Menu

Mode Gelap
Tegas! Kalapas Selatpanjang Gaungkan Zero Narkoba dan HP di Hadapan Warga Binaan Isu Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Mencuat, Bidik Peserta Menengah Atas PT JFC Stone di Kabil Diduga Ingkari Kewajiban terhadap Pekerja Peringati Hari Kartini, Ruang Asa Project Hadirkan Ruang Kreasi Inklusif bagi Anak-anak Istimewa di Pekanbaru Utusan Presiden Ingatkan Dokter Spesialis Siak: TPP Hanya Tambahan Penghasilan Sidak Urine Mendadak di Lingkungan Kecamatan Bengkalis Dua Orang Positif Amfetamin

Ragam

Sihut (1901 – 1987): Saudagar Lintas Daerah dari Kuantan Singingi

badge-check


					Sihut Perbesar

Sihut

PERDAGANGAN lintas daerah sebenarnya sudah ada sejak lama di Kuantan Singingi. Tak hanya lewat jalur darat, pedagang lintas daerah ini juga ada lewat sungai Kuantan dan Indragiri hingga menyebrang ke Malaysia dan Singapura melalui jalur laut.

Tersebutlah nama pedagang lintas daerah yang terkenal awal 1900an s.d 1940-an. Sebut saja Majirin (Kopah), Sidik dan kakak beradik Abdul Malik dan Abdul Raoef dari Baserah (Kuantan Hilir). Kemudian ada Jusin dan Sihut (Sentajo Raya), dan lainnya.

Sihut merupakan pedagang lintas daerah terkenal pada kurun waktu 1922 -1946 di Kuantan Singingi. Dari Taluk Kuantan dia berdagang sampai ke Sijunjung, Tanah Datar, Batusangkar, dan Payakumbuh di Sumatra Barat. Bahkan sampai ke Kolang sebutan negara jiran Malaysia pada zaman dulu.

“Dari Sentajo Ayahanda jualan ternak jalan kaki ke Sumatra Barat. Ayahanda membawa ternak kerbau melalui lintas Bukit Tabandang di Hulu Kuantan sampai Muaro Pane Sijunjung,” ujar Agus Salim anak bungsu Sihut dan Siti Hadar.

Menurut Agus Salim, untuk memperlancar usaha dagang, Ayahanda memasang anak buah di daerah yang dilewatinya saat berdagang “Manan Tena, Surin, dan Marusik adalah anak buah Ayahanda di Sumatra Barat,” tambah Agus Salim.

Di Sentajo sendiri, Sihut dikenal sebagai induk somang (bos) gotah (karet) paling dituakan dan disegani. Dia punya bangsal (tempat) di Sungai Lansek Sentajo, Pulau Lowe Pangian, dan Jalur Patah Teratak Air Hitam.

Usaha jual beli karet ini dilakoni Sihut sampai pada 1982. Disebabkan faktor umur dan ingin memberikan kesempatan kepada yang muda untuk berkembang, dia berhenti dagang.

Kurun waktu 1970 -1990 sejumlah induak somang karet mulai naik daun di Sentajo. Sebut saja Samsu bin Rais, Bukhari, Mansyur Tangguak, Ilyas, Musa’i, Daud, Mansyur Gopuak, Munap Tandin, Amir Simu, Yurlis, Saman, Asiar, dan Sulam. Kemudian ada Ali Kindak, Samsami, Salami, dan Kumal Teleng, Sirun, Umar Usman, Gani dan lainnya.

Mereka mengembangkan sayap hingga Kenegerian Kopah, Teratak Air Hitam, Jake, Benai, dan Kopah. Di daerah itu mereka mendirikan bangsal dan tempat penggilingan karet.

Pergaulan

SIHUT lahir di Sentajo pada 1901 sebagai anak pertama dari dua bersaudara. Punya adik bernama Sigap. Sigap adalah orang tua dari Rasab, Rosnah, dan Tamsir Bakri.

Kendati hanya mengenyam pendidikan sampai Sekolah Rakyat (SR), Sihut punya pergaulan yang luas. Dia bergaul dengan tokoh – tokoh yang tergabung dalam perserikatan Muhammadiyah di Sumatra Barat maupun di Kuantan Singingi.

Di Sentajo, Sihut seangkatan dengan Mahmud @Ongku Kali, M. Mudahi @Ongku Lomah, Ali Nukun, Yahikam @Datuk Penghulu Malin. Di Taluk Kuantan ada Umar Usman, Umar Abdullah, dan Jamal Lako Sutan.

