RiauKepri.com, SIAK– Ada kenangan dan kehangatan yang terekam di rumah dinas Bupati Siak, Senin (24/11/2025) itu. Di antara aroma hidangan siang dan kursi-kursi yang tersusun rapi, terselip sesuatu yang jauh lebih akrab, pertemuan seorang murid yang kembali kepada para guru yang membesarkan jiwanya.
Dr. Afni Zulkifli, kini Bupati Siak, hari itu memberanikan diri membuka sebuah rahasia yang ia simpan selama 22 tahun. Kepada Bu Ros, wali kelas III IPA 1, sosok yang pernah ia takuti dan hormati dalam waktu bersamaan, Afni mengaku bahwa dulu ia tidak menyukai pelajaran Fisika. Lebih dari itu, ia pernah menyontek.
Pengakuan itu jatuh pelan, namun cukup untuk membuat ruang pertemuan seolah menahan napas terpana dan tersenging (ketawa kecil tanpa suara).
Bu Ros merespons pengakuan itu dengan senyum yang sama seperti puluhan tahun lalu, senyum seorang perempuan yang telah puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk membentuk manusia.
“Ya, Afni memang murid saya yang tidak terlalu pintar,” ujarnya lugas dan Afni tersenging.
“Tapi dia (Afni) pribadi yang bertanggung jawab,” sambung Bu Ros.
Kalimat sederhana itu terasa seperti pintu masa lalu yang terbuka kembali. Ada kejujuran yang tidak menyakiti, ada kasih yang tidak perlu dijelaskan. Afni mengangguk, menahan getar di dadanya.
Momen serupa terjadi saat ia bertemu Bu Des, wali kelas kelas I SMA sekaligus guru Kesenian. Dengan kejujuran yang sama, Bu Des berkata bahwa Afni memang tidak terlalu menonjol dalam seni. Namun ia masih mengingat jelas bagaimana Afni selalu dipercaya mengisi kultum setiap Jumat.
Ingatan itu, meski kecil, terasa seperti hadiah yang dititipkan seorang guru kepada muridnya.
Selain guru-guru SMA, Afni mengunjungi rumah para pengajarnya sejak tingkat TK hingga SMA. Di beberapa rumah, ia hanya menemukan keluarga yang menyambut dengan cerita, untuk guru-guru yang telah tiada, ia menghadiahkan Al-Fatihah dengan suara hati yang lirih.
Dalam kesempatan itu, Afni juga menyampaikan doa dan terima kasih kepada para pendidik yang menuntunnya di TK Bina Kasih Siak, SDN 002 Siak, MTS Pondok Pesantren Dar El Hikmah, SMAN 1 Siak, serta para dosen di Universitas Islam Malang, Universitas Riau, dan Universitas Pasundan Bandung.
Di hadapan para guru yang membesarkannya, Afni seolah kembali menjadi siswa yang sama, yang pernah tersesat dalam rumus-rumus Fisika, yang tidak pandai menggambar, tapi selalu mencoba menjadi anak baik.
Besok, Afni akan memimpin Upacara Peringatan Hari Guru tingkat Kabupaten Siak. Namun bagi dirinya, penghormatan sesungguhnya sudah berlangsung hari ini, ketika ia pulang sebagai murid, dan disambut sebagai anak oleh guru-gurunya.
Di balik jabatan, gelar, dan perjalanan panjangnya, Afni kembali diingatkan satu hal, bahwa seorang murid akan selamanya menjadi murid di mata gurunya. (RK1)







