Menu

Mode Gelap
TJA Minta Maxim Stop Rekrutmen Driver Baru, Tunduk Terhadap Pergub Tarif Atas Bawah MTI Kepri: DPRD dan Dishub Sebaiknya Beri Pemahaman, Bukan Harapan Palsu kepada Driver Online Prakiraan Cuaca Kepri Rabu, 11 Februari 2026: Hujan Ringan Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah Telan Anggaran Rp233,48 Juta, DPRD Meranti Tinjau Pembangunan Duiker Simpang Puskemas Zona Integritas Diresmikan, Imigrasi Selatpanjang Bidik WBK dan WBBM Kades Batu Berapit Apresiasi Wartawan Anambas, Berkah Terima Bantuan Sembako HPN 2026

Ragam

Mastian (1951-2023): “Maestro” Biola dari Kuantan Singingi

badge-check


					Mastian Perbesar

Mastian

JIKA Idris Sardi disebut “maestro” biola Indonesia, Mastian layak disebut “maestro” biola dari Kuantan Singingi. Kelas mereka mereka berbeda, tapi mereka sangat ahli dalam menggesek biola. Predikat “maestro” biola layak disandingkan kepada mereka.

Mastian lahir di Desa Muaro Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya Kuantan Singingi, Riau pada 1951. Belum ada pemain biola hingga kini yang bisa menyaingi gesekan biola mautnya di Kuantan Singingi. Padahal sejatinya Mastian belajar menggesek biola secara otodidak kepada abang kandungnya Lukman.

Namun seiring perjalanan waktu kepandaian Mastian dalam menggesek biola melebihi abangnya itu. Sang abang pun menyerahkan sepenuhnya kepada sang adik jika ada permainan randai.

Namanya makin dikenang ketika Mastian bergabung dengan Grub Randai Gelora Muda Desa Muaro Sentajo era 1970 sampai 1980-an. Bersama grub randai ini mereka sering diundang memeriahkan pentas seni yang digelar sejak Kuantan Singingi masih bergabung dengan Kabupaten Indragiri Hulu.

Kepiawaiannya bermain biola membuatnya banyak diundang mengiringi musik randai. Dia juga sering tampil bersama sang maestro randai dari Kuantan Singingi komedian kondang grub Semekot: Fakhri dan Udin di berbagai tempat pada era tahun 1980-1990-an.

Memainkan biola bagi Mastian bukanlah sekedar menggesek dan menggesek. Tapi lebih dari itu, dia juga menggunakan dinamika, intonasi, dan penghayatan yang tepat, jelas, dan mendalam. Inilah yang menentukan betapa indah alunan biola yang mainkan Mastian dibandingkan dengan pemain biola lainnya.

“Mastian adalah suhu kami. Dia banyak mengajari telenta-telenta muda di Kuantan Singingi main biola, “ ujar Mister Lubis – salah seorang muridnya yang kini menjadi pemain biola andalan Kuantan Singingi.

Sepanjang hidupnya kata Mister Lubis, Mastian terus menginspirasi bagi para musisi muda. Hingga usia yang tidak lagi muda, ia terus bermain biola. Bahkan, ia kerap berbagi ilmu dengan para juniornya, seperti dirinya dan musisi-musisi lainnya.

Saat ini kata Muster Lubis talenta-talenta muda pemain biola di Kuantan Singingi masih berkiprah. Ada M. Yakub alias Mogek dari Siberakun, Wiro (Inuman), Riadi (Simandolak), Siman (Geringging Jaya), Efriadi (Seberang Taluk). Inut (Teratak Air Hitam), Sugianto (Pulau Baru Baserah).

Kemudian dari Pulau Kopung Sentajo ada Yumasri, Irop, dan Yogi. Dari Pulau Komang Sentajo ada Ajasman alias Ajai Pentin, Mister Lubis, dan Wariman. Kemudian ada Indra dari Kopah), Juhar (Gunung Toar), Silat (Koto Sentajo), Dasiman (Kopah), Lajisman (Banjar Benai), Sawir (Rawang Binjai), Hendra alias Ucok (Gunung Toar), dan lainnya.

“Patah tumbuh hilang berganti. Esa hilang dua terbilang. Tak Kuantan Singingi hilang di bumi,” ujar seniman serba bisa dari Kenegerian Kopah, Suparmi.

