Menu

Mode Gelap
Perjuangan Hamizan, Balita Siak dengan Kelainan Jantung, Dapat Dukungan Pemkab dan Yayasan Jantung Indonesia Dua Agenda Krusial SIWO di HPN 2026: SIWO Award 2025 dan Penentuan Porwanas 2027 Prakiraan Cuaca Kepri Jumat, 16 Januari 2026 – Umumnya Berawan dengan Potensi Hujan Lokal Imigrasi Pekanbaru Tegaskan Komitmen Peningkatan Kinerja dan Pelayanan Keimigrasian Dusun Tua Rimba Cempedak Belum Berlistrik, Bupati Siak Janji Perjuangkan Penerangan Audiensi ke LAMR, KSPSI Riau Ingin Jaga Citra Organisasi dan Marwah Melayu

Ragam

Pemikiran Ibnu Rusyd Tentang Pendidikan dan Relevansinya dengan Pendidikan Saat Ini

badge-check


					Pemikiran Ibnu Rusyd Tentang Pendidikan dan Relevansinya dengan Pendidikan Saat Ini Perbesar

Oleh:  Ainun Ahmad

Mahasiswa Pascasarjana S2 Pendidikan Agama Islam (STAI) Ibnu Sina Batam

 

A. Pendahuluan

Pendidikan merupakan instrumen utama dalam membentuk kepribadian dan kecerdasan manusia. Dalam Islam, pendidikan tidak hanya berfungsi untuk mencerdaskan akal manusia, tetapi juga untuk menyempurnakan akhlaknya dan mendekatkan diri manusia kepada Tuhan yang telah menciptakannya. Banyak tokoh atau cendikawan muslim yang ahli dibidang filsafat yang memberikan sumbangan pikiran untuk dunia Pendidikan.

Salah seorang tokoh besar dalam khazanah pemikiran Islam yang banyak membahas tentang rasionalitas dan pendidikan adalah Ibnu Rusyd (Averroes). Sebagai seorang filsuf, ahli hukum, dan dokter, Ibnu Rusyd berupaya mengintegrasikan antara wahyu dan akal, antara agama dan filsafat, serta antara ilmu pengetahuan dan nilai moral. Pemikirannya menjadi dasar bagi pengembangan sistem pendidikan yang rasional, dialogis, dan berbasis integrasi ilmu.

 

B. Biografi Ibnu Rusyd

Ibnu Rusyd (Averroes, 1126–1198 M) lahir di Cordoba, Andalusia (Spanyol) pada tahun 1126 M dan wafat pada tahun 1198 M di Marrakesh, Maroko. Ia hidup pada masa kejayaan sekaligus kemunduran peradaban Islam di Andalusia.

Sejak kecil, Ibnu Rusyd dididik dalam lingkungan ilmiah yang kuat. Ia mempelajari Al-Qur’an, hadis, fikih Maliki, ushul fikih, tata bahasa Arab, serta ilmu logika dan filsafat Yunani1. Dalam bidang kedokteran, ia mempelajari karya-karya Galen dan Hippocrates, sedangkan dalam filsafat, ia mendalami Aristoteles melalui karya-karya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab2

Kecintaannya pada ilmu dan rasionalitas menjadikannya seorang filsuf, dokter, ahli hukum, dan ilmuwan ensiklopedis (polymath). Ia dikenal luas karena kemampuannya menyatukan wahyu dengan rasio, serta menolak pandangan bahwa agama bertentangan dengan filsafat3.

