“WHAT’S in a name? That’s which we call rose by any other name would smell as sweet”
“Apalah arti sebuah nama? Toh dinamakan apapun, harumnya mawar tetap akan wangi tercium.”
Salah satu kalimat paling populer di dunia yang dicuplik dari teks drama masterpiece Shakespeare, berjudul “Romeo and Juliet” ini, oleh sebagian besar orang termasuk saya, ternyata dimaknai secara salah selama ini.
Kita hanya melihat teks, seraya mengabaikan konteks utuh dari seluruh rangkaian kalimat di mana kalimat “apalah arti sebuah nama” itu dirangkaikan.
Selama ini kita mengartikan kalimat “apalah arti sebuah nama” hanya sebatas teks, Shakespeare dianggap menisbikan makna sebuah nama, atau nama itu menjadi tidak penting di matanya. Itu realitanya.
Menarik
“LALU apa hubungan Suharto dan Suhardiman yang kini menjabat bupati di Kuantan Singingi?” Ternyata menarik, lucu, dan mengemaskan untuk disimak.
Kendati sudah bergaul sejak tahun 1990-an dengan sang bupati, saya tahu ada hubungan antara SUHARTO dan SUHARDIMAN.
“Suharto adalah nama kecil pemberian orang tua saya. Sementara Suhardiman adalah nama saya yang tertukar,” ujarnya berkelakar.
Kog bisa tertukar? Lalu bagaimana kisahnya?
‘Kasih tau tak ya….?” ujarnya memulai cerita. “Waktu duduk di bangku SD ada teman saya bernama Suhardiman. Dia berhenti saat duduk di bangku kelas 2 SD,” ujar sang bupati
Sejak Suhardiman berhenti, guru menukar nama “Suharto” jadi “Suhardiman.” Dan, nama pemberian sang guru itu terpakai hingga sekarang.
Sang guru berharap kelak Suhardiman jadi orang yang berguna dan berbakti kepada bangsa, termasuk kampung halamannya sendirinya.
“Kalau Suharto kan Presiden RI. Nama itu terlalu berat. Ternyata nama itu (Suhardiman) membawa hoki dalam perjalanan hidupnya.
Suhardiman yang tertukar itu tumbuh kembang menjadi anak yang cerdas. Di sekolah jadi juara kelas, di rumah jadi anak yang berbakti. Doa sang guru terkabul.
Lalu bagaimana nasib Suhardiman yang asli? “Suhardiman asli sekarang jadi imam mesjid. Setiap ketemu kami selalu tertawa dan bercanda.”
Haru biru
MASA kecil Suharto eeeeh Suhardiman dimasa kecil ternyata mengharu biru. Ketika umur lima tahun, ibunya Biyah meninggal dunia. Ayahnya Abdul Malik menikah laki.
Sejak itulah Suhardiman hidup dengan ibu sambungnya. Istilah populernya “ibu tiri.”
Dalam dunia nyata kita saksikan banyak (baca tidak semuanya) ibu tiri hanya yang memberikan perlakuan tak elok kepada anak tirinya.
Tapi pengecualian untuk Suhardiman dan keluarganya. “Ibu sambung terasa ibu kandung,” ujarnya tersenyum.
Tidak ada ratapan anak tiri seperti dalam lagu dan film. Yang ada hanya belaian cinta dan kasih sayang yang mengalir seperti air ke samudra lepas dari ibu kandungnya.
Sewaktu duduk di bangku SD, Suhardiman mengaku dirinya sering menangis ketika lagu “Ratapan Anak Tiri” dinyanyikan.
Lirik lagu tahun 1980-an yang kembali dipopulerkan Iis Dahlia itu sangat menyentuh. Inilah lirik lagu tersebut
Betapa malang nasibku
Semenjak ditinggal Ibu
Walau kini dapat ganti
Seorang Ibu, Ibu Tiri
Tiada sama rasanya
Ibu kandung yang tercinta
Menyayang sepenuh jiwa
Penuh kasih lagi mesra
Reff:
Ibu tiri hanya cinta kepada ayahku saja
Selagi ayah di sampingku ku dipuja, ku dimanja
Tapi bila ayah pergi ku dinista dan dicaci
Bagai anak tak berbakti, tiada menghirauku lagi
Aduhai ibu tiriku
Kasihanilah padaku
Bagai anakmu sendiri
Agar dapat ku berbakti
Kontak Bathin
SUHARDIMAN mengakui jujur dirinya punya kontak bathin yang kuat dengan ibu sambungnya itu. “Jika saya melakukan kesalahan ibu sambung saya pasti jatuh sakit,” jelasnya.
Sebaliknya jika ibu sambungnya sakit, Suhardiman juga merasakan sesuatu pada dirinya. Kontak bathin itu membuat dirinya selalu hati-hati dalam berbuat dan bertindak.
“Saya tidak ingin melihat ibu saya sakit hanya karena saya berbuat ceroboh,” ujarnya memberi alasan.
Suhardiman mengaku salah satu alasan dirinya mendirikan pondok pesantren juga dorongan dan pesan ibu sambungnya. Alasan utamanya adalah cita citanya sedari kecil.
Lalu ketika ditanya apa doa terhadap ibu sambungnya, Suhardiman terhenti sejenak. Lalu berkata, “Umur Ibu sambung saya sekarang sudah 80 tahun lebih. Saya tak ingin melihat deraian air mata menetes di pipinya yang sudah keriput itu. Doa saya tentu yang terbaik seperti doa seorang anak kepada ibunya.”
Sebuah ungkapan yang tulus. Dan, ungkapan itu keluar dari lubuk hati yang paling dalam sang bupati.
Semoga….
Penulis Sahabat: *Jang Itam: Batam 2 Nopember 2025










