Menu

Mode Gelap
Tegas! Kalapas Selatpanjang Gaungkan Zero Narkoba dan HP di Hadapan Warga Binaan Isu Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Mencuat, Bidik Peserta Menengah Atas PT JFC Stone di Kabil Diduga Ingkari Kewajiban terhadap Pekerja Peringati Hari Kartini, Ruang Asa Project Hadirkan Ruang Kreasi Inklusif bagi Anak-anak Istimewa di Pekanbaru Utusan Presiden Ingatkan Dokter Spesialis Siak: TPP Hanya Tambahan Penghasilan Sidak Urine Mendadak di Lingkungan Kecamatan Bengkalis Dua Orang Positif Amfetamin

Ragam

Romansa Uni Tjurai  (3) : Baru Setahun Mengajar, Belanda Kembali Melancarkan Agresi II

badge-check


					Uni Tjurai bersama anak dan cucu tercintanya. Perbesar

Uni Tjurai bersama anak dan cucu tercintanya.

TJURAI hanya menjalani masa-masa indah mengajar setahun lebih. Kebahagian Tjurai Tertunda. Belanda tiba-tiba kembali melakukan “Operation Product” atau Agresi Militer Belanda II pada 17 Desember 1948.

Belanda kembali melancarkan serangan keduanya terhadap Indonesia. Itulah keserakahan Belanda. Perjanjian Renville antara Indonesia dengan Belanda  yang sudah disepakati di atas geladak kapal perang Amerika Serikat “USS RenvilLe” pada 8 Desember 1947 s.d 17 Januari 1948 di Teluk Jakarta mereka ingkari.

Agresi Belanda II diawali penerjunan pasukan payung di Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta. Setelah itu Belanda menduduki Yogyakarta yang menjadi ibu kota RI. Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta,  dan sejumlah menteri yang memutuskan tetap tinggal di Yogyakarta ditawan Belanda.

Hanya Panglima Besar Jendral Soedirman yang menolak tinggal di ibu kota. Dalam keadaan sakit jantung sang jendral itu  bergabung dengan tentara melakukan gerakan bawah tanah dan perang gerilya terhadap Belanda.

Sebelum pihak Belanda sampai di Istana Yogyakarta, Soekarno telah mengirim radiogram kepada Menteri Keuangan  Mr. Syafruddin Prawiranegara. Isinya perintah membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi.  Syafruddin Prawiranegara bergerak cepat. Tepat pada 22 Desember 1948 PDRI terbentuk.

Syafruddin  memimpin pasukan TNI bergerilya selama tujuh bulan di Sumatera. Inilah memungkinkan adanya keberlangsungan pemerintahan di tengah perang kemerdekaan sehingga memaksa Belanda kembali bernegosiasi.  Pasukan TNI berhasil melakukan konsolidasi dan melakukan pukulan-pukulan secara teratur terhadap tentara Belanda.

Di berbagai daerah perlawanan berlanjut. Serangan umum yang dilaksanakan terhadap kota-kota yang diduduki Belanda mulai dilaksanakan pasukan TNI. Yang terkenal adalah Serangan Umum 1 Maret 1949 terhadap kota Yogyakarta yang dipimpin oleh Letkol Suharto.

 

Murid Diliburkan

TAK ingin korban berjatuhan, Kepala SR Sentajo, Biran mengambil langkah bijak. Sekolah diliburkan, murid di rumahkan.  Sementara sebagian guru ada yang ikut berjuang sebagai Palang Merah Indonesia. Ada juga yang menyiapkan dapur umum.

Mereka ikut membantu pejuang yang bertempur di medan laga.  Pejuang kemerdekaan dari Sentajo seperti Sahamin Basoka, Mumammad Amin, Maumin, M. Syarif, M. Ahmad (Omat Boruak), Mukmin, Ali Jai, Abdullah alias Dulah Panjang, Abdullah alias Dullah Pantai, Dasumin, Syarif, M. Yatim, Nasir, Onsa, Sahamin, Yacuf, Yakut, dan lainnya melakukan konsolidasi dengan pejuang lainnya di Rantau Kuantan.

Termasuk pejuang dari kepolisian asal Sentajo seperti Aham, Nasir, M. Kalam, Ali Suleman, Muhammad Syafei, Muin, tidak mau ketinggalan. Mereka bergabung dengan pejuang dari Rantau Kuantan: Hasan Arifin, Ma’rifat Mardjani, Intan Djuddin, Jamal Lako Sutan, Ibad Amin, Moehammad Noer Raoef, Radja Rusli, Saidina Ali, Samad Thaha, Sarmin Abroes, Syafi’i Yatimi, Thoha Hanafi, Umar Usman, Umar Amir Husin, dan lainnya.