 

C. Karya-Karya Ibnu Rusyd

Ibnu Rusyd meninggalkan lebih dari 100 karya ilmiah yang mencakup bidang filsafat, logika, kedokteran, astronomi, teologi, dan hukum Islam4. Beberapa karyanya yang paling berpengaruh antara lain:

  1. Tahafut al-Tahafut (The Incoherence of the Incoherence), kritik terhadap al-Ghazālī dan pembelaan terhadap filsafat.
  2. Fasl al-Maqal fi ma bayna al-Ḥikmah wa al-Shariʿah min Ittiṣal, menjelaskan hubungan harmonis antara agama dan filsafat.
  3. Bidayah al-Mujtahid wa Nihāyah al-Muqtaṣid, karya hukum Islam yang masih menjadi rujukan penting dalam mazhab Maliki.
  4. Kulliyāt fī al-Ṭibb (Colliget) – ensiklopedia kedokteran yang digunakan di Eropa hingga abad ke-16.5

 

D. Pemikiran Ibnu Rusyd tentang Pendidikan

Ibnu Rusyd berupaya mengintegrasikan wahyu dan akal, agama dan filsafat, ilmu dan moral. Baginya, pendidikan merupakan sarana utama dalam mengembangkan potensi akal untuk memahami kebenaran dan mencapai kebahagiaan sejati (as-sa‘ādah)6.

Pemikiran-pemikirannya, terutama yang berkaitan dengan hubungan antara akal dan wahyu, memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, baik di dunia Islam maupun di Barat. Dalam konteks pendidikan, gagasan Ibnu Rusyd menekankan pentingnya rasionalitas, kebebasan berpikir, dan harmonisasi antara ilmu agama dan ilmu rasional.

Pemikiran Ibnu Rusyd  sangat relevan di era modern yang sarat dengan tantangan globalisasi dan kemajuan teknologi, ketika pendidikan sering kali terjebak dalam orientasi materialistik dan kehilangan nilai spiritualitasnya. Oleh karena itu, perlu dikaji lebih lanjut bagaimana konsep pendidikan menurut Ibnu Rusyd dapat diimplementasikan dalam sistem pendidikan kontemporer.

1. Tujuan Pendidikan

Ibnu Rusyd menetapkan tiga tujuan utama pendidikan:

a. Mengembangkan potensi akal manusia agar mampu berpikir kritis dan logis;

b. Membentuk kepribadian moral dan etika;

c. Mengarahkan manusia mencapai kebahagiaan sejati yang bersumber dari ilmu dan kedekatan dengan Tuhan7.

Menurut Ibnu Rusyd, tujuan utama pendidikan adalah mengembangkan potensi akal manusia agar dapat mencapai kebenaran dan kebahagiaan tertinggi. Ia berpendapat bahwa manusia diciptakan dengan kemampuan berpikir yang harus diasah melalui proses belajar. Pendidikan tidak semata untuk menyiapkan seseorang mencari nafkah, tetapi untuk menumbuhkan kesempurnaan akal dan moral. Dengan kata lain, pendidikan bagi Ibnu Rusyd harus melahirkan manusia yang berilmu, berakal, dan berakhlak.

Bagi Ibnu Rusyd, akal adalah anugerah tertinggi dari Tuhan yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Ia menolak pandangan yang menempatkan wahyu dan akal dalam posisi bertentangan. Baginya, wahyu dan akal saling melengkapi, wahyu memberikan kebenaran normatif, sedangkan akal berfungsi untuk memahami dan menafsirkan kebenaran tersebut dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, pendidikan harus melatih kemampuan berpikir kritis, analitis, dan logis.

Ibnu Rusyd menolak dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia. Ia meyakini bahwa semua ilmu, baik filsafat, kedokteran, logika, maupun fiqih, berakar pada satu sumber kebenaran, yaitu dari Tuhan. Dengan demikian, pendidikan ideal menurut Ibnu Rusyd adalah pendidikan integratif yang tidak memisahkan ilmu pengetahuan rasional dari nilai-nilai spiritual.

2. Metode Pendidikan

Ibnu Rusyd menekankan pentingnya metode dialog dan penalaran dalam proses pendidikan. Ia menolak sistem hafalan semata dan mengedepankan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk bertanya, menganalisis, serta menguji kebenaran8.

3. Jenjang dan Diferensiasi Pendidikan

Ibnu Rusyd membagi manusia berdasarkan kemampuan berpikirnya menjadi tiga golongan:

  1. Golongan awam, memahami agama secara retoris dan simbolik;
  2. Golongan menengah, memahami ajaran agama secara rasional;
  3. Golongan filosof, memahami hakikat kebenaran secara mendalam9.