Kemudian di Baserah ada Abdul Raoef, Abdul Malik, Rasmin Abrus, dan Sidik. Sedangkan di Lubuk Jambi ada Radja Sulaiman, Radja Ibrahim, dan lainnya.

Perkenalan Sihut dengan persyarikatan Muhammadiyah tak lepas dari pergaulannya dengan saudagar di Sumatra Barat. Selain itu juga faktor kawan seperjuangan berpendidikan di Sumatra Thawalib Padangpanjang, Batusangkar, dan Bukittinggi.

“Kendati Ayahanda hanya berpendidikan SR , Ayahanda punya pergaulan yang luas dan lintas daerah,” ujar Agus Salim.

Nikah 5 kali

SEMASA hidup Sihut pernah nikah lima kali. Pada usia 20 tahun dia nikah dengan Himan suku Paliang Lowe dan Jompu seorang bidan suku Melayu. Kemudian diusia 25 tahun nikah lagi dengan istri ketiga: Timbang dari suku Paliang Lowe.

Selanjutnya Sihut nikah lagi dengan istri keempat: Sarinani dari Paliang Lowe dan istri kelima: Siti Hadar Binti Sa’an dari Teratak Air Hitam suku Caniago.

Dari pernikahan pertama dan kedua Sihut tidak punya anak. Dari pernikahan ketiga, keempat, dan kelima punya anak. Dari Timbang punya tiga anak: Umilan lahir pada 1930, Abdul Azis, Rohani, dan Yursal (1942).

Kemudian dari istri keempat: Sariani, Sihut punya enam anak: Marzuki, Yasni, Tiyapridah, Nijasman, Muliyati, dan Bujang.

Kemudian dari istri kelima: Siti Hadar yang dinikahi pada 1944 punya tujuh anak: Basiah lahir pada 1946, Suhaiman (1948), Kartini (1952), Yulizar (1955), Kaswin (1959), Darwizah ( 1963), dan Agus Salim (1970).

Di belakang nama anak dari pernikahan dengan istri-istrinya ada tercantum nama Sihut. Inilah bukti cinta kasih seorang anak dengan orang tua yang mereka cintai.

SIHUT meninggal dunia di pangkuan istri kelimanya Siti Hadar, Sabtu 31 Juli 1987 sekitar pukul 5.00 WIB. Dia dimakamkan di belakang rumah istri ketiganya: Timbang di Desa Kampung Baru Sentajo.

Kemudian istri ketiganya: Timbang yang lahir pada 1908 meninggal di Pekanbaru pada 1984. Dimakamkan di TPU Sail Tengkerang, Pekanbaru.

Istri keempat: Sariani lahir pada 1912 meninggal pada 1993 di RS Ibnu Sina Pekanbaru. Dimakamkan di TPU Umban Sari Rumbai, Pekanbaru.

“Alhamdulillah ibunda Siti Hadar yang lahir pada 1928 kini masih sehat. Umurnya kini sudah 97 tahun. Ibunda kini tinggal di rumah kakanda Darwisah di Dusun Batang Tongah, Desa Kampung Baru Sentajo,” ujar Agus Salim yang kini menjabat Ketua BPD Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi, Riau .

Menurut Agus Salim, orangtuanya boleh dibilang saudagar yang islami, jujur, dan taat beribadah.

Naskah: Sahabat Jang Itam: 30-09-2025.

Jika ada masukan silahkan tulis di kolom komentar. Trims.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

LAMR Minta Menteri Kehutanan Batalkan Rencana Relokasi Warga TNTN di Tanah Adat Cerenti

10 Maret 2026 - 19:21 WIB

Pendulang Tradisional Terjaring, Polisi Bongkar Dapur Emas Ilegal di Kuansing

3 Februari 2026 - 11:19 WIB

Jadwal Nisfu Syaban 2026 dan Amalan yang Dianjurkan

1 Februari 2026 - 06:35 WIB

Relokasi Eks Penghuni TNTN di Cerenti Dinilai Lemah Secara Hukum

31 Januari 2026 - 08:16 WIB

Sekolah Rakyat ke-4 Dibangun di Kuansing, Pemprov Riau Perluas Akses Pendidikan Gratis

22 Januari 2026 - 13:43 WIB

Trending di Kuansing