RiauKepri.com, SIAK- Di tengah riuhnya aksi demonstrasi yang digelar mahasiswa dan masyarakat, khususnya di Provinsi Riau pada siang ini, Senin (1/9/2025), suara menenangkan datang dari Bupati Siak, Afni Zulkifli. Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin daerah sekaligus akademisi, Afni menyampaikan pandangan yang elegan dan penuh kedalaman tentang esensi demonstrasi dalam demokrasi.
Afni tidak menolak aksi turun ke jalan. Ia paham bahwa demonstrasi adalah bagian sah dari ekspresi publik dalam negara demokratis. Bahkan, ia menyatakan dukungannya terhadap keberanian mahasiswa bersuara, asal dilakukan dengan pemahaman dan tujuan yang benar. Demokrasi, kata mantan wartawan itu, perlu oposisi. Butuh suara berbeda. Sebab jika semua tunduk dan berkata “ya”, maka demokrasi perlahan akan mati suri.
Afni menekankan demonstrasi pada sikap
substansi dan solusi. Sebab, oposisi bukan sekadar berteriak. Aksi bukan sekadar ramai di jalanan. Harus ada pemahaman menyeluruh tentang isu yang diperjuangkan dan tawaran jalan keluar yang membangun. Baginya, kritik yang bernas bukan hanya menolak, tapi juga menawarkan alternatif.
Afni juga memberi garis tegas bahwa aksi jalanan adalah jalan terakhir, bukan pilihan pertama. Ketika ruang dialog tertutup, ketika jalur komunikasi benar-benar buntu, barulah aksi layak digelar. Ia mengajak mahasiswa berpikir kritis, tetapi juga bijak dalam mengambil langkah.
Sebagai dosen Ilmu Administrasi Negara, Afni punya pengalaman membimbing mahasiswa yang aktif dalam dunia pergerakan. Ia bahkan menyatakan siap memberi nilai baik jika perjuangan mahasiswanya dilakukan dengan integritas dan elegansi. Tapi ia juga memberi peringatan, jangan anarkis. Jangan rusak fasilitas rakyat. Karena yang membangun itu adalah uang rakyat, yang rugi kalau rusak juga rakyat.
Sikap ini mencerminkan keseimbangan antara keberanian dan kebijaksanaan. Ia tidak mengerdilkan suara mahasiswa, tapi juga tidak membiarkan perjuangan kehilangan arah karena emosi atau provokasi. Ia merangkul semangat perubahan, tapi menegakkan batas moral yang tegas.
Pandangan Afni ini penting. Di era ketika demonstrasi kerap distigmatisasi atau justru dieksploitasi, suara seperti ini adalah pengingat bahwa menjadi kritis itu penting, namun menjadi kritis dengan elegan dan penuh substansi jauh lebih bermakna.
Aksi bisa menjadi titik awal perubahan. Tapi apakah perubahan itu ke arah kebaikan atau kerusakan, tergantung pada bagaimana aksi itu dijalankan.
Afni menunjukkan bahwa di tengah panasnya tuntutan pedemo masih banyak ruang untuk ketenangan, kejernihan, dan keberanian yang beradab. Sebuah pelajaran penting, tidak hanya untuk mahasiswa, tapi juga untuk siapa pun yang mengaku hidup dalam semangat demokrasi. (RK1)