Pembagian ini menunjukkan bahwa pendidikan harus disesuaikan dengan kemampuan intelektual peserta didik, sebuah konsep yang sejalan dengan gagasan pendidikan diferensiasi dan personalisasi pada era modern.

Oleh karena itu, sistem pendidikan harus disesuaikan dengan kapasitas intelektual peserta didik.

 

E. Relevansi Pemikiran Ibnu Rusyd dengan Pendidikan Saat Ini.

Pemikiran Ibnu Rusyd sangat relevan dengan dunia pendidikan modern, terutama di era globalisasi dan kemajuan teknologi saat ini.

  1. Mendorong Berpikir Kritis dan Rasional

Pendidikan masa kini membutuhkan kemampuan berpikir analitis dan kreatif. Pandangan Ibnu Rusyd tentang pentingnya akal dan rasionalitas sangat sesuai dengan tuntutan ini.

Salah satu tantangan pendidikan modern adalah lemahnya kemampuan berpikir kritis. Pemikiran Ibnu Rusyd menegaskan bahwa pendidikan sejati harus membebaskan manusia dari taklid buta dan menumbuhkan keberanian intelektual10.

Pemikiran Ibnu Rusyd relevan karena menekankan bahwa pendidikan sejati harus membebaskan pikiran dari taklid buta (ikut-ikutan tanpa dasar) dan mendorong pencarian rasional terhadap kebenaran.

Dalam era informasi seperti sekarang, kemampuan memilah antara fakta dan hoaks sangat bergantung pada nalar kritis yang dikembangkan melalui pendidikan. Jika kita tidak mampu membedakan antara fakta dan hoaks maka kita akan mudah tertipu oleh hal-hal yang hoaks. Peserta didik perlu dilatih memilah antara fakta dan opini, sebagaimana diajarkan Ibnu Rusyd untuk selalu menguji kebenaran dengan akal sehat.

  1. Integrasi Ilmu dan Nilai

Ibnu Rusyd menolak dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia. Baginya, semua ilmu baik rasional maupun keagamaan berasal dari sumber yang sama, yaitu Tuhan. Karena itu, pendidikan yang ideal harus mengintegrasikan aspek intelektual, moral, dan spiritual agar menghasilkan manusia yang utuh. Dalam pandangannya, ilmu tanpa moral akan melahirkan kesombongan intelektual, sementara moral tanpa ilmu akan kehilangan arah dan tujuan hidup11.

Sistem pendidikan modern sering terjebak dalam spesialisasi ekstrem yang memisahkan sains dari moralitas. Ibnu Rusyd menawarkan solusi dengan pendekatan integrative, ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan etika dan spiritualitas. Konsep ini sangat relevan dalam membangun generasi ilmuwan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan berintegritas. Tidak hanya berilmu tetapi juga beradab.

Sistem pendidikan modern sering kali memisahkan ilmu dari etika dan spiritualitas, sehingga menghasilkan manusia cerdas tetapi miskin nilai. Pemikiran Ibnu Rusyd menegaskan pentingnya kesatuan antara ilmu dan nilai, karena keduanya saling memperkuat dalam membentuk karakter manusia seutuhnya12.

Konsep ini relevan dengan pendidikan karakter yang kini menjadi fokus kurikulum nasional di berbagai negara, termasuk Indonesia.

  1. Reformasi Metode Pembelajaran

Pemikiran Ibnu Rusyd yang menekankan dialog dan penalaran dapat dijadikan dasar bagi penerapan pendidikan partisipatif dan kolaboratif di era modern. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator dalam proses pencarian ilmu. Hal ini selaras dengan paradigma pendidikan abad ke-21 yang menuntut keterampilan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif.

Dengan menerapkan pendekatan partisipatif, pendidikan dapat menciptakan suasana belajar yang lebih dinamis dan bermakna, sesuai dengan semangat rasionalitas Ibnu Rusyd.

