APRESIASI rasanya pantas disampaikan kepada Sosok pendidik, pejuang kemerdekaan, ulama, tokoh persyarikatan Muhammadiyah, saudagar, dan pendiri koperasi di Kecamatan Cerenti.
Arsyad lahir di Desa Koto, Kecamatan Cerenti, Kuantan Singingi, Riau pada 1901. Anak ketiga dari enam bersaudara pasangan mubalig dan saudagar kaya Kahar dan Bunga punya saudara Darmawi, Gadi Hafsyah, Ahmad, dan Ali.
Masa kecil dan remaja Arsyad tumbuh kembang di tengah perubahan besar. Melewati tiga zaman: penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, dan masa awal kemerdekaan RI. Arsyad menjadi pelaku sekaligus saksi sejarah dalam merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan RI.
Arsyad pernah Arsyad menempuh pendidikan di Sumatra Thawalib Padangpanjang, Sumatra Barat. Selesai pendidikan dia menjalani berbagai macam pekerjaan seperti bertani dan berdagang antar daerah melalui sungai Kuantan.
Pada zaman penjajahan Belanda, Arsyad berdagang barang illegal dan hasil bumi ke Singapura. Pulangnya membawa barang-barang dagangan peralatan rumah tangga seperti ranjang besi, lampu tembaga-hias, keramik hias, dan lainnya.
Sebagai pendidik, Arsyad ikut mendirikan panti asuhan anak yatim, kepanduan, dan Madrasah Muallimin di Cerenti. Di atas lahan sekolah itu sekarang berdiri Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah Muhammadiyah dan Perkantoran Pengurus Cabang Muhammadiyah Kecamatan Cerenti.
Sekolah itu didirikan sebagai salah satu amal usaha Muhammadiyah untuk mencerdaskan anak bangsa di Cerenti dan daerah sekitarnya. Gurunya didatangkan dari Minangkabau yang direkomendasikan Perguruan Sumatra Thawalib Padangpanjang.
Muhammadiyah
ARSYAD bersama orang tuanya Kahar merupakan ulama dan pendiri Persyarikatan Muhammadiyah di Cerenti. Dia juga dipercaya menjadi Ketua Pengurus Cabang Muhammadiyah setelah ayahnya Arsyad. Jadi tumbuh kembang Muhammadiyah di Cerenti tak bisa dilepaskan dari tangannya.
Organisasi ini masuk ke Kuantan Singingi pada tahun 1933 dari Padangpanjang, Sumatra Barat. Ketika melawat ke Kuantan Singingi tokoh Pimpinan Pusat Muhammadiyah antara lain HAMKA dan Chotib Sutan pernah singgah ke Cerenti.
Selain Arsyad tokoh Muhammmadiyah di Kuantan Singingi di antaranya adalah: dari Kuantan Hilir ada Sarmin Abroes, Abdoel Raoef, Sidik, dan Abdul Malik. Kemudian dari Sentajo Raya ada Yahikam Datuk Penghulu Malin, Ongku Kali Mahmud, Ongku Loma Mudahi, M. Sahe, M. Amin, Ali Nukun, Bokar, Siu, Sahamuddin, dan lainnya.
Kemudian dari Kuantan Tengah ada Umar Usman, Umar Abdullah, Jamal Lako Sutan. Dari Kuantan Mudik ada Mudasin, Radja Soelaiman, Radja Ibrahim, Said Manan, Ibad Amin, Sulaiman Khatib, Hasan Arfin, Arsyad dan lainnya.
Pejuang
SEBAGAI pejuang, Arsyad turut berjuang mengusir Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia yang sudah memproklamirkan kemerdekan. Tiga tahun lamanya Arsyad dan kawan-kawan seperjuangannya melakukan perang gerilya terhadap tentara KNIL Belanda di hutan Cerenti.
Konsekwensi dari perjuangan ada sebagian yang ditangkap dan dipenjarakan bahkan dieksekusi Belanda di tepi Sungai Kuantan. Tercatat pejuang di Cerenti yang selamat selain Arsyad ada Syafii Yatim, Ismail Umar, dan lainnya.
