RiauKepri.com, SIAK- Petang itu, Kamis (28/8/2025), jalanan utama Kota Perawang, Kecamatan Tualang, Siak, tampak tak seperti biasa. Papan-papan bunga memanjang di bibir jalan. Semuanya mengucapkan hal serupa, Selamat Ulang Tahun ke-56 untuk Ikatan Pemuda Karya (IPK). Hal ini sebagai simbol penghormatan dan pengakuan bahwa IPK adalah organisasi yang diperhitungkan di Riau.
Di dalam Taman Motoyoko, tempat berlangsungnya puncak acara, suasana lebih meriah lagi. Ribuan orang berseragam loreng biru muda, hitam, dan coklat, berkumpul dalam satu barisan besar. Tapi yang mengejutkan, organisasi yang lahir di Medan ini merayakan harlah mereka dengan nuansa khas Melayu, dimulai dari pembacaan ayat suci Al-Qur’an, tari makan sirih, doa menurut kepercayaan Islam, hingga petuah adat dari tokoh adat tertinggi di Riau.
“Ini bukan soal seremoni. Ini bentuk penghormatan,” kata Kasten Harianja, Ketua DPD IPK Riau, di sela acara.
Ia menyadari betul, IPK memang lahir dari keresahan seorang pemuda Batak, Olo Panggabean, pada 1969, di Medan, Sumatera Utara. Tapi organisasi ini tumbuh dan berakar di banyak tempat. Di Riau, IPK bukan lagi tamu. Mereka menjadi bagian dari rumah.
Dari Kekaryaan ke Kebudayaan
Dalam pidato panjangnya, Kasten Harianja menyebutkan IPK bukanlah organisasi peminta-minta. “Kami adalah organisasi karya. Kami hidup dari kreativitas dan semangat kekaryaan,” ujarnya.
IPK, sambung Kasten Harianja, bukan mesin politik, tapi wadah untuk anak muda menyalurkan potensi mereka ke arah yang produktif.
Pernyataan itu tidak keluar dari ruang hampa. IPK Riau dalam beberapa tahun terakhir memang tampak aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Dalam ulang tahun kali ini, panitia yang dikomandoi Unggal Gultom bekerja sama dengan pelaku UMKM lokal, menanam 1.000 pohon, memberikan santunan kepada 50 anak yatim, dan membagikan sembako kepada warga sekitar. “Ini bentuk terima kasih kami kepada Riau,” kata Unggal.
Kolaborasi ini memperlihatkan sisi lain IPK, organisasi kekaryaan yang menyentuh langsung masyarakat, tanpa banyak gembar-gembor.
Antara Kampung dan Tanah Lahir
Dalam banyak bagian pidatonya, Kasten Harianja menekankan hubungan emosional IPK Riau dengan tanah Melayu. Meski mayoritas anggotanya berasal dari Sumatera Utara, mereka menganggap Riau sebagai kampung halaman. “Sumatera Utara adalah tanah kelahiran kami. Tapi Riau adalah tempat kami hidup, bekerja, membesarkan anak-anak kami. Ini kampung kami,” ujarnya.
Dalam tradisi Melayu, tanah yang diinjak harus dijunjung tinggi. “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” ungkap Kasten Harianja dengan nada yang nyaris seperti pembacaan syair.
Sebagai bentuk dari menjunjung langit itulah, IPK Riau menyatakan dukungannya pada gagasan pembentukan Daerah Istimewa Riau (DIR) yang dimotori Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR).
Dukungan itu mengejutkan Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian LAMR sekaligus penggagas utama DIR. “Saya tidak diberitahu sebelumnya. Tapi ini luar biasa,” katanya. Ia menyebutkan dukungan IPK sebagai sinyal kuat bahwa gagasan DIR telah menjangkau spektrum yang lebih luas, bukan hanya elit adat, tapi juga pemuda dari berbagai latar belakang.
Harapan di Pundak Pemuda
Puncak acara ditutup dengan petuah adat dari Datuk Seri Taufik. Dalam gaya tutur yang tenang namun dalam, ia mengutip pepatah Melayu: “Mengambil tuah kepada yang muda, mengambil takah kepada yang tua.”
Menurutnya, tunjuk ajar Melayu wajib disampaikan kepada yang muda, kepada organisasi-organisasi seperti IPK. Karena dari merekalah masa depan dibentuk, bukan sekadar diwariskan.
“Raja Kecik mendirikan Kerajaan Siak dalam usia 22 tahun dan berhasil menguasai jalur perdagangan di Selat Melaka,” ucap Datuk Seri Taufik.
Pemerintah Provinsi Riau pun menaruh harapan. Penjabat Sekretaris Daerah Riau, M. Job Kurniawan, menyebut IPK sebagai bagian penting dari pembangunan daerah. Ia mengutip Bung Karno: beri aku 10 pemuda, akan kuguncangkan dunia. “Apalagi ini ribuan, pemuda seperti sekarang ini,” ucapnya sambil tertawa kecil.
Tuan Rumah di Tanah Orang
Saat matahari mulai condong ke barat dan keramaian perlahan surut, semangat itu tetap menyala di Taman Motoyoko. Peringatan HUT ke-56 ini tak hanya menandai usia organisasi, tapi juga transformasi identitas. IPK tak lagi sekadar organisasi pemuda asal Sumatera Utara. Di Riau, mereka menjelma menjadi rumah bagi beragam pemuda, tanpa kehilangan akar sejarahnya.
Mereka hadir bukan sebagai tamu, melainkan sebagai tuan rumah di tanah orang dengan cara yang santun, membumi, dan membaur. (RK1)