  1. Penghargaan terhadap Kebebasan Akademik

Ibnu Rusyd adalah simbol kebebasan berpikir dalam Islam. Ia berani berpolemik dengan pemikir lain seperti Al-Ghazali tanpa menafikan nilai-nilai keagamaan. Semangat ini relevan untuk dunia pendidikan masa kini yang harus menjunjung tinggi kebebasan akademik dan keberagaman gagasan, selama tetap berada dalam koridor etika ilmiah.

  1. Pendidikan sebagai Pembaharuan Institusional

Pemikiran Ibnu Rusyd dapat menjadi landasan penting dalam pembaharuan pendidikan tinggi kontemporer. Ia menawarkan model integratif yang menyatukan filsafat, rasionalitas, dan agama sebagai satu kesatuan epistemologis. Pendekatan ini relevan bagi institusi pendidikan tinggi modern yang sedang berupaya meningkatkan mutu akademik sekaligus kualitas etika mahasiswanya.

Menurut penelitian terbaru di Indonesia, pemikiran Ibnu Rusyd mampu memberikan kerangka epistemik untuk membangun pendidikan tinggi yang tidak terjebak pada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Pendidikan tinggi idealnya mengembangkan sinergi antara nalar, moralitas, dan spiritualitas sehingga melahirkan lulusan yang cerdas secara intelektual sekaligus berkarakter13. Pendekatan ini tidak hanya menumbuhkan kemampuan akademik, tetapi juga memupuk nilai-nilai kebijaksanaan, keadilan, dan kesadaran etis, sebuah kualitas yang sangat penting bagi calon pemimpin masa depan14.

Ibnu Rusyd memandang bahwa ilmu, apa pun bentuknya, bersumber dari Tuhan dan karenanya harus dihargai dan dikembangkan secara ilmiah dan etis. Di tengah tantangan global seperti krisis moral, penyalahgunaan teknologi, dan polarisasi ideologi, gagasan integrasi rasionalitas-spiritualitas ini menjadi sangat relevan sebagai arah pembaharuan institusi pendidikan tinggi (khususnya PTKI) di Indonesia.

  1. Penguatan Literasi Filsafat dan Sains

Penelitian filsafat Islam kontemporer menunjukkan bahwa pemikiran Ibnu Rusyd dapat menjadi fondasi untuk literasi filsafat dan sains di sekolah maupun perguruan tinggi. Melalui penekanannya pada burhān (demonstrative reasoning), Ibnu Rusyd menegaskan bahwa ilmu harus didasarkan pada pembuktian rasional, bukan otoritas tradisional. Pendekatan ini selaras dengan kebutuhan pendidikan modern yang menuntut kemampuan berpikir berbasis bukti (evidence-based reasoning) untuk menghadapi banjir informasi digital. Kajian Akhtar (2017) menegaskan bahwa metode rasionalis Ibnu Rusyd relevan untuk mengembangkan kemampuan literasi sains dan daya nalar peserta didik masa kini15.

  1. Penguatan Moderasi Beragama di Pendidikan

Pemikiran Ibnu Rusyd banyak diangkat dalam riset 10 tahun terakhir terkait moderasi beragama, terutama karena sikapnya yang membuka ruang dialog antara akal dan wahyu tanpa merendahkan keduanya. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, moderasi beragama menjadi kompetensi pokok dalam kurikulum merdeka dan pendidikan tinggi keagamaan.
Menurut studi Fathurrahman (2020), pendekatan rasional-spiritual Ibnu Rusyd dapat menjadi acuan bagi desain kurikulum yang mendorong toleransi, anti-ekstremisme, dan penghargaan terhadap perbedaan16.

  1. Pendidikan Multikultural

Ibnu Rusyd hidup dalam masyarakat kosmopolitan Andalusia dan menjadi simbol kerukunan ilmiah antara Muslim, Yahudi, dan Kristen. Penelitian Saeed (2018) menunjukkan bahwa model pendidikan Andalusia dapat dijadikan inspirasi untuk menghadapi tantangan intoleransi dan polarisasi identitas di abad ke-2117. Dengan demikian, pemikiran Ibnu Rusyd sangat relevan untuk membangun pendidikan multikultural, terutama di negara yang beragam seperti Indonesia.

