BAGI pendidik (guru) di Kuantan Tengah yang bertugas pada era 1970-an s.d 1990 -an namanya tidak asing lagi. Puluhan tahun guru agama di kecamatan Kuantan Tengah setiap awal bulan selalu menantikan kehadirannya.
Kemudian di setiap acara di Kecamatan Kuantan Tengah suara baritonnya selaku pembawa acara juga selalu bergema. Dia juga pernah jadi guru yang layak ditiru, digugu dan tak pernah menggurui.
Dialah Alwis Madir – juru bayar guru agama dari Kantor Departemen Agama (Depag) Kecamatan Kuantan Tengah sebelum kecamatan ini mekar menjadi tiga kecamatan: Kuantan Tengah, Benai, dan Sentajo Raya.
Akhir Bulan
BIASANYA tiap akhir bulan, Madir – begitu ia akrab disapa pergi ke Rengat menjemput gaji guru. Dia selalu numpang “Bus Karya Bersama” milik pengusaha etnis Tionghoa yang setiap hari melayani rute Taluk Kuantan – Rengat.
Madir menjalani propesi itu dengan penuh kejujuran sekaligus keberanian. Tanpa rasa takut setiap bulan dia membawa uang puluhan bahkan mungkin ratusan juta dalam koper warna hitam yang selalu setia menemaninya jika menjemput gaji ke Rengat.
Suatu ketika saya sempat bertanya kepada diri Madir soal kejujuran dan keberaniannya itu. Dengan enteng dia menjawab: “Semuanya, Pak Cik Serahkan sama Tuhan. Jika Tuhan sudah berkendak tidak ada yang bisa menghalanginya. Pak Cik percaya jika kita berniat baik insya allah Tuhan akan menjaga kita. Amin.”
Saya memanggil Madir dengan sapaan akrab Pak Cik. Rumah kami berdekatan di Dusun Tanah Gonting, Desa Muaro Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi, Riau. Anak semata wayangnya dengan Aminah, Alfia Misrianty Alwis adalah teman sepermain dan seperjuangan saya waktu kecil.
Madir adalah tipical pegawai yang jujur dan berani yang sulit dicari tandingannya. Sikap yang mungkin sudah banyak menghilang di tengah masyarakat saat ini.
Jadi Guru
SEBELUM menjadi juru bayar di Kantor Depag Kuantan Tengah, Madir jadi guru di PGA 4 Tahun Sentajo. Dia mengampu mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila. Teman seangkatannya waktu jadi guru di PGAN 4 Tahun Sentajo di antaranya adalah Abbas, Abdul Mutahalib, Asdiman MY, Nursulin, Arjasita, dan Masran Ali.
Pilihan menjadi guru mungkin juga pengaruh abang kandungnya Idris. Sang abang pernah mengajar di SD Negeri 03 Sentajo di Desa Pulau Kopung, SD Negeri 05 Desa Koto Sentajo. Pindah ke MTs Nurul Islam Sentajo (sekarang MTs Negeri 2 Kuantan Singingi) di Desa Kampung Baru Sentajo sampai pensiun.
Ketika sekolah PGAN 4 Tahun Sentajo dibubarkan awal tahun 1980-an guru-gurunya pindah ke tempat lain dalam wilayah Kecamatan Kuantan Tengah. Ada yang pindah ke SD, MTs, MAN, KUA, dan Kantor Depag. Madir memilih kantor Depag sebagai tempat pengabdiannya yang terakhir hingga pensiun tahun 1998.
MC dan Wasit
PADA era 1970 sampai 1990-an, Madir dikenal salah satu pembaca atau ahli acara yang sering disebut Master of Ceremony (MC) kondang di Kuantang Tengah. Dia begitu paham dalam memastikan kelancaran, kelengkapan, dan kesuksesan acara dengan memandu, menghidupkan suasana serta serta menjadi penghubung antara pembicara, pengisi acara, dan penonton.
Nyaris setiap acara besar di Kuantan Tengah jasanya selalu dipakai sebagai MC. Dan, dia tercatat sebagai salah satu MC kondang di samping MC kondang lainnnya pada waktu itu. Sebut saja, Su’udi Yusuf dan Syafril Manap dari Taluk Kuantan dan lainnya.
Madir juga olahragawan. Dia salah seorang pemain bulutangkis yang sering mewakili Kematan Kuantan Tengah di berbagai event pertandingan bulu tangkis yang diselenggarakan di Kabupaten Indragiri Hulu.
Jejaknya sebagai MC kemudian diikuti oleh Hamsirman yang akrab disapa Apuak (1966-2021), Darwis, Urdinento, dan lainnya.
Di dunia bulutangkis rekan sejawat Madir di antaranya adalah Burhanudin, Jalinus MS. Bahmas, Abdul Muthalib, dan Fahmi dari Sentajo. Kemudian Mansyur Furdi dan Yurda dari Taluk Kuantan. Dari Benai ada Ilyas, Munir, dan Yasri.
Sedangkan yunior Madir di dunia bulutangkis dari Sentajo di antaranya adalah Sabaruddin, Rial, Sukarmis, Hasan Basri, Yasrif, Helfian Hamid, Saidin Asmara, Darwin, Maas Lubis, dan lainnya.
Dalam dunia sepakbola era 1970-1990-an, Madir tercatat sebagai wasit sepakbola di Persatuan Sepakbola Kuantan Tengah (Persik) asal Sentajo bersama Abdul Muthalib. Dari Benai ada Ilyas dan anaknya Yasri. Dari Taluk Kuantan ada Mansyur Furdi dan lainnya.
MADIR lahir di Sentajo pada 1943 sebagai anak ketiga dari empat bersaudara pasangan M. Totap dan Bedah. Saudaranya yang lain adalah Idris, Dahniar, dan Nurhayati.
Madir menjalani pendidikan Sekolah Rakyat di Sentajo. Kemudian lanjut ke sekolah pendidikan agama mengikuti jejak abangnya Idris.
Pada usia 74 tahun tepat 17 Juli 2017 Madir dipanggil sang Khalik. Dia meninggal dunia di pangkuan istri keduanya Ineng di Desa Beringin Taluk, Kuantan Tengah. Ia menyusul istri pertamanya Aminah yang meninggal dunia pada 8 Januari 1991 dalam usia 61 tahun.
Kepergiaan Madiri tentu menimbulkan duka yang mendalam bagi orang yang mengenalnya. Bagi anak semata wayangnya Alfia Misrianty yang akrab disapa Upik, Madir adalah sosok orang tua yang begitu mengayomi, penyayang, dan baik budi.
Upik adalah anak semata wayang Madir dengan Aminah itu kini tinggal di Malaysia. Tepatnya di Lot 2807C, Lorong Cempaka, Batu 17 1/2, Kampung Damai Kuang, 48050 Rawang Selangor, Malaysia.
Upik menikah dengan Gusnadi bin Radin. Mereka punya empat anak. Yakni Gusfi Hendra lahir pada 1994, Nur Afni Afiza (1996), Alfira Nofika Sari (1999), Adam Putra (2004). Kemudian dari anak keduanya Nur Afni Afizah yang menikah dengan Muhammad Hafuza lahir Muhammad Ayden Hadid.
Madir memang telah tiada. Tapi orang masih mengingat pembawaannya yang sejuk, teduh, dan bersinar. Penampilannya yang rapi di balik tubuhnya yang atletis serta suara baritonnya yang bergema ketika membawa acara selalu dirindukan masyarakat.
Selamat jalan…
Naskah Sahabat Jang Itam: 11-09-2025.