Tjurai sebenarnya ingin bergabung dengan sahabat-sahabatnya ini. Tapi apa hendak di kata. Ketika Agresi Militer Belanda II itu pecah, dia baru saja melahirkan anak keduanya: Fulzi.  Dengan berat hati Tjurai hanya berdiam diri di rumah dengan perasaan was-was karena khawatir Belanda melakukan serangan tiba-tiba.

Anak didik Tjurai di SR Sentajo seperti Abbas Sihud, Baizar Sain, Fatimah, Musaruddin (Mogek), Amir Syarwi, Anwar Boy (Nuar Belek), Yusni Abdullah, Rohani Sihut, Josniwar, Nurhayati, Rosda, Wardana Amir Syarwi, Yusniwar, Rosdiana, dan lainnya hanya berdiam diri di rumah. Suasana betul-betul mencekam.

Pejuang Indonesia terus melakukan perlawanan bawa tanah terhadap tentara Belanda yang berupaya kembali berdatangan ke Taluk Kuantan. Di Singingi, Belanda dihadang pasukan “Harimau Logas” yang berjuang mati-matian mengusir Belanda yang berdatangan dari Pekanbaru. Pertempuran sengit terjadi di Bukit Cokiak. Tentara Belanda dipaksa mundur pasukan Harimau Logas. Dan mereka kembali datang ke Taluk Kuantan setelah mendapat bantuan tambahan tentara dari Pekanbaru.

Tjurai mendapat berita peperangan dari langsung dari suaminya Zainal Abidin yang ikut berjuang di medan tempur. Agresi Belanda II hanya berlangsung 18 hari (19 Desember 1948 s.d 5 Januari 1949). 18 hari itu betul-betul menegangkan.

 

Sepeda Ontel

SETELAH Agesi Belanda II berakhir pada 5 Januari 1959, Tjurai kembali ke sekolah. Seperti biasa dia mengajar anak-anak muridnya dengan riang dan gembira.  Sepeda ontel relight yang masuk pasaran Indonesia sejak 1939 tetap setia menemaninya pergi mengajar.

Sepeda tua pemberian orang tuanya M. Dien adalah sahabat setianya dalam mencerdaskan anak bangsa. Murid-muridnya ingat betul bila sepeda ontel buatan Inggris itu sampai di halaman sekolah.  Bila lonceng sepeda ontel sudah berdering: kring… kring…  kring…berarti Uni Tjurai telah datang

Mereka akan menyambut dengan perasaan riang dan gembira. Tak sungkan-sungkan mereka menawarkan diri membawa sepeda ontel  itu ke tempat parkiran. Ada kerinduan di hati mereka setelah sekolah diliburkan selama Agresi Belanda II itu.  Kerinduan yang sulit diucapkan dengan kata-kata.

Bagi murid-muridnya, Tjurai tak hanya sekedar guru. Tjurai juga mereka anggap orang tua dan tempat curhat. Ucapan dan nasehat sosok ibu guru yang sederhana, teduh, bersahaja, dan ramah selalu mereka nanti.

“Ayo masuk…. kita kembali belajar seperti biasa!” ajak Tjurai kepada murid-murid yang selalu setia menunggu kedatangannya. Tak lupa mereka saling berkabar dan bersalaman.

Rekan Tjurai,  Kepala SR 1 Sentajo Biran dan guru lainnya seperti M. Sahe, Hamid Yus, Syamsuddin, Sahamuddin, M. Kasi Ripin, dan lainnya juga tampak antusias. Mereka juga ikut menyambut kedatangan murid-muridnya untuk “merendah” masa depan dengan penuh harapan.

 

Tjurai Dimata Muridnya

MURID-muridnya mengenang Tjurai  sebagai guru yang bersahaja ini. Salah seorang murid Uni Tjurai, Taswin Yacub asal Kampung Baru Sentajo mengisahkan sosok gurunya itu. Ini kutipannya:

“Uni Tjurai adalah sosok guru yang disiplin. Kalau lonceng masuk kelas sudah berbunyi, Uni sudah duduk di kursinya. Dan, semua murid masuk kalas dengan tertib. Tak ada lagi yang berani bersenda gurau.

Bila ada murid yang ribut Uni tak segan-segan memplototinya sampai suasana tenang kembali. Jika keributan masih berlanjut siap-siaplah kena hukuman displin. Yakni berdiri di depan kelas dengan satu kaki, sementara yang lain tetap belajar. Hukumannya memang tidak seberapa tapi malunya itu masih terasa hingga kini.