  1. Etika Akademik dan Etika Profesional

Penekanan Ibnu Rusyd terhadap integritas intelektual, kejujuran ilmiah, dan akuntabilitas moral sangat sesuai dengan kebutuhan etika akademik modern. Di era plagiarisme digital, manipulasi data penelitian, dan penyalahgunaan teknologi, etika rasional-spiritual yang ia tawarkan menjadi sangat relevan. Studi Kars & Sabra (2021) menyoroti bahwa konsep etika keilmuan Ibnu Rusyd dapat dijadikan acuan bagi pembinaan karakter akademik di universitas masa kini18.

  1. Pendidikan Tinggi Berbasis Interdisipliner

Perkembangan pendidikan tinggi abad ke-21 mendorong integrasi berbagai disiplin ilmu agama, filsafat, sains, teknologi, dan humaniora. Ibnu Rusyd telah terlebih dahulu menekankan integrasi epistemologi ini.
Penelitian El-Rouayheb (2017) menunjukkan bahwa pemikiran Ibnu Rusyd tentang integrasi nalar dan wahyu dapat mendukung model pembelajaran interdisipliner dan transdisipliner dalam pendidikan modern19.
Kecenderungan ini sejalan dengan arah pengembangan PTKIN dan universitas umum yang menuntut lulusan yang holistik dan lintas-disiplin.Bottom of Form

 

E. Kesimpulan

Pemikiran Ibnu Rusyd tentang pendidikan menunjukkan bahwa Islam sejak awal sangat menghargai akal, ilmu pengetahuan, dan kebebasan berpikir. Dalam konteks modern, gagasan-gagasan tersebut menjadi landasan penting bagi reformasi pendidikan yang lebih rasional, humanis, dan berkarakter. Dunia pendidikan saat ini perlu meneladani semangat Ibnu Rusyd, membangun peradaban melalui kekuatan akal dan keseimbangan antara ilmu dan iman.

Pemikiran Ibnu Rusyd menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, tetapi proses pembebasan akal manusia menuju kebenaran. Relevansinya di masa kini terletak pada upaya menyeimbangkan nalar kritis dengan moralitas spiritual.

Pengembangan Potensi Individu dengan Pembagian jenjang kemampuan berpikir manusia oleh Ibnu Rusyd dapat diterapkan dalam pendidikan modern melalui pendekatan pengajaran yang menyesuaikan dengan kemampuan dan minat peserta didik.

Pemikiran Ibnu Rusyd tentang pendidikan menegaskan bahwa akal dan wahyu bukan dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi. Pendidikan ideal harus mengembangkan potensi rasional dan spiritual manusia secara seimbang. Dalam konteks modern, pemikiran ini sangat relevan dalam membangun sistem pendidikan yang rasional, humanis, integratif, dan berkarakter.

Semangat Ibnu Rusyd untuk menegakkan rasionalitas dan kebebasan berpikir harus menjadi inspirasi bagi pendidikan kontemporer agar tidak terjebak pada formalisme, tetapi mampu melahirkan manusia berilmu dan beradab.

Pemikiran Ibnu Rusyd memiliki relevansi yang kuat terhadap sistem pendidikan masa kini, terutama dalam aspek  pengembangan akal dan pemikiran kritis, integrasi ilmu dan nilai, metode pembelajaran aktif dan partisipatif, diferensiasi peserta didik dan kebebasan akademik.

Dalam konteks Pendidikan Agama Islam, pemikiran tersebut dapat diterjemahkan menjadi praktik pembelajaran yang mendorong siswa menjadi aktif, reflektif, dan berkarakter. Tantangan terbesar adalah bagaimana mengimplementasikan secara nyata di sekolah dengan memperhatikan kompetensi guru, kurikulum, dan kontekstualisasi.

