Sore Itu
SUDAH menjadi kebiasaan setiap pulang sekolah saya menemani ayah makan siang. Jika nasi di piring ayah habis bergegas saya menyendokan nasi mengisi piring ayah. Jika air minumnya habis saya tuang kembali air ke dalam gelasnya. Begitulah seterusnya setiap hari.
Namun entah kenapa siang itu saya alpa menemani ayah makan. Saat ayah makan sendirian saya sibuk di kamar menyiapkan buku dan pakaian sekolah untuk esok harinya.
Selesai makan dari luar luar kamar ayah mengabari bahwa dia mau pergi ke rumah pasien. Samar-samar suara Ayah masih ingat. “Ida…., Ayah mau pergi dulu, ya! Ayah sudah janji mengobati pasien yang lagi sakit di rumahnya.”
Itulah suara ayah terakhir kali yang saya dengar. Suaranya serak – serak basah dan kedengaran jauh ke dalam. Itulah rupanya suara perpisahan yang membuat saya merasa berdosa karena tidak menemani ayah makan pada siang itu.
Setelah ayah pergi saya bergegas pergi latihan tari di SMA Baserah tempat saya sekolah. Sepulang latihan saya dikabari baru saja terjadi kecelakaan.
Astagfirullah…., ternyata yang jadi korban kecelakaan itu adalah ayah saya. Nyawa ayah tidak tertolong. Ayah pergi selama-lamanya meninggalkan kami anak – anaknya untuk selama-lamanya pada Rabu, 13 April 1983.
Itulah kenangan singkat Arnida Warnis saat-saat kepergian ayahnya Almunir Duamat pada 1983. Arnida Warnis adalah anak pertama dari enam bersaudara pasangan Almunir – Ramona.
Ida sapaan akrab kedua orang tuanya kini tinggal bersama suami Hz Dadang AG tinggal di Tanjungpinang bersama anak dan cucunya. Ida bersama suami tercinta kini menikmati masa pensiun sembari main dengan cucu dan menjalani hobinya sebagai konten kreator: facebook, youtube, instagram, dan tiktok.
Sebutan Munir
Munir – orang tua Ida dikenang masyarakat Kuantan Hilir dengan sebutan Pak Munier atau Mantoghi (Mantari) Munier. Ada juga yang menyebutnya “mantoghi cacar atau mantoghi suntik.”
Ia lahir di Baserah, Kuantan Hilir, Kuantan Singingi, Riau pada 30 Desember 1938 dari pasangan Duamat dan Fatimah. Dari sebelas kakak beradik Munir adalah anak kesepuluh. Saudara-saudara yang lain di antaranya adalah Jatah, Abdullah, Yawani, Warisah.
“Yang lain saya lupa, habis sudah banyak yang meninggal,” ujar Ida tersenyum.
Duamat – orang tua Munir semasa hidup digelari “Pokie” sebuah gelar yang disematkan karena kedalaman ilmu agamanya. Duamat semasa hidup pernah menuntut ilmu agama ke Sumatra Barat. Sehari-hari ia berkerja sebagai pedagang rotan dan pembuat perahu sampan.
Masa Sekolah
Munir menjalani pendidikan dasarnya di Sekolah Rakyat Kepala Pulau Basrah. Kemudian Jenjang SMP diselesaikannya di Daik – Lingga. Di negeri Bunda Tanah Melayu itu sebutan Daik, dia tinggal bersama Udo Gani yang merupakan istri dari Camat Lingga, M. Noer Raoef.
Dan, selama sekolah di Daik, Munir sempat pulang sekali pada tahun kelima untuk menjenguk kakaknya Yawani sakit yang pada akhirnya meninggal dunia. Namun dia baru betul-betul meninggalkan Daik ketika M. Noer Raoef pindah tugas sebagai wedana di Taluk Kuantan, Kecamatan Kuantan Tengah.
Dari Taluk Kuantan, Munir ikut kursus Mantri Cacar di Jakarta. Sepulang dari Jakarta, dia bekerja di Puskesmas Baserah yang di tempatkan di Puskesmas Pembantu Koto Rajo. Kemudian pindah ke Rengat.