Taswin yang masuk SR Sentajo pada 1959 mengakui dirinya tidak pernah kena hukuman dari gurunya itu.  Maklum dia adalah anak yang cerdas dan disayangi guru-gurunya. Selalu juara dan menjadi “bintang” di kelasnya.

Dan menurut Taswin Yacub, Uni Tjurai adalah guru yang kreatif dalam mengajar. Biasanya sepuluh menit menjelang pulang sekolah, Uni Tjurai memberi soalan rebutan secara spontan. Siapa yang bisa menjawab bisa pulang duluan.

”Kami bersiap siap berebut menjawab soalan itu. Bila jawaban betul bisa pulang duluan. Bagi yang tak bisa, pulangnya belakangan,” kenangnya.

Taswin ingat Uni Tjurai mengajarnya waktu duduk di bangku kelas 3 SR untuk semua mata pelajaran. Saat itu guru mengajar selama satu tahun. Baru tahun berikutnya diganti lagi untuk masing-masing kelas.

“Tidak ada guru untuk mata pelajaran tertentu seperti masa sekarang. Terkadang seorang guru selama bertahun-tahun tetap saja sebagai guru kelas 1 atau kelas 3 dan seterusnya,” tambahnya.

Taswin berpisah dengan Uni Tjurai ketika lulus SR Sentajo pada 1965. Kemudian dia melanjutkan pendidikan ke SMP IV Koto Benai yang kini bernama SMP 1 Benai yang diselesaikannya pada 1968. Kemudian Taswin melanjutkan ke SMA Negeri 1 Pekanbaru (1968-1971).

Setelah itu Taswin masuk Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat. Sedangkan pendidikan profesi (spesialis syaraf) diselesaikannya di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Semarang, Jawa Tengah. Kini Taswin sudah pensiun.

 

Pindah Sekolah

DARI SD 1 Sentajo di Kampung Baru, Tjurai pindah ke SD 2 Sentajo di Desa Pulau Komang. Dia bergabung dengan M. Sahe selaku kepala sekolah dan guru-guru lainnya.  Yakni Musahid, Hamid Yus, Saam, M. Amin, Djusan, Nursawi, Djalinus MS, Ongku Kali Mahmud,  Rosmalia dan Syafi’i sebagai penjaga sekolah.

Di SD 02 Sentajo, Tjurai termasuk guru yang senior yang menjadi langganan wali kelas di kelas satu, dua atau tiga. Sementara untuk guru-guru yang muda menjadi wali kelas yang lebih tinggi.  “Waktu kelas enam, wali kelas kami adalah Pak Djalinus MS,” kenang Helfian Hamid, alumnus SD 02 Sentajo.

Helfian Hamid menempuh pendidikan di SD 2 Sentajo kurun waktu 1965 – 1971. Di tempat itu pula orang tuanya Hamid Yus mengajar sebelum pindah jadi Kepala SD 5 Sawah dan Kepala SD 1 Koto Telukkuantan hingga pensiun 1987.

Tjurai kata Helfian Hamid adalah guru senior dan guru perempuan pertama asal Kenegerian Sentajo. Setelah itu baru menyusul guru-guru perempuan lainnya yang juga anak didiknya sendiri. Sebut saja Fatimah, Josniwar, dan Nuraini dari Kampung Baru, Yusniwar dari Koto, Rosmalia dan Fauziah dari Pulau Komang. Termasuk Rosmawati dari Muaro.

“Di sekolah saya memanggilnya Ibu Tjurai. Tapi di tengah masyarakat kami memanggilnya Dek Tuo Tjurai. Ibu Tjurai seangkatan dengan orang tua saya Hamid Yus. Mereka sama-sama mulai mengajar sebelum Indonesia merdeka,” ujar  Helfian Hamid.

1982 Tjurai pensiun setelah 37 tahun mengajar. Lalu bagaimana aktifitasnya dihari tua setelah pensiun? (bersambung).

 

Penulis naskah: Sahabat Jang Itam  (29082025)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

LAMR Minta Menteri Kehutanan Batalkan Rencana Relokasi Warga TNTN di Tanah Adat Cerenti

10 Maret 2026 - 19:21 WIB

Pendulang Tradisional Terjaring, Polisi Bongkar Dapur Emas Ilegal di Kuansing

3 Februari 2026 - 11:19 WIB

Jadwal Nisfu Syaban 2026 dan Amalan yang Dianjurkan

1 Februari 2026 - 06:35 WIB

Relokasi Eks Penghuni TNTN di Cerenti Dinilai Lemah Secara Hukum

31 Januari 2026 - 08:16 WIB

Sekolah Rakyat ke-4 Dibangun di Kuansing, Pemprov Riau Perluas Akses Pendidikan Gratis

22 Januari 2026 - 13:43 WIB

Trending di Kuansing