TUMBUH kembang Persyarikatan Muhammadiyah di Kuantan Singingi, Riau tidak bisa dilepaskan dari sosok Radja Soelaiman. Dia tokoh penting dalam Persyarikatan Muhammadiyah setelah itu baru dilanjutkan oleh generasi berikutnya yang mendirikan Ranting Muhammadiyah di Lubuk Jambi pada 9 September 1933.
Radja Ibrahim yang menjabat bagian Keuangan Ranting Muhammadiyah Lubuk Jambi adalah adik kandung dari Radja Soelaiman. Sementara ketuanya ditunjuk Ibad Amin, Mudasin (Wakil Ketua), Sulaiman Khatib (Sekretaris), Saat Manan dan Arsad (Pembantu).
Radja Soelaiman lahir di Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik, Kuantan Singingi, Riau pada tahun 1905. Anak kedua dari empat bersaudara Radja Halifah dan Rami ini punya saudaranya kandung: Radja Naimat, Radja Ibrahim, dan Radja Rusdi.
Masa kecil Raja Soelaiman – tumbuh di tengah perubahan besar, melewati tiga zaman: Penjajahan Belanda, Pendudukan Jepang, dan Kemerdekaan Indonesia. Dia sempat menjalani pendidikan di Perguruan Thawalib Muhammadiyah Padang Panjang (1924 – 1926).
Perguruan Thawalib Muhammadiyah Padang Panjang adalah lembaga pendidikan Islam modern yang didirikan oleh Syekh Dr. H. Abdul Karim Amrullah pada 11 Mei 1911. Lembaga ini memiliki akar sejarah yang kuat dengan Muhammadiyah karena pendirinya pernah berdiskusi tentang pembaharuan pendidikan Islam dengan Kiai Ahmad Dahlan.
Lembaga ini merupakan bagian dari sejarah panjang gerakan pembaharuan Islam di Sumatra. Lembaga ini telah menjadi bagian dari sejarah kelembagaan Muhammadiyah di Padang Panjang.
Radja Soelaiman termasuk generasi pertama yang langsung berguru kepada Syekh Abdul Karim Amrullah yang juga ayah dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA). Keduanya adalah ulama reformis Islam yang berpengaruh di Indonesia, Namun mereka adalah dua orang yang berbeda.
Syekh Abdul Karim Amrullah yang akrab disapa Haji Rasul dikenal sebagai Bapak Pembaharuan Islam di Minangkabau yang juga mendirikan majalah Al-Munir. Sedangkan putranya, HAMKA adalah seorang ulama, sastrawan, politikus terkenal di Indonesia, dan juga mendirikan Majalah Panji Masyarakat.
Ketika menekuni pendidikan di Perguruan Muhammadiyah Padang Panjang, Radja Soelaiman seangkatan dengan Mahmud gelar Ongku Kali Mahmud dari Kenegerian Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya. Kelak keduanya dipercaya masyarakat sebagai Ongku Kali di daerah masing-masing.
Radja Soelaiman juga dikenal ulama yang kuat pendirian, konsisten, dan berani dalam menegakkan amar makruf (kebaikan) dan melarang nahi mungkar (kemungkaran). Karena itu dia dipercaya oleh masyarakat hingga akhir hayatnya.
Menurun ke Anak
Sikap Radja Soelaiman itu menurun dan diwarisi anak-anaknya dari pernikahan dengan Poeti Djolimah seorang ibu rumah tangga yang tak sempat mengenyam pendidikan. Pasangan ini punya sembilan orang anak. Yakni Radja Roesli, Radja Syariah, Radja Matnusin, Radja Sa’ah, Radja Syahniar, Radja Sya’diah, Radja Sarinam, Radja Murni, dan Radja Marhadi.
Salah seorang anak Radja Soelaiman yakni Radja Roesli dikenang sebagai pejuang kemerdekaan, pendidik, birokrat, ulama, dan politisi. Sang anak terkenal bukan karena berbagai jabatan karena sikapnya yang konsisten dan berani melawan tindakan semena-mena.