Untuk menambah ilmu di bidang kesehatan, Munir ikut kursus SKPC di Pekanbaru. Selesai kursus, ia kembali di tempatkan di Puskesmas Baserah hingga menjelang ajal menjemput dirinya dalam usia 45 tahun.
Kisah Cinta
KISAH cinta Munir menarik untuk dikulik seperti kisah percintaan di Film India. Seru dan menegangkan. Dari Istri pertamanya Misun, dia punya seorang anak yang meninggal saat dilahirkan. Kemudian dari Lina yang dinikahinya setelah cerai dengan Misun, dia punya dua anak perempuan Alis dan Ides.
Setelah cinta besama Liana kandas di tengah jalan, Munir pindah tugas ke Rengat. Di kota Kedondong – Rengat setelah lama hidup membujang akhirnya dia berkenalan dengan seorang gadis bernama Ramona binti Tengku Sulaiman yang saat itu sedang mengikuti Pendidikan Kursus Guru Bantu 1 tahun. Mereka akhirnya menikah.
Dari pernikahan dengan Ramona, Munir punya enam orang anak. Arnida Warnis lahir di Baserah (1966), menyusul Firman Ismail (1968), Polri Yulius (1972), Santi Seprita (1976), Sri Artuti (1980), dan Mahril Munir (1982).
Dua dari lima anak Munir – Ramona mengikuti jejaknya sebagai tenaga paramedis. Yakni anak pertama (Arnida Warnis) dan anak kelima (Sri Artuti). Arnida Warnis pernah bertugas di Puskesmas Sukajadi – Pekanbaru, Puskesmas Tanjungbalai dan RSUD Karimun.
Kemudian ketika pindah ke Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Ida sempatkan di tempatkan sementara di Puskesmas Sei Jang, Tanjungpinang. Setelah itu baru ke Dinas Kesehatan, RSUD Ahmad Thabib, dan BPBD. Pensiun di BPSDM pada 2024 lalu.
Sedangkan Sri Artuti sejak 2004 s.d sekarang bertugas di RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru. Dua cucu Munir menjadi tenaga medis (dokter) yakni Adani Raemolan Ghani dan Dessyana Wulandari. Menantunya Ismarwani merupakan bidan senior di Puskesmas Baserah.
Sepeda Dayung
SEBAGAI tenaga kesehatan Munir sangat dikenal di wilayah kerjanya (Puskemas Baserah). Waktu itu masih bergabung dengan Kabupaten Indragiri Hulu wilayah kerjanya sampai ke Kecamatan Cerenti dan Peranap.
Sekarang ketika sudah bergabung dengan Kuantan Singingi, ada tiga kecamatan baru hasil pemekaran Kecamatan Kuantan Hilir. Yakni Pangian, Logas Tanah Darat, dan Kuantan Hilir Seberang.
Untuk berpergian ke wilayah kerjanya yang luas Munir terbiasa menaiki sepeda dayung yang ada batang di bagian tengah sepeda. Orang Kuantan Singingi menyebut sepeda jenis “kereta jantan.”
Munir punya jadwal berkeliling dari ke kampung dengan naik sepeda tuanya itu. Biasanya ia ditemani salah satu dari abangnya Abdullah. Sesuai jadwal pula masyarakat yang ingin berobat sudah berkumpul di satu titik kumpul. Pada hari sekolah biasanya banyak anak anak yang sunat rasul.
Sering berkeliling kampung itu menjadikan Munir banyak saudara. Hampir di setiap daerah dia punya saudara. Istilah orang Kuantan Singingi Bagito.
Sebagai tenaga kesehatan, Munir dikenal di wilayah kerjanya dan di sayang atasannya tempatnya bekerja. Ia disayangi karena rajin, supel dalam bergaul, punya sifat sosial tinggi, dan selalu menolong banyak orang yang membutuhkan.
Dan, kebaikan Munir dikenang sampai sekarang dan tidak asing lagi di telinga anak-anaknya. Terlampau banyak kalau diceritakan.
Kadang si pasien hanya punya pisang, sayur atau apa saja hasil kebun bertani. Yang mereka punya itulah yang diberikan kepada Munir sebagai pengganti jasa berobat yang mereka terima.
