muhammadiyah di Sumatra Barat seperti Abdul Rasyid Sutan Mansur, HAMKA, dan lainnya.
Sarmin Abrus politisi dari Partai Majelis Syoro Muslim Indonesia Indonesia yang disingkat Masyumi. Masyumi adalah partai politik Islam yang pernah ada selama era Demokrasi Liberal di Indonesia. Partai ini dibubarkan Presiden Sukarno pada tahun 1960 karena keterlibatan tokoh-tokohnya dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).
Sarmin Abrus dilantik sebagai Ketua Ranting Partai Masyumi Kuantan Hilir oleh HAMKA pada 1947. Di partai ini banyak tokoh pergerakan organisasi Muhammadiyah yang bergabung. Sebut saja Ibad Amin, Sulaiman Khatib, Ramli Khatib, Ya’cub Datuk Penghulu Malin, Samsuddin, dan lainnya.
KETIKA terjadi pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada 1957 sebagai orang Masyumi, Sarmin Abrus bergabung dengan PRRI. Dia ikut berontak dan berjuang melawan tentara Pusat melalui perang gerilya dalam hutan di Kecamatan Kuantan Mudik. Dia temasuk tokoh pergerakan yang berani melawan kesewenang-wenangan Pusat.
Anak keenam Sarmin Abrus, Rusman S Abrus diblog pribadinya: https://abrus. wordpress. com/2008/10/22/bang-soetom alias-rustam-s-abrus/ menulis:
Belum setahun menghuni almamater PTPG di Bukit Tinggi, di Sumatra Tengah pecah pemberontakan PRRI. Pemberontakan ini terjadi setelah Belanda mengakui kedaulatan NKRI pada tahun 1957. Perang saudara ini mengakibatkan Bang Soetom memilih pulang kampung tidak gabung bersama tentara pelajar PRRI.
Keputusan ini diambil karena kondisi beda dengan ayah kami (Engku Mudo Sarmin Abrus). Ayah sebagai orang Masyumi harus ikut PRRI. Sedangkan Bang Soetom sebagai mahasiswa tidak harus. Analisa beliau berdua: “Si ayah keluar ikut PRRI dan Bang Soetom tetap di dalam dan berusaha jadi orang agar kelak mampu membela adik-adiknya.”
Waktu itu usia saya sudah enam tahun (dua tahun di TK) dan suka nguping menyimak bualan orang tua. Seperti bualan Bang Soetom dengan mondek (ibu kami). Bang Soetom menceritakan rapat kilat dua beranak sebelum pisah dengan ayah di Lubuk Jambi, sebelum meneruskan ikut mengungsi masuk hutan ke daerah Sijunjung.
Setahun setelah mengabdi sebagai guru SMA ikatan dinas di Telukkuantan, Bang Soetom minta izin kepada mondek, tino (nenek) dan janten (kakek) untuk meneruskan sekolahnya ke tanah Jawa. Jalan ini ditempuh, khawatir kalau tetap di Kuantan akan diambil tentara Pusat (waktu itu Danyon Diponegoro TNI AD sudah masuk di Padang). Dengan harap-harap cemas, Bang Soetom dilepas juga dengan dibekali sebuah paoen (leontin emas berpeniti milik Tino).
Sekitar tahun 1957 Bang Soetom berangkat ke Jakarta. Merasa tidak aman kemudian memilih terus ke Malang dan diterima kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga filial Malang (cikal bakal Universitas Brawijaya).
SARMIN Abrus punya punya hubungan khusus dengan HAMKA. Saking dekatnya, HAMKA memberi nama anak ketiga pasangan Sarmin Abrus dengan istrinya Rugo Samad bernama Rusjdi.
“Tahu temannya (Sarmin Abrus) belum punya nama anak yang baru lahirkan pada 29 November 1947, dia (Buya HAMKA) memberi nama Rusjdi. Sedangkan nama S. Abrus di belakang nama Bang Rusjdi adalah nama Bapak (Sarmin Abrus) yang disingkat S. Abrus,” ujar anak keenam Sarmin Abrus, Rusman S. Abrus.
