“WHAT’S in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet,” kata William Shakespeare.
Jika diterjemahkan ungkapan itu berarti, “Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi.”
Kisah Unik
ADA kisah unik dibalik “nama” ini. Dan, cerita unik dialami oleh Rafles – salah seorang saksi sejarah dan pelaku perjuangan pemekaran Kabupaten Kuantan Singingi. Orang mengenal dirinya dengan sapaan ONCOL daripada nama aslinya sesuai KTP: RAFLES.
Suatu ketika orang mulai menginventaris nama-nama orang Kuantan Singingi yang akan menduduki jabatan strategis di kabupaten yang baru dimekarkan tersebut. Setiap nama Rafles disodorkan, nama itu selalu jadi bahan pertanyaan banyak orang.
Itu lumrah saja, nama asli dengan panggilan sehari-hari beda banget. Tidak nyambungnya.
Suatu ketika Rusjdi S. Abrus yang baru dilantik jadi Pjs. Bupati Kuantan Singingi ingin mengisi kabinetnya. Nama “misterius” itu kembali disodorkan kepada Rusjdi. “Nama ini sering muncul – tapi orangnya tak pernah ada. Siapa ini? Orang mana? Kerja di mana?” tanya Rusjdi dengan mimik serius.
Oncol si-empunya nama yang kebetulan ada di ruang itu hanya tersenyum. Dia pura-pura tidak tahu nama aslinya “Rafles” sering menjadi pertanyaan. Dia mengerti nama aslinya beda dengan nama pangilannya, “Oncol.”
Di tengah pertanyaan serius itu, Mahdili menghampiri Rusjdi yang lagi kebingungan. ”Pak Bup…. ini dia orangnya yang bernama RAFLES itu,” ujar Mahdili sembari menunjuk Oncol.
Semula Rusjdi tak percaya dengan omongan orang yang dipercayainya sebagai Kadis PU itu. “Ncol… ke sini dulu! Buka dompet lihat KTP mu. Saya mau melihat apakah namamu yang sebenarnya di KTP,” ujar Rusjdi sembari bergurau tapi serius.
Buka Dompet
ONCOL lalu membuka dompetnya. Dia menunjukkan KTP nya kepada Rusjdi. Betapa kagetnya Rusjdi setelah menengok KTP Oncol. Astagafirullah hal”adzim.
Tuhen… Tuhen… Ternyata yang namanya Rafles itu awak ya, Ncol?” katanya sembari memegang pundak Oncol.
Oncol hanya tersenyum. Sebagai sesama pegawai yang pernah bekerja di lingkungan Dati I Riau di Pekanbaru, Rusjdi dan Oncol sudah lama saling kenal. Namun Rusjdi tak mengetahui kalau Oncol itu sapaan akrab Rafles.
“Saya selalu menyapa dia itu Oncol, bukan Rafles. Maafkan abang ya, Ncol! Abang tak menyangka ada orang Teratak Air Hitam bernama ke-barat-baratan seperti dirimu, Ncol,” ujar Rusjdi kembali menahan senyumannya.
Kendati Rusjdi sudah tau nama sebenarnnya Oncol adalah Rafles, namun dalam berbagai kesempatan dia selalu memanggil Oncol bukan Rafles. Nama Oncol itu begitu terpatri di hati Rusjdi. Juga, bagi orang-orang Kuantan Singingi yang mengenal sosok Oncol secara dekat.
Rafles punya cerita unik kenapa dirinya dipanggil Oncol. Sekedar tau boleh aja, namun bukan untuk ditulis. Lalu Oncol melanjutkan, “Pak Rusjdi mungkin lupa. Banyak orang di Kuantan Singingi nama asli dan panggilannya beda bahkan tidak ada nyambung sama sekali. Hahahahaha.”
Oncol mengakui nama Rafles hanya tertulis di dokumen kependudukannya seperti di KTP, Ijasah, dan surat resmi lainnya. Dalam kesehari-harian namanya tetap akrab disapa Oncol.
“Catat ya…! Oncol bukan Ancol. Beda, kalau Oncol saya, Ancol nama pantai di Jakarta. Hahahahaha.” ujarnya sembari bergurau.
Pelaku Sejarah
ONCOL… eh Rafles adalah salah seorang saksi dan pelaku sejarah perjuangan pemekaran Kabupaten Kuantan Singingi yang namanya unik dan kebarat-baratan.
Sebagai seorang pejuang untuk pemekaran Kuantan Singingi “memori”nya sangat kuat – kendati usianya mulai senja. Dia “kamus berjalan atau rujukan” bagi orang yang ingin tahu soal Kuantan Singingi.
Oncol bisa menceritakan secara runut pemekaran Kabupaten Kuantan Singingi dari awal hingga kini. Sebab, dia adalah salah seorang pelaku dan saksi sejarah.
Banyak cerita unik dari seorang Oncol. Ketika pelaksanaan Mubes Masyarakat Kuantan Singingi di Taluk Kuantan tahun 1999. Oncol menjadi asisten pribadi (Aspri) Prof. Dr. Maswardi Rauf, M.A dan Dr. Alfitra Salamm.
Kedua orang hebat asal Kuantan Singini yang juga pencetus otonomi dan pemekaran daerah waktu itu pulang kampung menyampaikan makalah soal pemekaran Kuantan Singingi ini. Banyak orang yang segan membawa dan melayani kedua orang hebat tersebut. Tentu dengan pelbagai alasan.
Namun tidak halnya dengan Oncol. “Banyak yang mengira Aspri Prof. Maswadi Rauf itu saya,” kata Oncol tersenyum.
Dan, sebagai Aspri “tak resmi” waktu itu ketika orang-orang terutama ibu-ibu sibuk foto dengan Maswadi Rauf, Oncol juga jadi rebutan.
“Pak Maswadi Rauf, Aspri Bapak yang ganteng tadi mana? Ajak dong ke sini, kami ingin juga foto dengan dia untuk kenenang-kenangan mumpung lagi pulang kampung!”
Begitu indah persahabatan antara Aspri bernama Oncol dengan Guru Besar UI itu hingga kini. Nama Aspri itu lengket hingga kini. Bukan asisten benaran tapi Aspri tak resmi. Hahaha..
Lalu apa pesan Oncol? Biar tak keliru panggil saja saya Oncol. Oke broo….
Penulis: Sahabat Jang Itam: 10-10-2025