Munir dalam Kenangan
RUDI Hartono, S.Sos, MP. yang saat ini bertugas di Kantor Gubernur Riau sebagai Kepala Bagian Kesra asal Desa Dusun Tuo, Kecamatan Kuantan Hilir, Kuantan Singingi, Riau menceritakan sosok Munir.
Bagaimana ceritanya, yuk simak
SALAH satu sosok yang dikagumi masyarakat Baserah khususnya yang berkaitan dengan ‘tukang sunat’ adalah Munir Duamat. Masyarakat memanggilnya Pak Munir saja. Atau Mantoghi Munier.
Munir dikagumi dan akhirnya namanya masyhur di masyarakat adalah karena dalam melayani pasien tidak memandang kaya-miskin. Tinggal di kota atau nun yang jauh di pelosok-pelosok dan ceruk-ceruk negeri yang waktu itu sukar dilalui dan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki.
Semua orang dilayani Munir dengan hati yang suci dan muka yang jernih. Tak ada pilih kasih atau rasa sesal di hatinya.
Terkait tarif atau biaya untuk bersunat sepanjang pengetahuan saya tidak ada orang yang mengeluh. Munir mau bertolak angsur dan menyesuaikan dengan kemampuan seseorang.
Karena kepribadiannya yang baik itulah nama Munir kian hari kian masyhur. Banyak orang yang ingin menjadi saudara dengan beliau atau lazim disebut masyarakat bagito. Saudara gitonya itu ada di mana-mana.
Ada peribahasa mengatakan: kalau kurang pada rupa/wajah jangan kurang pada budi. Tetapi pada diri Munir bagus pada rupa tetapi juga molek pada budi – bahasa.
Ada beberapa peristiwa terkait Munir yang sampai saat ini masih hidup dalam kenangan saya.
Pertama, suatu hari sekitar tahun 1983, Munir datang ke kampung kami, Desa Dusun Tuo, untuk menyunat saya dan teman-teman. Pada masa dahulu seorang anak baru bersunat bila memasuki Aqil Baliq (kira-kira usia 15 tahun).
Pagi hari sebelum bersunat saya dan teman–teman mandi atau tepatnya berendam di sungai untuk bersih-bersih dan supaya mudah/lunak kulit ketika disunat. Orang-orang sekampung datang melihat.
Sementara itu Munir sibuk membereskan peralatan sunat seperti piring, gunting, kapas, obat-obatan serta ini yang membuat nyali saya menciut–suntik dengan jarumnya yang cukup panjang.
“Matilah saya sekali ini,” saya menelan ludah.
Tetapi di balik peralatan sunatnya yang menakutkan itu terpancar wajah yang enak dipandang. “Tak apa-apa, tenang, ya,” ujar Munir.
Ketika bersunat kami dibaringkan di atas meja. Setelah itu dibaringkan di atas tilam. “Aduuuh,” kata saya ketika bius pertama disuntikan.
Suntikan kedua tak terasa lagi. Ikuti saya, kata Munir. “Ashaduallah ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah.”
Hanya beberapa menit selesailah saya dikhitan Munir. Alhamdulillah. “Tolong anak saya dikasih obat yang paten ya Pak Mantri,” kata ayah saya. Beberapa hari saja luka sunat sudah kering.
Kenangan yang kedua tentu saja masih dalam hal menyunat. Permasalahannya anak yang hendak disunat tersebut tinggal di seberang sungai. Saat itu musim penghujan. Sungai Salak meluap. Jembatan yang terbuat dari batang kelapa tenggelam.
Dalam hati penduduk apa kira-kira yang akan dilakukannya? Dibukanya baju dan celana panjangnya. Dengan celana pendek direnangi sungai yang berarus deras tersebut. Peralatan sunat menyunat di pegang dengan tangan kiri dinaikkan ke atas agar tidak kena air.
Sementara tangan kanannya digunakan untuk mendayung. Kami cemas dia dihanyutkan air. Tapi syukurlah dia selamat sampai ke seberang.
Rupanya di samping tukang sunat yang masyhur di Baserah ternyata juga jago berenang.
Tabik Pak Mantri. Semoga jasa-jasa Bapak menjadi amal saleh di sisi Allah Swt.
Sahabat Jang Itam 08-09-2025







