RiauKepri.com, BATAM – Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Provinsi Kepulauan Riau mempertegas komitmennya dalam mendorong UMKM lokal menembus pasar internasional melalui penyelenggaraan ASEAN Business Forum 2025. Untuk pertama kalinya, agenda berskala regional ini digelar langsung oleh Dinas Koperasi dan UKM Kepri.
Forum yang berlangsung di Hotel Harmoni One Batam pada Senin (17/11) malam itu menjadi momentum penting bagi Dinas Koperasi dan UKM untuk memperluas jejaring usaha serta membuka pintu kolaborasi lintas negara bagi pelaku UMKM Kepri.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kepri, Riki Rionaldi, yang membuka acara tersebut menyebut bahwa forum ini dirancang sebagai wadah strategis untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan perusahaan luar negeri. Tujuannya jelas: penguatan kapasitas dan perluasan pasar.
Acara ini dihadiri perwakilan dari 15 perusahaan yang datang dari lima negara, yakni Singapura, Malaysia, Turkey, Taiwan, dan Myanmar. Kehadiran mereka dinilai menjadi peluang emas bagi UMKM Kepri untuk memperkenalkan produk unggulan daerah.
Bagi Dinas Koperasi dan UKM Kepri, ajang ini merupakan langkah konkret dalam membangun model pembinaan UMKM yang lebih terukur. Ini sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah tidak berhenti pada program pendampingan semata, tetapi bergerak menuju implementasi kerja sama yang berdampak luas.
Tahun ini, forum mengangkat tema “Empowering Local Entrepreneur”, yang sejalan dengan arah kebijakan dinas untuk memperkuat kapasitas wirausaha lokal. Sebanyak 400 pelaku UMKM dari seluruh kabupaten/kota di Kepri turut hadir.
Dari ratusan peserta tersebut, Dinas Koperasi dan UKM sebelumnya telah menyeleksi 60 UMKM dalam program Business Merah Putih. Program ini menjadi pintu masuk bagi UMKM yang dinilai siap naik kelas setelah melalui proses pendampingan intensif.
Riki menjelaskan bahwa 60 UMKM tersebut terdiri dari 40 UMKM asal Batam dan 20 UMKM asal Tanjungpinang. Seleksi dilakukan berdasarkan kelayakan usaha, kesiapan produksi, hingga potensi jalinan bisnis dengan mitra luar negeri.
Hasilnya, delapan UMKM terpilih untuk melanjutkan pembahasan kerja sama langsung dengan perusahaan asing yang hadir dalam forum tersebut. Riki menyebut delapan peserta ini memiliki “chemistry kuat” dan dinilai siap masuk ekosistem pasar global.
Menurut Dinas, pencapaian ini merupakan bagian dari upaya besar pemerintah daerah dalam membangun ekosistem UMKM berkelanjutan. Hingga kini, setidaknya 2.000 UMKM telah dipetakan berdasarkan level pengembangan dan diarahkan agar mampu naik kelas.
Seluruh UMKM binaan tersebut diintegrasikan ke dalam wadah Koperasi Merah Putih, yang difungsikan sebagai lembaga peningkatan kapasitas usaha. Melalui wadah ini, UMKM mendapatkan pembinaan mulai dari manajemen bisnis, legalitas, hingga akses pasar.
Riki menilai Kepri memiliki posisi strategis karena berdekatan dengan dua negara pusat perdagangan Asia, yakni Singapura dan Malaysia. Hal ini menjadi alasan utama mengapa dinas menargetkan pembinaan UMKM tidak hanya untuk level provinsi, tetapi juga menuju pasar internasional.
“Kami perlu menggandeng UMKM yang memiliki visi kolaborasi dan siap melangkah bersama mitra luar negeri,” ujarnya. Terlebih, karakter geografis Kepri mendukung terjadinya interaksi perdagangan lintas negara.
Ia menegaskan bahwa forum ini tidak dirancang sebagai agenda seremonial semata. Fokusnya adalah menciptakan kesepakatan bisnis yang nyata dan memberikan keuntungan langsung bagi pelaku usaha kecil.
Dinas Koperasi dan UKM memastikan akan menindaklanjuti setiap peluang kerja sama yang muncul selama forum berlangsung. Langkah ini menjadi bagian dari reformasi pembinaan UMKM Kepri agar semakin profesional dan kompetitif.
Dengan hadirnya ASEAN Business Forum 2025, Dinas Koperasi dan UKM Kepri berharap pelaku UMKM dapat memahami pentingnya kolaborasi dan kesiapan bersaing di pasar global. Forum ini menjadi tonggak baru dalam perjalanan UMKM Kepri menuju level internasional. (*)