Menurut Suparmi talenta-talenta muda pengganti Mastian terus bermunculan. “Kami siap melanjutkan perjuangan Bang Mastian dalam memajukan kesenian di Kyabtan Singingi,” ujar Suparmi yang kini mencoba peruntungan baru sebagai conten creatort.

RANDAI Gelora Muda Muaro Sentajo tempat Mastian bergabung berjaya era 1970-1980-an. Randai yang dipimpin Zainal dan Ajasman atau Ajai bin Jaid ikut meramaikan pentas seni di Kabupaten Indragiri Hulu waktu itu. Pemain intinya selain Mastian ada Suman, Uwan, dan Simi sebagai bujang gadi.

Sementara tukang peluit adalah Salamu, Salim, dan Mastian Jasat. Sedangkan penyanyi dan tukang gendang adalah Sulan, Salamu, dan Salim. Pemain lainnya adalah Ipan, Salim, Ajai Ali Usup, Saruwi, Usu, Sumi, Paran, Makmur, Munsir, Mastian Jasat, Iyat Daro, Punjin, Sulan, Ilim Kancial, Ilim Peyau, Sitam Bacok, Sitam Talen, Sitam TA, Sitam Nyariang, Suhar, Jukat, dan lainnya.

Lagu randai yang trend waktu itu di antaranya adalah: Bintang Timur, Kunang-kunang, Moni-moni, Tolak Jatuah Corai Tak Jadi, Embun Pagi, Bujang Rando, Gadi Rando, Jambu Merah, Kain Batik Pekalongan, Mainang Pulau Kampai, Apo Salah Den Pak Wali, dan lain-lain.

Anak randai berpakaian seragam rapi. Baju putih celana hitam. Waktu itu lagi trend celana lee merek Amco dari Amerika. Amco sering diplesetkan Anak Muaro Elok Kolau. Di saku celana ada “tualo” sejenis lap untuk membersihkan keringat. Untuk pengamanan jadi tugas Herman, Iyai Tenjeng, dan Suwiar.

Bersamaan dengan randai biasanya diputar “buayan koliang” yang sengaja di datangkan dari Telukkuantan. Di Sentajo, tukang putar tetap buayan koliang adalah Emi Jakual dan Seer. Sedangkan Nuar Belek merupakan tukang putar cadangan.

MASTIAN terlahir sebagai anak ketiga dari lima bersaudara pasangan Ali Jai dan Simaurai di desa Muaro Sentajo pada 1951. Saudara yang lain adalah Lukman, Josna, Taswin dan Yulisman. Dari lima bersaudara itu hanya Mastian dan abangnya Lukman yang menguasai permainan biola.

Menikah dengan Surya anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Abdullah alias Dullah Punju dan Kidah. Pasangan ini punya anak Yuslidar, Asman, Ramadan, dan Masriadi.

Tepat pada 1 Juni 2023, musisi legendaris nan karismatik itu menghembuskan napas terakhirnya di RSUD Telukkuantan. Dia di kebumikan di kampung halamannya di Dusun Tanah Genting, Desa Muaro Sentajo.

Meski telah tiada, Mastian terus dikenang oleh masyarakat Kuantan Singingi, khususnya di kalangan musisi randai. Berkat permainan biolanya, ia menjadi sosok yang begitu menginspirasi bagi pelaku kesenian di Kuantan Singingi.

Naskah: Sahabat Jang Itam 27082025

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pendulang Tradisional Terjaring, Polisi Bongkar Dapur Emas Ilegal di Kuansing

3 Februari 2026 - 11:19 WIB

Jadwal Nisfu Syaban 2026 dan Amalan yang Dianjurkan

1 Februari 2026 - 06:35 WIB

Relokasi Eks Penghuni TNTN di Cerenti Dinilai Lemah Secara Hukum

31 Januari 2026 - 08:16 WIB

Sekolah Rakyat ke-4 Dibangun di Kuansing, Pemprov Riau Perluas Akses Pendidikan Gratis

22 Januari 2026 - 13:43 WIB

BRK Syariah Perkuat Peran sebagai Mitra Strategis Daerah, Buka Peluang Pembiayaan Pembangunan Kuansing

9 Januari 2026 - 17:01 WIB

Trending di Bisnis