Rekan pejuang lainnya dari Kuantan Singingi ada Jamal Lako Sutan, Umar Usman, Umar Usman dari Kuantan Tengah. Kemudian ada Saidina Ali, Fadilah, Radja Roesli, Ibad Amin, Sulaiman Khatib, Hasan Arifin, Thoha Hanafi dan lainnya. Dari Kuantan Hilir ada Sarmin Abroes, Mohd. Noer Raoef, dan lainnya.
Dalam perjuangan itu istri Arsyad bernama Daranah ikut membantu. Sang istri yang juga aktivis Aisyah pernah jadi Koordinator Dapur Umum untuk daerah Cerenti dan sekitarnya. Mereka bertugas menyediakan makanan bagi para pejuang kemerdekaan di medan tempur. Di Kuantan Mudik yang jadi Koordinator Dapur Umum adalah Ummi Fatimah Hadi – istri pejuang kemerdekaan RI, Buya Ma’rifat Mardjani.
Pendiri Koperasi
BERSAMA Darmawi Kahar, Semaun, Bahasan, Mustafa Umar dan orang-orang yang terhimpun dalam organisasi Islam Muhammadyah Cerenti, Arsyad mendirikan Koperasi Amanah. Koperasi ini menjadi gerakan dakwah Islam bidang ekonomi dan pemberdayaan ummat di Cerenti.
Koperasi ini menjadi tenpat berhimpun dalam memperbaiki kemampuan ekonomi rakyat yang tertindas (fuqoro masakin dan mustaafin). Arsyad dipercaya sebagai Ketua Koperasi pertama. Kemudian digantikan oleh menantunya Mustafa Umar – seorang pejuang kemerdekaan yang menikah dengan anaknya Rosmani.
Penggerak perkoperasian di Cerenti pada umumnya adalah para pejuang Kemerdekaan RI yang dicari dan dikejar-kejar tentera Penjajah Belanda/KNIL di masa Revolusi. Mereka (para pejuang) aktif membangun kesadaran masyarakat tentang kebangsaan (merebut Kemerdekaan) melalui pendidikan, dan memperbaiki kemampuan ekonomi rakyat yang tertindas melalui gerakan koperasi.
Kelak dalam perkembanganya koperasi ini menjadi contoh dan rujukan dalam perkembangan koperasi di Indragiri Hulu sebelum Kuantan Singingi mekar jadi kabupaten. Dan, koperasi ini menjadi wadah tempat berkumpul aktivis Muhamamdiyah di Cerenti.
Punya Empat Istri
Arsyad menikah dengan empat istri, bergantian alias kawin-cerai, tetapi sehidup semati dengan Daranah binti Djamin, seorang janda beranak satu bernama Baidar bin Lazim yang wafat wafat pada 2023. Dari istri pertama: Fatimah, Arsyad punya empat anak yakni Bachtiar, Rosmani, Edward Arfa, dan satu lagi wafat sejak kecil. Setelah cerai dengan Fatimah, kemudian Arsyad nikah dengan Daranah binti Djamin janda beranak satu yakni Baidar bin Lazim yang wafat pada 2023.
Anak-anaknya dengan Daranah adalah Yurnila, Rohani, Nurmi, Marzuki, Upri, Armida, Apendi, Latifah, dan Aslan. Dari istri ketiga punya dua anak yakni Sardini dan satu lagi wafat waktu kecil. Sedangkan dari istri keempat, dia tak punya anak.
Aryad wafat dunia pada 23 Maret 1971 dalam usia 70 tahun. Beliau di makamkan di TPU Tanah Wakaf H. Mukmin Masjid Jamiak Desa Kampung Baru Timur, Cerenti. Istrinya Daranah Djamin meninggal dunia pada 2021 dalam usia 106 tahun.
Itulah sekilas tentang Arsyad bin Kahar dari Cerenti. Sosok orang tua yang sangat penyayang pada keluarga besar dan pendidik disiplin.
“Ayah adalah sosok yang penyayang. Sosok pendidik yang disiplin,” ujar anaknya Apandi Arsyad yang juga pendiri dan Dosen PTS Universitas Djuanda Bogor, konsultan dan Pegiat Sosial.*)
Penulis: Sahabat Jang Itam 03-09-2025