 

Catatan kaki

  1. Internet Encyclopedia of Philosophy, “Ibn Rushd (Averroes)”, 2023.
  2. Jaelani, Juhri, et al., Halaqa: Journal of Islamic Education, Vol. 1 No. 1, 2025.
  3. Huda, A. A. S., et al., Jurnal Hurriah, Vol. 4 No. 4, 2023.
  4. Britannica, 2023.
  5. Lalahwa, I. F., Gunawan, A., & Muhajir, M. (2024). The Relationship Between Religion and Reason in the Context of Islamic Education Philosophy from the Perspective of Ibn Rushd and Ibn Taymiyah. Al‑Jadwa: Jurnal Studi Islam, 3(2), 111‑119.
  6. Amaanulloh Abror, “Pemikiran Ibnu Rusyd tentang Pendidikan dan Relevansinya di Era Kontemporer,” Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr, 10(2) (2021): 128–140. Griya Jurnal UIN Purwokerto+2Griya Jurnal UIN Purwokerto+2
  7. Amaanulloh Abror, “Pemikiran Ibnu Rusyd tentang Pendidikan dan Relevansinya di Era Kontemporer”, Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr 10, no. 2 (2021): 128–140. Griya Jurnal UIN Purwokerto+1
  8. Soleh, Achmad Khudori & Rahmawati, E. S. (2023). “The Strength of Ibn Rushd’s Integration of Religion and Philosophy: An Islamic Historical Discourse.” Journal of Al‑Tamaddun, 18(2), 173‑187. https://doi.org/10.33367/journal.v18i2.6628
  9. Saefullah, Agus Susilo & Abdul Hakim & Rijal Fadillah. “Islamic Education in Ibn Rushd’s Epistemological Perspective: Sources of Knowledge, Methods of Attainment, and the Integration of Religion and Philosophy.” El-Badr: Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam, Vol. 1 No. 2 (2025): 71–78.
  10. Komarudin, Omang, Jejen Zaenudin, Supriyadi, & Kusnawan. “Implications of the Conception of Ibn Rushd’s Thought Towards Islamic Education.” JASNA: Journal for Aswaja Studies, Vol. 4 No. 2 (2024): 115–128.
  11. Jaelani, Juhri, Nurlatifah, & Kusnawan. “Konsep Pemikiran Ibnu Rusyd dan Relevansinya terhadap Perkembangan Pendidikan Agama Islam di Era Revolusi Industri 4.0.” Halaqa: Journal of Islamic Education, Vol. 1 No. 1 (2025): 45–58.
  12. Muafa, M. H. A. (2025). Pemikiran Ibnu Rusyd Tentang Pendidikan dan Relevansinya Terhadap Pembaharuan Pendidikan Tinggi di Indonesia. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. ↩
  13. Sulistyowati, D., & Ma’arif, S. (2025). “Relevansi Pemikiran Ibnu Rusyd dalam Menghadapi Tantangan Pendidikan Abad ke-21.” Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(1), 5236–5241. ↩
  14. Akhtar, Ali. Averroes and Rational Pedagogy in Islamic Education, Journal of Islamic Philosophy, 2017.
  15. Fathurrahman, Oman. Reason, Moderation, and Education in the Islamic Classical Heritage, Studia Islamika, 2020.
  16. Saeed, Abdullah. Islamic Thought and Multicultural Education: Lessons from Andalusia, Routledge Handbook of Islamic Education, 2018.
  17. Kars, A. & Sabra, G. Ethics and Rationality in Post-Classical Islamic Thought, Journal of Religious Ethics, 2021.
  18. El-Rouayheb, Khaled. Islamic Intellectual History and Interdisciplinary Education, Cambridge University Press, 2017.

 

 

Daftar Pustaka

Internet Encyclopedia of Philosophy (IEP). “Ibn Rushd (Averroes).” 2023.

Jaelani, J., Nurlatifah, Kusnawan. “Konsep Pemikiran Ibnu Rusyd dan Relevansinya terhadap Pendidikan Islam.” Halaqa: Journal of Islamic Education, Vol. 1 No. 1 (2025).

Huda, Ali Anhar Syi’bul et al. “Ibnu Rusyd’s Brilliant Ideas in His Contribution to Islamic Education.” Jurnal Hurriah, Vol. 4 No. 4 (2023).