Radja Roesli juga dikenang karena karakter dan pribadinya yang layak diteladani. Dia berjuang bukan untuk mengejar jabatan, pangkat, ketenaran serta tanda jasa. Beliau memimpin Kota Madya Pekanbaru karena diminta oleh wakil rakyat, sebab kejujuran dan amanah, meskipun hanya untuk masa dua tahun (1968-1970).
Radja Roesli memimpin Muhammadiyah Riau (1990-1999) dan anggota DPR RI (1999-2004) bukan karena ambisi dan bukan pula karena meminta, tapi karena diminta.
Ongku Kali
SEBAGAI ulama, Radja Soelaiman bergelar Datuk Poeti Bongsu atau lebih dikenal dengan sebutan Ongku Kali di Lubuk Jambi. Jabatan itu dipegangnya selama 26 tahun (1948-1974). Ongku Kali adalah perpanjangan dari Penasehat Pernikahan Perceraian Nikah Talak Rujuk yang disingkat PPPNTR.
Sebagai Ongku Kali tugas yang melekat kepada Radja Soelaiman khusus menangani masalah keagamaan seperti kawin, cerai. Kini tugas Ongku Kali sudah ditangani oleh Kantor Urusan Agama (KUA) di masing-masing kecamatan.
Ongku Kali pada masa Pemerintahan Orde Lama punya peran penting di tengah masyarakat. Mereka ditunjuk karena kedalaman ilmunya oleh pemuka masyarakat di Kenegerian yang terdapat dalam kewedanaan atau kecamatan.
Kenangan
BAGI Radja Marhadi kenangan terindah dari Ayah (Radja Soelaiman) adalah kebiasaannya selesai salat subuh. “Selesai salat subuh Ayah pulang ke rumah lalu istirahat tidur sampai menjelang matahari terang. Kalau air surut atau kemarau Ayah biasanya mengambil jala alat penangkap ikan.”
Lalu kata Mahadi sebelum pergi menjala ikan, Ayah memarut dulu kelapa secukupnya untuk umpan ikan yang akan dijala. Parut kelapa itu lalu ditebarkan 2-3 kali di lokasi tempatnya menjala ikan. Biasanya aneka jenis ikan pantau atau ikan lumo akan berdatangan. Lalu Ayah menjalanya.
“Alhamdulillah ikan hasil menjala cukup untuk dimasak hari itu. Terkadang malahan bisa untuk dijual ke pasar.”
Kenangan lain menurut Mahadi adalah saat Ayah mengambil buah kelapa yang berdekatan dengan sungai Kuantan. Buah kelapa itu biasanya dipanjat beruk atau monyet. Ketika buah kelapa jatuh ke sungai, otomatis hanyut maka perlu dipungut memakai sampan. “Tugas saya memungut kelapa yang hanyut itu,” jelas Mahadi.
Kepada anak dan cucu-cucunya kata Mahadi, Ayah selalu berpesan: Jangan tinggalkan salat lima waktu. Pesan lain carilah kawan yang dapat mengajak kepada kebaikan dan hormati yang tua.
Ayah merupakan sosok panutan dan muslim yang taat serta menjaga keimanannya kepada Allah dan Rasul. Ayah sangat marah kepada anak maupun cucu-cucunya yang lalai melaksanakan salat. Bahkan Ayah tak segan memukul dengan rotan kalau kami lalai salat.
Ayah juga tidak pernah merasa malu menjalankan bakul infak untul kelanjutan pembangunan masjid. Biasanya tiap Minggu hari pasar di Lubuk jambi, Ayah menjalankan bakul infaf. Upah pungut diserahkan semua kepada pengurus.
Itulah Radja Soelaiman. Bersama istri, diusia 79 tahun pada 1981 Ayah menunaikan ibadah haji melalui embarkasi Jakarta. Ayah meninggal di Lubuk Jambi 12 Oktober 1999 pada usia 93. Setahun kemudian tepat pada 9 November 2000, istrinya Poeti Djolimah meninggal di Pekanbaru pada diusia 89 tahun.
Penulis: Sahabat Jang Itam 03-09-2025.