Nama anak kelima Sarmin Abrus itu sama dengan nama anak pertama HAMKA dari istri pertamanya Siti Raham (1929-1972) yakni Rusjdi. Lengkapnya Rusjdi HAMKA yang lahir pada 7 September 1935. Kelak kemudian hari kedua Rusjdi ini menjadi orang hebat di bidangnya masing-masing.
Rusjdi Hamka, (7 September 1935 – 18 September 2014) adalah seorang dai, jurnalis, sastrawan, dan politisi berkebangsaan Indonesia. Dia pernah memimpin Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di DKI Jakarta sekaligus menjadi legislator di DPRD DKI Jakarta bersama dengan adiknya, Afif HAMKA. Di DPRD DKI Jakarta, Rusjdi menjabat wakil ketua bersama dua lainnya dari Fraksi Karya Pembangunan, yakni Sugeng Suprijatna dan Ade Surapriatna.
Pada Pemilu 1999, Rusjdi HAMKA mencalonkan diri sebagai calon legislatif dari PPP untuk daerah pemilihan DKI Jakarta. Dia berhasil menduduki kursi parlemen. Ini menjadikan kiprah terakhirnya di dunia politik. Sebelumnya, ia pernah menduduki kursi MPR masa bakti 1992–1997. Selain berkarier di politik, Rusjdi juga merupakan tokoh Muhammadiyah mengikuti jejak ayahnya, HAMKA.
Sementara Rusjdi S. Abrus adalah birokrat. Dia pernah menjabat sebagai Kabag Humas di Kantor Gubernur Riau, Kepala Dispenda Kota Pekanbaru, Kepala Dinas Parwisata Provinsi Riau. Terakhir Bupati Kuantan Singingi yang dijabatnya hanya sembilan hari (1-9 Juni 2001.
SARMIN Abrus pernah bekerja sebagai Juru Penerangan di Kantor Camat Kuantan Hilir. Orang tua dari “S. Abrus bersaudara” memang telah tiada, tapi masih meninggalkan sekeping cerita dari dr. H. Taswin Ya’cub. S.PS. Ini penggalan ceritanya:
“Abang memang tak pernah ketemu Pak Sarmin Abrus itu. Abang hanya dapat carita ada orang Baserah dan tokoh Muhammadiyah. Banyak anak-anak dari Baserah yang sekolah di SMP Muhammadiyah Sentajo. Ketika Ibu Abang (Siti Nurbaya) di Jakarta, pernah datang beberapa orang Baserah di Jakarta bertemu dengan Ibu abang dan mengatakan bahwa dia tamat SMP Muhammadiyah Sentajo.”
SMP Muhammadiyah adalah SMP pertama yang dirikan oleh organisasi Muhammadiyah di Kuantan Singingi. SMP ini berdiri pada 1949 dan tutup 1952. Pendirinya adalah Yahikam Datuk Penghulu Malin, Ongku Lomah Mudahi, Syamsuddin, Ya’cub dan lainnya. Di sekolah inilah anak Sarmin Abrus, Rustam S. Abrus melanjutkan pendidikan SMP nya sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah di Bukit Tinggi.
SARMIN Abrus memang telah tiada. Tapi perjuangan untuk bangsa ini tak bisa dipandang sebelah mata. Dia adalah pejuang, ulama, politisi, dan juru penerangan pada masanya.
Dia memang tidak meninggalkan harta yang melimpah, tapi ilmu yang bermanfaat untuk generasi penerusnya. Dua anaknya: Rustam dan Rusjdi telah mengukir prestasi yang mengukir perjalanan Riau, termasuk Kuantan Singingi.
Penulis Sahabat Jang Itam 21082025