Hidayat, Y. F. (2023). The Concept of Freedom in Islamic Philosophy from the Perspective of Al-Farabi and Ibn Rushd. Tamadduna: Jurnal Peradaban, 1(2), 45-56. https://doi.org/10.29313/tamadduna.v1i2.4859

Lalahwa, Illa Fadhliya; Gunawan, Agus; Muhajir, Muhajir. 2024. “The Relationship Between Religion and Reason in the Context of Islamic Education Philosophy from the Perspective of Ibn Rushd and Ibn Taymiyah”. Al‑Jadwa: Jurnal Studi Islam, Vol. 3 No. 2, pp. 111‑119. https://doi.org/10.38073/aljadwa.v3i2.1432

Abror, Amaanulloh. 2021. “Pemikiran Ibnu Rusyd tentang Pendidikan dan Relevansinya di Era Kontemporer.” Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr 10(2): 128–140. DOI:10.24090/jimrf.v10i2.4802.

Abror, Amaanulloh. 2021. “Pemikiran Ibnu Rusyd tentang Pendidikan dan Relevansinya di Era Kontemporer.” Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr 10 (2): 128–140. https://doi.org/10.24090/jimrf.v10i2.4802

Soleh, A. K., & Rahmawati, E. S. (2023). The strength of Ibn Rushd’s integration of religion and philosophy: An Islamic historical discourse. Journal of Al Tamaddun, 18(2), 173–187. https://doi.org/10.33367/journal.v18i2.6628

Komarudin, Omang, Jejen Zaenudin, Supriyadi, & Kusnawan. “Implications of the Conception of Ibn Rushd’s Thought Towards Islamic Education.” JASNA: Journal for Aswaja Studies, Vol. 4 No. 2, 2024.

Jaelani, Juhri, Nurlatifah, & Kusnawan. “Konsep Pemikiran Ibnu Rusyd dan Relevansinya terhadap Perkembangan Pendidikan Agama Islam di Era Revolusi Industri 4.0.” Halaqa: Journal of Islamic Education, Vol. 1 No. 1, 2025.

Muafa, M. H. A. (2025). Pemikiran Ibnu Rusyd Tentang Pendidikan dan Relevansinya Terhadap Pembaharuan Pendidikan Tinggi di Indonesia. Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sulistyowati, D., & Ma’arif, S. (2025). “Relevansi Pemikiran Ibnu Rusyd dalam Menghadapi Tantangan Pendidikan Abad ke-21.” Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(1), 5236–5241.

Akhtar, Ali. “Averroes and Rational Pedagogy in Islamic Education.” Journal of Islamic Philosophy, 2017.

El-Rouayheb, Khaled. Islamic Intellectual History. Cambridge: Cambridge University Press, 2017.

Fathurrahman, Oman. “Reason, Moderation, and Education in the Islamic Classical Heritage.” Studia Islamika, 2020.

Kars, A., & Sabra, G. “Ethics and Rationality in Post-Classical Islamic Thought.” Journal of Religious Ethics, 2021.

Saeed, Abdullah. “Islamic Thought and Multicultural Education.” Dalam Routledge Handbook of Islamic Education. New York: Routledge, 2018.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bang Dalmasri, Jejak Panjang Pengabdian Seorang Politisi

25 Desember 2025 - 08:11 WIB

Perang AI di Kotak Masuk: Gmail Perketat Keamanan, Pengguna Diminta Tak Lagi Pasif Hadapi Penipuan Email

23 Desember 2025 - 07:20 WIB

Engku Lomah Mudahi (1907-1991): Pejuang “Mata Pena” dari Kuantan Singingi

9 Desember 2025 - 12:35 WIB

Instan Kurir Pulau Sambu Hadir Siap Melayani Masyarakat Desa Air Tawar dan Sekitarnya

28 November 2025 - 06:48 WIB

Refleksi Hari Guru: Memandang Guru sebagai Penjaga Harapan Bangsa

25 November 2025 - 15:44 WIB

Trending di Ragam